Ansor Jatim Temukan Inovasi Pertanian Berbasis Limbah di Ponorogo
Peristiwa 4 jam yang lalujatimnow.com - Pimpinan Wilayah Gerakan Pemuda Ansor (PW GP Ansor) Jawa Timur mulai menilai sejumlah desa yang masuk nominasi Agro Innovation Award 2026.
Penilaian lapangan perdana dilakukan di Kabupaten Ponorogo, Senin (17/8/2026), bertepatan dengan HUT ke-81 Kemerdekaan RI. Tim mengunjungi Desa Krisik, Kecamatan Pudak, dan Desa Mrican, Kecamatan Jenangan.
Agro Innovation Award menjadi salah satu program PW GP Ansor Jatim untuk mendorong kader yang menjadi kepala desa menghadirkan inovasi di bidang pertanian, ketahanan pangan, lingkungan, dan penguatan ekonomi warga.
Ketua PW GP Ansor Jatim, H. Musaffa Safril, mengatakan penghargaan itu bukan sekadar kompetisi untuk mencari pemenang.
Menurutnya, program tersebut juga menjadi upaya untuk menemukan inovasi yang lahir dari desa, mendokumentasikannya, kemudian mendorong penerapannya di daerah lain.
“Kemerdekaan harus kita maknai dengan menghadirkan kemandirian. Desa tidak boleh hanya menjadi objek pembangunan, tetapi harus menjadi pusat lahirnya inovasi, ketahanan pangan, dan kekuatan ekonomi masyarakat,” kata Musaffa.
Desa Krisik menjadi lokasi pertama yang didatangi tim penilai. Desa tersebut dipimpin Erwan Santoso, kader Ansor yang juga menjabat Satkoryon Banser Kecamatan Pudak.
Erwan masuk nominasi kategori Inovasi Pertanian Terintegrasi dan Ekonomi Sirkular melalui program budidaya cacing untuk mengelola limbah peternakan dan mendukung pertanian organik.
Limbah peternakan yang sebelumnya berpotensi menjadi persoalan lingkungan dimanfaatkan dalam sistem budidaya cacing. Hasil pengolahan kemudian mendukung pengembangan pertanian organik di desa.
Konsep itu menggabungkan peternakan, pengelolaan limbah, budidaya cacing, dan pertanian dalam satu sistem yang saling berkaitan.
Dari Desa Krisik, tim melanjutkan penilaian ke Desa Mrican, Kecamatan Jenangan.
Kepala Desa Mrican, Adi Purnomo Sidik, masuk nominasi lewat inovasi pemanfaatan lindi sampah dan limbah organik menjadi pupuk organik cair.
Inovasi tersebut memanfaatkan limbah rumah tangga dan sampah organik untuk menghasilkan pupuk yang dapat digunakan dalam kegiatan pertanian masyarakat.
Pengolahan limbah juga dinilai memiliki potensi ekonomi karena mengubah material yang sebelumnya dibuang menjadi produk yang memiliki nilai guna.
Ketua Bidang Pertanian dan Perkebunan PW GP Ansor Jatim sekaligus Kasatgas Patriot Ketahanan Pangan Ansor Jatim, H. Deni Prasetya, mengatakan penilaian lapangan akan berlanjut ke sejumlah daerah.
Deni bersama H. Nur Junaidi Amin memimpin tim untuk melihat langsung penerapan inovasi yang dikembangkan para kepala desa.
“Kami tidak hanya melihat proposal atau konsep di atas kertas. Kami ingin melihat langsung bagaimana inovasi tersebut berjalan, seberapa besar manfaatnya bagi masyarakat, keberlanjutannya, serta kemungkinan untuk direplikasi di desa-desa lain,” ujarnya.
Dia berharap ajang tersebut bisa menjadi sarana bagi kader Ansor untuk saling belajar dan memperluas praktik baik dalam pembangunan desa.
“Dari desa-desa inilah kita ingin menemukan model pertanian yang produktif, berkelanjutan, ramah lingkungan, sekaligus mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” tambahnya.
Setelah seluruh tahapan penilaian dan penjurian selesai, PW GP Ansor Jatim akan memilih kepala desa dengan inovasi terbaik.
Para pemenang nantinya mendapat kesempatan mengikuti kunjungan studi pertanian ke China pada September 2026 secara gratis.
Kunjungan tersebut diharapkan memberikan pengalaman langsung mengenai teknologi pertanian, inovasi pangan, dan pengembangan ekonomi pedesaan.
Musaffa mengatakan pengalaman yang diperoleh dari program itu diharapkan dapat dibawa pulang dan dikembangkan sesuai kebutuhan masing-masing desa.
“Hadiah terbaik dari kompetisi ini bukan hanya penghargaan. Yang lebih penting adalah membuka cakrawala para kepala desa agar melihat bahwa inovasi pertanian dan ketahanan pangan harus terus berkembang. Kita ingin kader Ansor menjadi bagian dari perubahan itu,” pungkasnya.