Menakar Kepemimpinan NU Jelang Muktamar ke-35 Lewat Jejak Gus Muhaimin

Rabu, 26 Agu 2026 18:23 WIB
Reporter :
Ali Masduki
Seminar Nasional dan Bedah Buku digelar SEMA Fakultas Adab dan Humaniora UIN Sunan Ampel Surabaya (UINSA), Rabu (26/8/2026). (Foto: Humas for jatimnow.com)

jatimnow.com - Menjelang Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) ke-35 di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, dinamika kepemimpinan NU kembali menjadi sorotan. Jejak tiga ulama besar, KH Hasyim Asy’ari, KH Wahab Hasbullah, dan KH Bisri Syansuri, turut dibaca untuk melihat perjalanan kepemimpinan Gus Muhaimin Iskandar dalam konteks tradisi pesantren dan NU.

Pembahasan itu mengemuka dalam Seminar Nasional dan Bedah Buku bertajuk “Dinamika Kepemimpinan NU dari Muktamar ke Muktamar: Meneladani Jejak Ulama dan Tokoh Bangsa dalam Pemberdayaan Masyarakat” yang digelar SEMA Fakultas Adab dan Humaniora UIN Sunan Ampel Surabaya (UINSA), Rabu (26/8/2026).

Buku Gus Muhaimin Iskandar Meneladani 3 Tokoh: KH Hasyim Asy’ari, KH Wahab Hasbullah, KH Bisri Syansuri menjadi salah satu bahan diskusi untuk membaca kesinambungan nilai kepemimpinan NU dari generasi ulama pendiri menuju tokoh bangsa masa kini.

Baca juga: Jelang Muktamar ke-35 NU, Aktivis Muda Serukan Jihad Selamatkan NU

Salah satu penulis buku, Sonny Majid, mengatakan kepemimpinan tidak terbentuk secara instan. Lingkungan keluarga, pendidikan, pengalaman organisasi, tradisi intelektual, serta pengaruh tokoh sebelumnya ikut membentuk karakter seorang pemimpin.

“Realitas ini memastikan tokoh kekinian terpengaruh secara ideologis dengan tokoh sebelumnya, termasuk Gus Abdul Muhaimin Iskandar,” ujar Sonny.

Ia menjelaskan, tiga ulama yang diangkat dalam buku memiliki karakter kepemimpinan berbeda. Namun, ketiganya sama-sama berkontribusi dalam membangun tradisi keislaman, pesantren, organisasi, dan kebangsaan.

KH Hasyim Asy’ari, misalnya, dikenal melalui kekuatan ilmu, akhlak, pesantren, serta perjuangan kebangsaannya. Sementara KH Wahab Hasbullah menonjol dalam membaca perubahan zaman, membangun jaringan, dan menyusun strategi perjuangan.

Adapun KH Bisri Syansuri dikenal teguh menjaga tradisi keilmuan pesantren sekaligus mampu merespons persoalan sosial dan kebangsaan.

Menurut Sonny, ketiga karakter tersebut menjadi perspektif untuk memahami perjalanan Gus Muhaimin yang tumbuh dalam lingkungan pesantren dan tradisi NU.

Sonny juga menyoroti kedekatan Gus Muhaimin dengan KH Bisri Syansuri, bukan hanya dalam konteks nilai dan tradisi, tetapi juga hubungan keluarga.

Gus Muhaimin disebut memiliki hubungan nasab dengan KH Bisri Syansuri dan merupakan cicit salah satu pendiri NU itu.

“Gus Muhaimin lahir dari keluarga besar pesantren. Bahkan secara langsung sangat dekat nasabnya dengan Kiai Bisri Syansuri, muassis NU sekaligus Rais Aam NU setelah Kiai Wahab Hasbullah, yakni sebagai cicit,” ungkap Sonny.

Latar belakang keluarga pesantren itu, lanjut dia, menjadi salah satu konteks untuk memahami perjalanan Gus Muhaimin hingga memasuki panggung politik nasional.

Sonny mengatakan buku yang dibahas dalam seminar tidak dimaksudkan untuk mengabaikan berbagai pandangan maupun pro-kontra yang mengiringi perjalanan politik Gus Muhaimin. Fokusnya adalah membaca nilai yang dibawa, terutama berkaitan dengan masa depan pesantren dan pemberdayaan masyarakat.

Gus Muhaimin saat ini menjabat Menteri Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat dalam Kabinet Merah Putih.

Guru Besar UIN Sunan Ampel Surabaya, Prof. Muhammad Kurjum,  menilai bedah buku tersebut penting untuk menghidupkan kembali tradisi intelektual mahasiswa.

Menurutnya, membaca Gus Muhaimin melalui jejak tiga ulama besar NU juga memperlihatkan bagaimana pemikiran dan nilai kepemimpinan diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya, meski tantangan zamannya berubah.

“Ketiga tokoh tersebut memiliki karakter dan corak perjuangan yang berbeda, tetapi semuanya memberikan pelajaran penting tentang bagaimana ilmu, tradisi, kepemimpinan, dan kebangsaan dapat berjalan secara beriringan,” tuturnya.

Baca juga: Ziarah Makam Gus Dur dan KH Hasyim Asy’ari Dibuka 24 Jam Saat Muktamar NU

Ia menilai keteladanan ulama tidak cukup berhenti pada penghormatan terhadap nama besar dalam sejarah. Generasi muda perlu membaca gagasan dan nilai perjuangan para ulama secara kritis untuk diterapkan sesuai kebutuhan zaman.

\

Kurjum juga menyoroti tantangan literasi di tengah derasnya arus informasi digital. Menurut dia, persoalan generasi muda saat ini bukan semata kekurangan informasi, melainkan kemampuan memilah, memahami konteks, dan mengolah informasi menjadi pengetahuan.

“Anak muda sekarang tidak kekurangan informasi. Tantangannya justru bagaimana mereka mampu memilih informasi yang benar, memahami konteksnya, dan mengolahnya menjadi pengetahuan,” katanya.

Ia mendorong budaya membaca berkembang menjadi kebiasaan berdiskusi, menulis, dan melahirkan gagasan.

“Dari membaca akan tumbuh pemahaman. Dari pemahaman akan lahir pemikiran. Dan dari pemikiran yang matang akan muncul gagasan-gagasan yang dapat memberikan manfaat bagi masyarakat,” tegas Kurjum.

Guru Besar UIN Sunan Ampel sekaligus Plt. Dekan Fakultas Adab dan Humaniora, Prof. Mohamad Zaini,  melihat dinamika kepemimpinan NU tidak bisa dilepaskan dari sejarah panjang Indonesia.

Menurut Zaini, NU mengalami perubahan dan adaptasi sepanjang perjalanan organisasi. Pandangan lama yang menempatkan NU sebagai organisasi yang tidak dinamis, kata dia, tidak cukup untuk menggambarkan perkembangan NU dari masa ke masa.

Ia menyinggung kajian Mitsuo Nakamura tentang Islam Indonesia yang turut memperlihatkan perubahan cara pandang terhadap NU.

Zaini mengatakan NU terus berkelindan dengan dinamika kebangsaan dan politik, mulai dari masa pergerakan nasional, kemerdekaan, hingga era politik elektoral.

Baca juga: Aturan Muktamar NU Disebut Bisa Mengubah Bursa Calon Ketum PBNU

“Dalam sejarah bangsa ini NU selalu menjadi magnet bagi elite bangsa ini, karena NU merupakan backbone bangsa ini,” ucapnya.

Karena itu, pembahasan mengenai kepemimpinan NU dari satu muktamar ke muktamar berikutnya dinilai penting, terutama menjelang Muktamar NU ke-35 di Tambakberas, Jombang.

“Forum ini penting bagi siapapun, termasuk akademisi, dalam memahami perkembangan NU dari muktamar ke muktamar. Bahkan semakin menarik apalagi dibahas jelang Muktamar NU ke-35 di Jombang,” kata Zaini.

Seminar dan bedah buku itu diikuti mahasiswa, aktivis organisasi ekstra kampus, serta aktivis kepemudaan di Surabaya. Forum tersebut mempertemukan pembahasan sejarah NU, keteladanan ulama, perjalanan tokoh bangsa, tradisi pesantren, dan agenda pemberdayaan masyarakat.

Menjelang Muktamar NU ke-35, pembacaan terhadap sejarah kepemimpinan NU menjadi semakin relevan. Perjalanan organisasi menunjukkan adanya upaya beradaptasi dengan perubahan zaman tanpa sepenuhnya meninggalkan akar tradisi.

Dalam perspektif itu, membaca perjalanan Gus Muhaimin melalui jejak KH Hasyim Asy’ari, KH Wahab Hasbullah, dan KH Bisri Syansuri tidak berhenti pada sosok seorang politisi.

Pembacaan itu juga membuka ruang untuk melihat bagaimana nilai pesantren, tradisi NU, pengalaman organisasi, keteladanan ulama, serta gagasan pemberdayaan masyarakat diteruskan dan diterjemahkan dalam konteks Indonesia modern.

Bagi generasi muda, kepemimpinan pada akhirnya tidak cukup diukur dari popularitas atau jabatan. Ia membutuhkan proses, pengetahuan, pengalaman, akar sejarah, integritas, serta kemampuan membaca perubahan zaman.

Ikuti perkembangan berita terkini Jawa Timur dan sekitarya di Aplikasi jatimnow.com!
Berita Surabaya

Berita Terbaru
Tretan JatimNow

Terpopuler