Profesor ITS Kembangkan Bakteri untuk Pulihkan Lingkungan Tercemar

Senin, 20 Jul 2026 15:10 WIB
Reporter :
Ali Masduki
Prof Ipung Fitri Purwanti, menjelaskan mengenai bioremediasi bakteri sebagai metode pemulihan lingkungan yang tercemar. (Foto: Humas ITS for jatimnow.com).

jatimnow.com - Upaya pemulihan lingkungan tercemar mendapat terobosan baru dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS).

Guru Besar Departemen Teknik Lingkungan ITS, Profesor Ipung Fitri Purwanti, mengembangkan teknologi bioremediasi berbasis bakteri yang mampu mengurai berbagai jenis pencemar pada tanah, air, hingga berpotensi diterapkan untuk mengatasi pencemaran logam berat.

Selama lebih dari 20 tahun meneliti bidang remediasi lingkungan, Prof. Ipung memfokuskan risetnya pada pemanfaatan mikroorganisme sebagai agen alami untuk mengembalikan kualitas lingkungan.

Baca juga: Sapuangin Speed 8 ITS Siap Tampil di Formula SAE Japan 2026

Teknologi yang dikembangkan memanfaatkan bakteri yang telah beradaptasi di lokasi tercemar sehingga dinilai lebih efektif dalam menguraikan polutan.

"Proses ini lebih efektif karena memanfaatkan mikroorganisme yang telah beradaptasi dengan lingkungan tercemar," ujar Prof. Ipung.

Penelitian diawali dengan mengisolasi bakteri yang hidup secara alami di kawasan tercemar. Mikroorganisme tersebut kemudian dikembangkan di laboratorium sebelum diaplikasikan kembali pada lokasi lain yang memiliki karakteristik pencemaran serupa.

Beberapa bakteri yang telah diteliti antara lain Bacillus cereus, Bacillus subtilis, Pseudomonas aeruginosa, dan Staphylococcus gallinarum.

Dari sejumlah mikroorganisme tersebut, Staphylococcus gallinarum menjadi temuan yang paling menonjol karena berhasil diisolasi dari tanah yang terkontaminasi limbah kerosin hasil pengolahan aspal.

Menurut Prof. Ipung, bakteri tersebut menunjukkan kemampuan bertahan hidup sekaligus mendegradasi polutan lebih baik dibandingkan beberapa jenis bakteri lainnya.

Baca juga: ITS Kenalkan Traktor Listrik Berbentuk Perahu, Hemat Biaya dan Ramah Lingkungan

Selain menguji bakteri secara tunggal, tim peneliti ITS juga mengembangkan konsorsium bakteri dengan mengombinasikan beberapa spesies untuk meningkatkan efektivitas remediasi.

\

Namun, hasil penelitian menunjukkan bahwa kombinasi bakteri tidak selalu menghasilkan kinerja yang lebih baik.

Efektivitas proses sangat dipengaruhi oleh kemampuan masing-masing mikroorganisme untuk saling bersinergi serta beradaptasi terhadap jenis polutan yang dihadapi.

Hingga kini, teknologi bioremediasi yang dikembangkan telah diuji pada skala laboratorium maupun di lapangan, termasuk di kawasan kilang minyak di Sumatera.

Baca juga: ITS Kembangkan Alat Panjat Kelapa, Petani Bisa Panen Lebih Cepat dan Aman

Pengujian tersebut menunjukkan bakteri mampu menurunkan kadar pencemar hidrokarbon pada tanah.

Tak hanya ditujukan untuk mengatasi pencemaran minyak bumi, Prof. Ipung menilai teknologi tersebut juga berpotensi dikembangkan untuk menangani pencemar anorganik seperti logam berat.

Ia berharap inovasi bioremediasi berbasis bakteri dapat menjadi solusi yang lebih ramah lingkungan dalam mengatasi pencemaran sekaligus mendukung pengelolaan lingkungan yang berkelanjutan.

Pengembangan teknologi tersebut juga sejalan dengan target Sustainable Development Goals (SDGs), terutama terkait akses air bersih dan sanitasi, penanganan perubahan iklim, serta perlindungan ekosistem daratan.

Ikuti perkembangan berita terkini Jawa Timur dan sekitarya di Aplikasi jatimnow.com!
Berita Surabaya

Berita Terbaru
Tretan JatimNow

Terpopuler