jatimnow.com - Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) mengembangkan sistem biogas komunal di Kawasan Transmigrasi Momi Waren, Papua Barat, untuk mengatasi persoalan limbah organik sekaligus keterbatasan akses energi masyarakat.
Melalui Tim Ekspedisi Patriot (TEP), ITS memanfaatkan kotoran ternak dan limbah pertanian yang selama ini belum optimal pengelolaannya menjadi biogas. Sisa pengolahan juga dapat dimanfaatkan sebagai pupuk organik bernilai ekonomi.
Program yang menjadi bagian dari inisiatif strategis Kementerian Transmigrasi RI itu berlangsung di Distrik Oransbari, Kabupaten Manokwari Selatan, Papua Barat. Tim ITS dipimpin dosen Departemen Teknik Instrumentasi, Arief Abdurrakhman.
Arief mengatakan pengembangan teknologi tersebut berangkat dari kebutuhan nyata masyarakat. Selain menghadapi persoalan pengelolaan limbah, warga Momi Waren juga mengalami keterbatasan akses terhadap sumber energi untuk kebutuhan sehari-hari.
“Jadi, kami ingin menyelesaikan permasalahan tersebut dengan mengubah limbah menjadi sumber energi dan pupuk,” kata Arief.
Tim kemudian mengembangkan biodigester anaerob komunal yang terintegrasi dengan sistem distribusi biogas, pemanfaatan energi, serta pemantauan proses. Sistem dirancang agar produksi energi dapat diukur dan dikendalikan sehingga fasilitas bisa dioperasikan secara berkelanjutan oleh masyarakat.
Mekanismenya dimulai dari pengumpulan kotoran ternak dan limbah pertanian. Bahan organik itu dicampur dengan air sebelum masuk ke reaktor untuk menjalani proses anaerob.
Dari proses tersebut dihasilkan biogas yang dialirkan melalui jaringan perpipaan untuk digunakan sebagai sumber energi. Dengan begitu, limbah yang sebelumnya berpotensi menjadi persoalan lingkungan dapat dialihkan menjadi sumber energi alternatif.
Baca juga:
Konferda GMNI Jawa Timur Serta Kerjasama Unusa dan ITS
Manfaatnya tidak berhenti pada produksi gas. Material sisa atau bio-slurry dari proses biodigester dapat diolah menjadi pupuk organik sehingga menghasilkan nilai tambah bagi sektor pertanian.
“Dengan demikian, limbah yang sebelumnya menjadi beban lingkungan mampu menjadi sumber energi dan pupuk yang memiliki manfaat ekonomi,” ujar Arief.
ITS juga menempatkan pendampingan masyarakat sebagai bagian penting dari program. Tim memberikan sosialisasi kepada perangkat desa dan masyarakat yang terlibat agar memahami pengoperasian sekaligus pemeliharaan fasilitas.
Pendekatan itu diarahkan agar warga tidak sekadar menjadi penerima teknologi. Mereka diharapkan mampu mengoperasikan, merawat, dan menjaga keberlanjutan sistem secara mandiri setelah program berjalan.
Baca juga:
Unusa dan ITS Siapkan Empat Skema Akademik untuk Mahasiswa
Arief menilai keberhasilan program tidak hanya ditentukan oleh teknologi yang dibangun, tetapi juga kemampuan masyarakat mengelola potensi lokal yang tersedia.
“Kami ingin program ini membuat potensi lokal dapat dimanfaatkan dengan optimal dan benar-benar dimiliki dan dikelola masyarakat,” tuturnya.
Dalam jangka panjang, pengembangan biogas tersebut ditargetkan menjadi model kemandirian energi sekaligus ekonomi sirkular yang bertumpu pada sumber daya lokal. Limbah peternakan dan pertanian tidak lagi dipandang sebagai material buangan, melainkan sebagai bahan baku yang dapat menghasilkan energi dan mendukung produktivitas pertanian.
Program TEP ITS di Momi Waren juga menjadi bagian dari kontribusi kampus terhadap pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), terutama SDG 7 mengenai energi bersih dan terjangkau serta SDG 11 tentang kota dan permukiman yang berkelanjutan.
URL : https://jatimnow.com/baca-87362-limbah-jadi-energi-its-kembangkan-biogas-komunal-di-papua-barat