Kampung Peneleh Diusulkan jadi Destinasi Wisata Sejarah di Surabaya

Rabu, 23 Feb 2022 08:24 WIB
Reporter :
Ni'am Kurniawan
Budi Leksono (Foto: Dok. PDIP Surabaya for jatimnow.com)

Surabaya - Usai diresmikan menjadi cagar budaya, warga kampung Peneleh, Kecamatan Genteng, Surabaya mengusulkan untuk membuat kampung tersebut menjadi lokasi wisata sejarah di Surabaya.

Hal itu, diungkapkan warga dalam reses yang digelar Sekretaris Komisi A DPRD Surabaya Budi Leksono. Layaknya, Tunjungan Romansa yang berlokasi diseputar jalan Tunjungan. Kampung Peneleh juga memiliki sejarah panjang bagi Surabaya, bahkan bagi bangsa Indonesia.

"Kawasan Peneleh ini bukan kampung biasa pak. Di sinilah cikal bakalnya pergerakan dan perjuangan bangsa Indonesia. Bung Karno besar di sini, Tjokroaminoto tinggal di sini, nuansa sejarah kenegaraannya sangat kental. Jadi bukan hanya Tunjungan Romansa saja, Peneleh lebih kental jejak sejarahnya," ujar H Jupri, warga setempat, Rabu (23/2/2022).

Baca juga: Jadwal Java Coffe Culture 2023 Surabaya, Mengungkap Sejarah Kawasan Peneleh

Selain itu, kampung Peneleh juga dijuluki sebagai kampung tertua. Cirinya adalah masih banyaknya makam penduduk yang berada di tengah kampung. Karena, warga terdahulu lebih sering membuat makam keluarga di sekitaran rumah.

"Meskipun sekarang sudah padat, beberapa jejak makam itu masih bisa kita jumpai. Dulu satu rumah itu bisa punya makam empat sampai lima disekitaran rumah," jelas Jupri.

Hal yang sama juga diungkapkan oleh Tomo, salah satu ketua RW. Menurutnya usulan menyulap kampung Peneleh menjadi lokasi wisata itu juga akan mengangkat perekonomian warga setempat.

Pihaknya percaya, banyak dari pihak lain seperti Pemerintah Provinsi Jatim akan turut men-support pengabadian sejarah itu menjadi lokasi wisata di Surabaya.

"Warga Insya Allah akan bisa menjaga, saya kira Pemprov juga akan support nanti asalkan dibangun dengan serius. Kita berharap Pokok Pikiran (Pokir) ini bisa menjadi referensi bisa diterima dan segera terealisasi," katanya.

Merespons usulan warga tersebut, Budi Leksono akan mencoba melakukan komunikasi dan kajian sejarah lanjutan untuk membangun Kampung Peneleh menjadi wisata sejarah di Surabaya.

"Kita akan coba kaji, saya nanti akan mencoba komunikasi dengan Dinas terkait. Secara pribadi saya memiliki pandangan jika Peneleh layak menjadi lokasi wisata sejarah. Bahkan sudah lama saya menginginkan itu," ucap Buleks sapaan akrabnya.

Baca juga: Obrolan Hangat Kader PDIP Surabaya dan Warga saat Blusukan di Kampung Soekarno

Menurut Buleks, Peneleh merupakan kawasan yang menjadi sorotan dunia karena jejak sejarahnya. Pihaknya optimis, jika Peneleh menjadi Kampung wisata sejarah, akan banyak turis lokal maupun mancanegara yang ingin mengenal bangsa Indonesia melalui Peneleh.

\

"Dari situ kita bisa memulai kebangkitan ekonomi. Dimana sumber dayanya kita tinggal manfaatkan dari wilayah setempat. Baik pengelolaan lahan parkir, wisata kuliner dan oleh-oleh khas Suroboyo serta hal lain yang bisa diwujudkan. Tapi jangan lupa, warganya juga harus upgrade diri, upgrade skill," jelas Wakil Ketua Bidang Keagamaan DPC PDIP Surabaya itu.


Lima Fakta Sejarah di Kampung Peneleh, Surabaya :

1. Kampung Kelahiran Bung Karno
Seperti kita ketahui bersama, Kampung Peneleh, Gubeng, Surabaya adalah kampung kelahiran Ir Soekarno. Presiden pertama RI itu lahir di Jalan Pandean IV nomor 50, Kelurahan Peneleh, pada 6 Juni 1901 silam. Saat ini, rumah yang ditinggali itu telah menjadi cagar budaya nasional.

Tepat di depan rumah tersebut juga tertulis 'Di sini tempat kelahiran Bapak Bangsa Dr Ir Soekarno, Penyambung lidah rakyat, Proklamator, Presiden Pertama RI, Pemimpin Besar Revolusi'. Bahkan warga lainnya menamai kampung tersebut dengan julukan Kampung Soekarno.

Baca juga: Senam Sicita Meriahkan Peringatan Hari Lahir Bung Karno di Peneleh Surabaya

2. Tempat Tinggal HOS Tjokroaminoto
Disisi lain, salah satu Guru Bangsa HOS Tjokroaminoto juga sempat tinggal dikawasan Peneleh, Gang VII nomor 29-31 Suranmbaya, pada September 1907. Disana Tjokroaminoto tinggal bersama istrinya yang bernama Soeharsikin dan kelima putra-putrinya Oetari, Oetarjo Anwar, Harsono, Islamiyah, dan Sujud Ahmad.

Selain menjadi tempat tinggalnya bersama keluarga, dirumah itu, Tjokroaminoto seringkali bertukar pikiran dengan Bung Karno dan Tan Malaka yang saat itu menjalani pendidikan di Hogere Burger School, Surabaya. Dirumah itu pula, Tjokroaminoto menampung para anak muda yang sedang menempuh sekolah di lembaga pendidikan milik Pemerintah Hindia Belanda.

3. Masjid Peninggalan Sunan Ampel
Masjid Jami' yang berlokasi di gang V Peneleh, disebut menjadi masjid tertua di Surabaya. Masjid merupakan masjid pertama di Surabaya yang didirikan oleh Sunan Ampel. Masjid tersebut juga tempat Laskar Hizbullah mempersiapkan taktik perang menghancurkan Belanda.

4. Terdapat Makam Kaum Eropa
Terdapat makam kaum Eropa dengan luas sekitar 4,5 hektare. Pemakaman itu dibangun sekitar tahun 1814 silam. Dilokasi itu terdapat kurang lebih 15 ribu kaum Eropa yang bermukim di Surabaya dimakamkan. Lokasinya bernama De Begraafplaats Peneleh Soerabaja.

5. Kampung Kuno
Ciri dari kampung kuno adalah banyaknya makam ditengah pemukiman warga. Dahulu kala, banyak dari warga Peneleh yang membuat makam disekitaran pemukiman. Saat ini jejak itu sudah mulai hilang karena tertutup oleh rumah-rumah penduduk, meski demikian jika masuk ke kampung tersebut, pengunjung masih bisa menjumpainya di Gang VII Peneleh yang melintang ditengah jalan perkampungan.

Ikuti perkembangan berita terkini Jawa Timur dan sekitarya di Aplikasi jatimnow.com!
Berita Surabaya

Berita Terbaru
Tretan JatimNow

Terpopuler