jatimnow.com - Rais Syuriah PCNU Lombok Tengah, TGH Ma’arif Makmun, menilai Ahlul Halli wal Aqdi (AHWA) ideal dalam struktur kepemimpinan Nahdlatul Ulama (NU) harus diisi ulama yang memiliki kualitas keilmuan, kesalehan, kewaraan, serta ketajaman dalam membaca kebutuhan kepemimpinan organisasi.
Pandangan tersebut disampaikan TGH Ma’arif saat menjadi narasumber dalam talkshow Mimbar Muktamar NU yang digelar Suluh Nahdliyin bekerja sama dengan Gerakan Nahdliyin Bersatu dan Padasuka TV di Ponpes Al Maliki 2 Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang, Jumat (28/8/2026).
TGH Ma’arif pun membeberkan sejumlah nama ulama yang menurutnya dapat menjadi gambaran figur ideal untuk mengisi representasi ulama dalam AHWA. Di antaranya KH Said Aqil Siroj, KH Nurul Huda Jazuli, KH Asep, serta pakar ushul fikih KH Afifuddin Muhajir.
Ia juga menyinggung adanya ulama dari Aceh yang dinilainya memiliki kapasitas untuk menjadi bagian dari representasi ulama dalam AHWA.
“Kiai Said Aqil Siroj, Kiai Nurul Huda Jazuli, kesalehan, keilmuannya dan kewaraannya tidak diragukan lagi. Ada juga KH Asep. Beliau itu membentuk Pergunu tanpa peran PBNU. Lalu ada juga ahli ushul fikih, KH Afifuddin Muhajir, ada juga dari Aceh,” ujarnya.
Menurut TGH Ma’arif, proses penentuan anggota AHWA tidak boleh dilakukan secara sembarangan. Sebab, forum tersebut memiliki posisi strategis, bukan hanya dalam menentukan Rais Aam, tetapi juga dalam membaca dan menentukan kebutuhan kepemimpinan NU ke depan.
Baca juga:
Gus Kikin Dinilai Kompeten Jadi Ketum PBNU: Sosoknya Teduh dan Tidak Gaduh
“Jangan sampai kita salah pilih AHWA. AHWA kan melihat siapa ulama yang layak duduk di Rais Syuriah (Rais Aam). Ketiga, memiliki kejelian mencari sosok pemimpin. La ya’riful wali illal wali,” katanya.
Ia menegaskan, kapasitas keilmuan dan integritas moral menjadi bagian penting dalam menentukan siapa yang layak berada dalam AHWA. Para ulama yang terpilih, lanjutnya, harus mampu melihat kebutuhan NU secara lebih luas dan menemukan sosok pemimpin yang tepat.
Lebih jauh, TGH Ma’arif menilai NU membutuhkan sosok pembaru yang mampu membaca perubahan zaman tanpa meninggalkan akar tradisi keilmuan Islam.
Baca juga:
Dinamika Muktamar, Nasarudin Umar Disebut Mundur dari Menag RI, Ini Faktanya
Ia mengibaratkan kebutuhan tersebut dengan tradisi hadirnya para mujaddid dalam sejarah Islam. Menurutnya, sejumlah ulama seperti Imam Ahmad bin Hanbal dan Imam Suyuthi merupakan contoh figur yang berperan dalam pembaruan sekaligus menjaga kesinambungan tradisi keislaman.
“Di Islam ada mujaddid Islam, ada Imam Ahmad bin Hanbal, ada Imam Suyuthi dan lainnya. Karena itu di NU juga perlu mujaddid, dan itu ada di sosok-sosok AHWA,” katanya.
TGH Ma’arif meyakini proses Muktamar NU nantinya akan melahirkan sosok-sosok yang mampu menjalankan peran tersebut. Namun, ia belum dapat memastikan siapa figur yang dimaksud. “Saya yakin nanti akan muncul, tapi siapa? Wallahu a’lam,” pungkasnya.