Mengenal Garda Pangan, Komunitas Gerakan Food Bank di Surabaya

Selasa, 23 Nov 2021 16:49 WIB
Reporter :
jatimnow.com
Program Gleaning Garda Pangan, mengumpulkan sisa panen di lahan pertanian. (Foto: dok Garda Pangan)

Surabaya - Indonesia sebagai salah satu negara penghasil sampah makanan (food waste) terbanyak di dunia, kelompok masyarakat di Surabaya terus berupaya menggaungkan gaya hidup ramah lingkungan.

Komunitas Garda Pangan yang berdiri sejak 2017 oleh pasangan suami-istri Dedhy Trunoyudho dan Indah Audivtia, dimaksudkan untuk mengurangi jumlah food waste di Kota Pahlawan dan sekitarnya.

Keberadaan Garda Pangan bermula dari usaha katering yang dimiliki Dedhy dan Indah. Bisnis ini secara tidak langsung membuat mereka sebagai salah satu pemasok sampah makanan.

Pasangan ini merasa, makanan yang dibuang masih berkondisi layak dan dapat disalurkan kepada yang membutuhkan. Keduanya kemudian bertemu Eva Bachtiar yang mempunyai tujuan dan semangat yang sama, hingga lahirlah Garda Pangan.

Saat ini, Garda Pangan memiliki 40 anggota tetap yang berasal dari berbagai daerah seperti, Surabaya, Sidoarjo, Malang, Jember, Banyuwangi, dan masih banyak lagi. Sementara untuk voulenteer lepas yang dibuka setiap event diadakan sudah berjumlah ratusan orang.

Terdapat 6 program yang dilaksanakan, yakni Food Rescue, Gleaning, Food Drive, Wedding and Event, Campaign dan Kids Education.

"Program yang paling utama ialah food drive, kita ambil makanan berlebih dari pihak industri hospitality, dan katering. Sekarang bertambah bisa dari petani dan distribusi buah, untuk kita salurkan kepada orang yang membutuhkan," ujar Public Relation Garda Pangan, Titis Jiyan Fitrianti Firmansyah, Selasa (23/11/2021).

"Kita juga ada Wedding dan Event Rescue, kita menangani acara pernikahan dan event lain yang ada di sekitar Surabaya, mereka yang mempunyai potensi makanan yang berlebih. Akhirnya kita bantu salurkan," imbuhnya.

Suply makanan yang didapatkan Garda Pangan berasal dari berbagai sumber yakni, dari donatur, fresh money, distribusi buah, bakery, katering, event, perusahaan, serta donatur perseorangan.

"Makanannya sendiri ya berasal dari berbagai pihak, karena isu pangan ini sangat luas. Jadi banyak pihak yang sengaja donasi dana dan kami jadikan paket sembako," jelasnya.

\

Dalam mendistribusikan makanan, tim memiliki SOP, serta melakukan penyortiran kelayakan makanan. Setelah dari mitra, makanan dipilah mana yang ready to eat, agar langsung dibagikan. Sedangkan makanan kemasan dari perusahaan, akan digabungkan dengan paket donasi yang lain, seperti sembako.

"Pada dasarnya kita bagikan langsung dengan masyarakat, tidak menggunakan pihak yang lain untuk menyalurkannya. Kita juga memberikan edukasi, kalau makanan yang diberikan itu makanan berlebih dari suatu event, serta menyampaikan bahwa jangan sampai makanan yang kita berikan ikut terbuang juga," lanjut Titis.

Selain program menyalurkan makanan, komunitas juga membantu para petani dalam program Gleaning. Mereka membantu para petani dalam memanen hasil lahannya. Saat pandemi, petani memiliki pasar yang cukup terbatas, karena permintaan masyarakat yang menurun.

"Para petani ini bingung, produknya ini nggak ada pasarnya. Jadi kita membantu petani, istilahnya membantu ini patungan, dan memasarkan juga. Ada yang mau beli atau donasi nggak? Kita ke lahan untuk membantu panen dan mendistribusikan," urainya.

Sebelum pandemi, kegiatan food rescue dan food drive biasa dilakukan setiap dua hari sekali. Namun setelah adanya pandemi, bisa dilakukan sekali dalam seminggu. Untuk titik penerima, berjumlah 140 daerah yang tersebar di Surabaya dan Sidoarjo.

Reporter: Shella Shofiyannajah

Ikuti perkembangan berita terkini Jawa Timur dan sekitarya di Aplikasi jatimnow.com!
Berita Surabaya

Berita Terbaru
Tretan JatimNow

Terpopuler