Kakak Whisnu Sakti Bongkar Dugaan Skenario Risma Kuasai PDIP

Minggu, 22 Nov 2020 14:04 WIB
Reporter :
Jajeli Rois
Kakak kandung Whisnu Sakti Buana, Jagad Hariseno

jatimnow.com - Kekuatan politik Tri Rismaharini (Risma) disebut sudah dipersiapkan sejak jauh hari. Dugaan ini dibeberkan putra pertama mantan Sekjen PDI Perjuangan (PDIP) almarhum Ir Soetjipto (Pak Tjip), Jagad Hariseno.

Menurut Seno, tidak menutup kemungkinan Risma sudah membangun kekuatan politik sejak saat ini dengan target suksesi kepemimpinan pada Kongres PDIP 2024 mendatang.

Menurut kakak kandung Wakil Wali Kota Surabaya Whisnu Sakti Buana ini, Kongres PDIP 2024 merupakan titik penting dalam sejarah partai.

Baca juga: Risma Disebut Main Ala Drama Korea dan Pura-pura Jadi Korban Terzalimi

"Ada kemungkinan suksesi kepemimpinan Ibu Megawati Soekarnoputri selaku ketua umum partai (PDIP)," jelas Seno dalam sebuah audio yang diterima dan dilihat jatimnow.com, Minggu (22/11/2020).

Hal itu, lanjut Seno, bisa menjadi 'ancaman' bagi PDIP. Seno pun perlu membongkar dugaan skenario yang dianggapnya sebagai upaya 'kudeta merayap', seperti disampaikannya dalam sebuah rekaman audio berdurasi 18 menit.

Berikut isi rekaman audio Seno tersebut:

Kongres PDI Perjuangan ke depan Tahun 2024, merupakan titik penting dalam sejarah PDI Perjuangan. Karena ada kemungkinan ada suksesi kepemimpinan Ibu Megawati Soekarnoputri selaku ketua umum partai.

Faktor usia menjadi utama dalam suksesi tersebut. Ya, tentunya akan menjadi terjadi pertarungan kekuatan oleh faksi-faksi di dalam tubuh partai.

Yang intinya membuka peluang lebar untuk mengambil posisi kepemimpinan partai. Surabaya merupakan basis terbesar PDI Perjuangan Jawa Timur dan Barometer politik nasional, yang saat ini tengah digelar prosesi pemilihan kepala daerah yang menjadi bagian dari Pilkada Serentak Nasional 2020.

Ajang perebutan kekuasan politik di tingkat kota, menjadi sumber kekuatan. Serta anchor basis bagi kepentingan partai politik, khususnya PDI Perjuangan Surabaya.

Wali Kota Risma adalah sebuah fenomena. Karena muncul dari birokrasi level kepala dinas yang kemudian melesat dengan program taman kota, dengan memanfaatkan momentum kekuatan program dan basis PDI Perjuangan Surabaya yang dimulai oleh Ir Soetjipto dengan gerakan Posko Pandegiling dan kemudian melahirkan Wali Kota Bambang DH selama dua periode.

Risma berhasil membangun pencitraan politik yang cukup kuat di tingkat nasional. Sekaligus berhasil menggeser citra PDI Perjuangan Surabaya ke nomor dua setelah citra Risma.

Di mana PDI perjuangan sebelumnya menjadi ikon Surabaya, sejak Bambang DH menjabat. Konflik kepentingan internal pun muncul dengan partai yang selalu menjadi pengusungnya.

Tetapi berhasil diredam cukup baik dari Wakil Wali Kota Whisnu Sakti Buana (WS) yang berhasil menguatkan posisi di pencitraan Risma.

Meskipun demikian, mesin partai semakin solid dan kuat. Terbukti dengan meningkatnya perolehan kursi dari 8 menjadi 15 dalam Pileg 2014 kemarin, di bawah kepemimpinan WS sebagai ketua DPC PDI Perjuangan Surabaya.

Modal pencitraan ini dimanfaatkan oleh Risma untuk menjalin komunikasi dengan Sekjen DPP PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto dan Ibu Ketua Umum Megawati Soekarnoputri.

Baca juga: Kakak Whisnu Sebut Risma Pemecah Belah PDIP Surabaya

Yang diawali dengan menjadi anggota PDI Perjuangan dengan KTA (kartu tanda anggota) terbuka dengan berhasil menjadi kader di tingkat DPP.

\

Adi Sutarwijono atau Awi behasil menjalin komunikasi intensif dengan Risma. Yang juga mandegani proses Risma ber-KTA.

Dengan memanfaatkan posisi Risma di DPP dan kedekatan dengan Bambang DH yang saat itu menjadi Ketua Bappilu DPP PDI Perjuangan untuk menggeser Whisnu dan berhasil menempatkan dirinya menjadi ketua DPC yang baru.

Di bawah bayang-bayang Risma. Di sinilah terlihat bukti bahwa Whisnu menjadi ganjalan Risma. Bahwa semua lingkar terdekat Whisnu di jajaran partai, diberangus.

Dan hanya mengakomodir siapa-siapa yang nurut ke Risma. Ia dengan posisinya di DPP dan Awi di DPC melakukan gerakan untuk memunculkan siapa penerus Risma. Tentunya dengan dasar pencitraan politik Risma di Pilwali Surabaya 2020.

Dan berhasil menorehkan rekomendasi Ibu Ketua Umum kepada Eri Cahyadi-Armudji sebagai penerus Risma. Meskipun secara elektoral keduanya bukan kandidat kuat. Tapi sangat patuh ke Risma.

Fuad benardi putra Risma berhasil menjadi Ketua Karang Taruna Surabaya di era kepemimpinan Risma dan tiba-tiba punya akses cukup kuat di birokrasi Pemkot Surabaya.

Nama Fuad yang juga muncul di tengah prosesi rekom cawali selanjutnya membangun dukungan ke Eri Cahyadi-Armudji melalui gerakan relawan yang bertumpu pada basis Kartar (Karang Taruna) Surabaya.

Baca juga: Dikabarkan Dipecat PDIP, Kakak Whisnu Sakti: Saya Tetap Melawan Risma

Gerakan relawan Fuad ini dicitrakan sebagai mesin utama untuk menggalang suara bagi Eri Cahyadi-Armudji dan diamini oleh Ketua DPC PDI Perjuangan Surabaya, Awi.

Mesin relawan yang dibangun oleh Fuad didesain identik dengan struktur partai. Minimal ditingkat PAC atau kecamatan dan ranting atau kelurahan, seolah-olah dipersiapkan betul untuk mengganti struktur partai bagaikan 'kudeta merayap'.

Selama masa jabatannya Risma berhasil membangun hubungan simbiosis dengan sejumlah pengusaha besar yang menjadi kekuatan kapital untuk membangun kekuasan.

Oligarki ini berhasil menancapkan kukunya selama dua periode, dengan berlindung di balik pencitraan Risma. Risma berharap Eri Cahyadi-Armudji menang di Pilwali Surabaya, dengan begitu Risma mempunya empat pilar kokoh.

Pilar pertama, Eri sebagai wali kota yang akan menjalankan semua kepentingan Risma. Pilar kedua, Awi sebagai Ketua DPRD sekaligus Ketua DPC yang siap merangsek ke jenjang lebih tinggi.

Pilar ketiga Fuad, yang menguasai mesin relawan dan siap mengakuisisi kekuatan struktural mulai ranting hingga PAC dan menjadi kandidat kuat sebagai Ketua DPC menggantikan Awi.

Pilar keempat, kapital besar yang menjadi kekuatan oligarki Risma. Bermodal empat pilar ini Risma akan mengambil alih kekuasaan politik PDI Perjuangan di Surabaya secara de facto.

Dan berpotensi untuk membangun kekuatan faksi non ideologis serta selanjutnya untuk ikut suksesi kongres Tahun 2024 mendatang dengan menghilangkan sejarah partai atau dihapus dengan cerita sejarah baru. Yaitu cerita sejarah politik Risma.

Ikuti perkembangan berita terkini Jawa Timur dan sekitarya di Aplikasi jatimnow.com!
Berita Surabaya

Berita Terbaru
Tretan JatimNow

Terpopuler