Jejak Teladan KH Miftachul Akhyar, Sosok Khusuk Penjaga Obor Tradisi NU

Jumat, 28 Agu 2026 13:05 WIB
Reporter :
jatimnow.com
KH Miftachul Akhyar (tengah) saat pembukaam Muktamar NU di Tambakberas, Jombang (foto: Amr for jatimnow.com)

jatimnow.com – Di tengah riuh bursa pemilihan Rais Aam PBNU yang sarat isu dan tarik-menarik kepentingan, nama KH Miftachul Akhyar kembali mencuat sebagai figur penjaga marwah Syuriyah. 

Pengasuh Pondok Pesantren Miftachus Sunnah Surabaya itu dinilai tepat melanjutkan tradisi ulama di abad kedua NU, menjaga otoritas keilmuan di tengah derasnya arus politik praktis.

Sanad keilmuannya terbangun sejak usia delapan tahun di Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, lalu menimba ilmu di Rejoso (Darul Ulum), Sidogiri, Al-Islah Soditan Lasem, hingga majelis Sayyid Muhammad bin Alawi Al-Maliki. 

Baca juga: Cak Imin Maju Ketum PBNU?

Integritasnya teruji ketika tahun 2022 ia memilih mundur dari jabatan Ketua Umum MUI demi berkhidmah penuh di NU, menolak rangkap jabatan sebagai bentuk komitmen menjaga amanah.

Peran pentingnya tampak ketika NU menghadapi dinamika kepemimpinan. KH Miftachul Akhyar menegaskan otoritas Syuriyah, keputusan yang didukung 36 pengurus wilayah dan berujung pada percepatan Muktamar yang berlangsung tertib. 

Ia juga menjadi perekat, memimpin istighosah ribuan nahdliyin menjelang forum tertinggi organisasi itu.

Obor tradisi kembali ia nyalakan saat membuka Muktamar ke-35 di Tambakberas, pesantren muassis KH Abdul Wahab Hasbullah. 

Baca juga: TGH Ma’arif Makmun Ungkap Deretan Kiai Khos Paling Layak Jadi Anggota AHWA

Melalui Khutbah Iftitah berbahasa Arab, ia mengungkapkan tiga kegembiraan, kelahiran Nabi Muhammad SAW, 81 tahun kemerdekaan Indonesia, dan terselenggaranya Muktamar. 

\

Ia mengingatkan bahwa fitnah adalah bercampurnya kebenaran dan kebatilan, pesan yang relevan di tengah dinamika organisasi. Dukungan terhadap kelanjutan khidmahnya pun mengemuka dari daerah. 

Rais Syuriyah PCNU Kabupaten Batu Bara, M. Ridwan Butar-Butar, menyatakan harapan agar KH Miftachul Akhyar kembali menjadi Rais Aam PBNU. 

"Beliau memiliki kapasitas keulamaan dan pengalaman yang sangat dibutuhkan untuk menjaga arah perjuangan NU,” ujarnya, Jumat (28/8/2026).

Baca juga: Gus Kikin Dinilai Kompeten Jadi Ketum PBNU: Sosoknya Teduh dan Tidak Gaduh

Ia menegaskan kepemimpinan PBNU harus mampu menjaga persatuan dan marwah organisasi.

Pengabdian KH Miftachul Akhyar juga diakui negara. Pada 2025, ia menerima Bintang Mahaputera Utama dari Presiden sebagai penghargaan atas kiprahnya. 

Di abad kedua NU, obor tradisi yang ia jaga diharapkan terus menyala, dengan Muktamirin memilih Rais Aam yang merdeka dari kepentingan politik praktis dan berpegang teguh pada khittah.

Ikuti perkembangan berita terkini Jawa Timur dan sekitarya di Aplikasi jatimnow.com!
Berita Jombang

Berita Terbaru
Tretan JatimNow

Terpopuler