Badai Turnover Karyawan F&B, Apkrindo Jatim Gandeng ARETE Garap Standarisasi SDM

Senin, 09 Mar 2026 21:47 WIB
Reporter :
Ali Masduki
Founder ARETE & Krama Professional Pathway, Peggy Putri, menandatangi kerjasama dengan Ketua Apkrindo DPD Jawa Timur, Ferry Setiawan, Senin (09/3/2026). (Foto: Ali Masduki/jatimnow.com)

jatimnow.com - Pesatnya pertumbuhan restoran dan kafe di Surabaya belum berbanding lurus dengan kualitas mentalitas pelayanan pekerja.

Menanggapi fenomena ini, Pemerintah Kota Surabaya menggandeng Asosiasi Pengusaha Kafe dan Restoran Indonesia (Apkrindo) Jawa Timur dan ARETE Center of Excellence untuk memberlakukan standarisasi kompetensi hospitality bagi tenaga kerja lokal.

Langkah tersebut diambil menyusul tingginya angka turnover karyawan yang dipicu oleh ketidaksiapan mental dan minimnya etika profesi di lapangan.

Kepala Dinas Perindustrian dan Tenaga Kerja Kota Surabaya, Agus Hebi Djuniantoro, mengungkapkan bahwa banyak pengusaha kuliner mengeluh sulit menemukan staf yang memiliki kombinasi antara keterampilan teknis dan sikap melayani yang tulus.

"Izin restoran yang masuk sangat banyak, tapi industri kesulitan mencari pekerja yang punya hospitality. Kita punya skill teknis, tapi attitude itu yang belum merata. ARETE hadir memberikan solusi untuk melatih warga Surabaya agar performa mereka sesuai ekspektasi industri," ujar Hebi saat peresmian ARETE Center of Excellence di Surabaya, Senin (09/3/2026).

Hebi juga meluruskan persepsi keliru yang menganggap pekerja pelayanan sebagai kelas bawah. Ia menegaskan, dalam Undang-Undang Ketenagakerjaan, posisi pengusaha dan pekerja adalah setara.

"Bukan 'jongos' dan bukan juga prinsip pembeli adalah raja yang absolut. Ini tentang profesionalisme. Meski suasana hati sedang buruk, saat bekerja harus mampu memberikan kenyamanan dengan hati. Itu kuncinya," imbuhnya.

Ketua Apkrindo Jatim, Ferry Setiawan H.C., mengakui bahwa salah satu indikator kegagalan pemenuhan standar di industri saat ini adalah tingginya angka karyawan yang keluar-masuk (turnover).

\

Menurutnya, kolaborasi dengan pusat pelatihan seperti ARETE akan menutup celah kosong (blind spot) yang selama ini diabaikan dalam rekrutmen konvensional.

"Banyak yang daftar, dipanggil, lalu hilang. Atau sudah kerja tapi tidak kuat dengan tekanan KPI. Lewat edukasi di ARETE, kami ingin lulusan yang dihasilkan benar-benar siap diterjunkan ke industri tanpa harus mulai dari nol lagi soal karakter," kata Ferry.

Sementara Founder ARETE & Krama Professional Pathway, Peggy Putri, menjelaskan bahwa pelatihan yang diberikan tidak hanya menyasar lulusan baru (SMK/Vokasi), tetapi juga level manajerial.

Kurikulum yang disusun mengacu pada standar global ASEAN dan SKKNI (Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia).

"Untuk level praktisi, pematangan hanya butuh waktu dua hari karena fokus kita adalah melatih, bukan lagi mengajar teori dasar. Kami mengasah service attitude dan kemampuan menjual. Sementara untuk level manajer, ada klasifikasi ketat terkait rekam jejak dan pencapaian sebelum mereka bisa memegang sertifikat," jelas Peggy.

Saat ini, kelas pelatihan dibatasi maksimal 20-30 peserta guna menjaga kualitas praktik. Ke depan, Pemkot Surabaya berencana memperluas kewajiban sertifikasi ini hingga ke level pedagang kaki lima (PKL) dan jasa transportasi umum seperti becak, demi menjamin keamanan dan kenyamanan konsumen secara menyeluruh.

Ikuti perkembangan berita terkini Jawa Timur dan sekitarya di Aplikasi jatimnow.com!
Berita Surabaya

Berita Terbaru
Tretan JatimNow

Terpopuler