jatimnow.com - Universitas Surabaya (Ubaya) mengukuhkan 10 guru besar baru untuk memperkuat riset dan inovasi yang berdampak bagi masyarakat. Penambahan profesor tersebut diharapkan mendorong lahirnya penelitian terapan, kolaborasi industri, hingga solusi konkret di bidang hukum, kesehatan, teknologi, dan ekonomi.
Pengukuhan guru besar Ubaya berlangsung dalam rapat senat terbuka di Kampus Ubaya Tenggilis, Selasa (3/3/2026). Dengan tambahan tersebut, total profesor aktif di Ubaya kini mencapai 36 orang.
Rektor Universitas Surabaya, Benny Lianto, menyebut pengangkatan itu bukan sekadar capaian personal, melainkan penguatan kapasitas institusi menjelang usia ke-58 tahun pada 11 Maret mendatang.
Baca juga: Waspada! Konsumsi Gorengan saat Puasa Bisa Gagalkan Kerja Obat, Ini Kata Ahli
“Semakin banyak guru besar, semakin kuat kepemimpinan ilmiah, kolaborasi riset, serta hilirisasi inovasi. Kami berharap kehadiran mereka melahirkan penelitian unggul, memperluas kerja sama industri, dan menghadirkan solusi yang berdampak bagi bangsa,” ujar Benny.
Sepuluh profesor yang dikukuhkan berasal dari berbagai disiplin. Dari Fakultas Hukum, Prof. Dr. Go Lisanawati mengangkat isu penguatan rezim anti pencucian uang dan pendanaan terorisme.
Bidang farmasi mendominasi dengan riset karakterisasi herbal berbasis sains dan kecerdasan artifisial, terapi asma yang lebih personal, hingga peringatan resistensi antibiotik dalam biomedis klinis serta pengembangan fitofarmaka berbasis penanda kimia.
Di sektor ekonomi dan bisnis, riset akuntansi berbasis pasar serta pengelolaan keuangan berkelanjutan bagi perguruan tinggi turut mendapat sorotan.
Baca juga: Gen Z Ogah Jadi Bos, Perusahaan Terancam Krisis Kepemimpinan
Sementara dari Fakultas Teknik dan Teknobiologi, pembelajaran mesin, adopsi teknologi pendidikan berbasis generative AI, serta biomarker prediktif berbasis metilasi DNA memperlihatkan arah pengembangan sains yang relevan dengan kebutuhan masa depan.
Kepala Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi Wilayah VII, Prof. Dr. Dyah Sawitri, berharap para profesor baru berperan sebagai agen perubahan di tengah tantangan global.
“Profesor harus membawa nilai tambah dan berdampak bagi masyarakat, bangsa, dan negara. Daya saing riset dan pelaksanaan Tri Dharma perlu terus ditingkatkan agar perguruan tinggi tidak hanya unggul dalam penelitian, tetapi juga pendidikan dan pengabdian,” katanya.
Baca juga: Mahasiswa Ubaya Rancang Boneka Edukasi Seksual Interaktif
Penguatan jumlah profesor memberi ruang lebih besar bagi mahasiswa dan peneliti muda untuk terlibat dalam riset strategis.
Dampaknya tak berhenti di ruang kuliah. Inovasi yang lahir dari laboratorium berpotensi menjawab persoalan riil, mulai dari kesehatan masyarakat, tata kelola keuangan, hingga transformasi digital pendidikan.
Ubaya menargetkan kolaborasi riset yang lebih luas dengan industri dan lembaga internasional. Dengan 36 profesor aktif, kampus tersebut menegaskan komitmen membangun ekosistem akademik yang produktif sekaligus relevan bagi kebutuhan Indonesia ke depan.