Tulungagung - Kapten Kasihin merupakan pejuang kemerdekaan yang berasal dari Kabupaten Tulungagung. Namanya diabadikan menjadi salah satu nama jalan protokol di wilayah Kecamatan Kedungwaru. Tak hanya di Tulungagung, nama Kapten Kasihin juga diabadikan di Kabupaten Nganjuk. Sebuah monumen dibangun Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Nganjuk untuk mengenang jasa pahlawan yang gugur dalam sebuah pertempuran melawan Belanda.
Kapten Kasihin berasal dari Desa Kalangbret, Kecamatan Kauman, Kabupaten Tulungagung. Dia merupakan anak ke-10 dari pasangan Tomodiharjo dan Markinah. Semasa remaja, Kapten Kasihin bercita-cita menjadi guru. Namun kondisi peperangan saat itu memaksanya untuk terjun berjuang bersama masyarakat untuk melawan penjajah.
"Saat meninggal itu masih belum menikah. Waktu itu awalnya mau jadi guru, tapi rupanya malah menjadi pejuang. Kalau cerita pastinya dari guru ke pejuang itu saya kurang bisa merinci," ujar Murtianik (73), salah seorang keponakannya Kapten Kasihin, Senin (22/08/2022).
Baca juga: Tokoh Pejuang Jember, Letkol Inf. Moh. Sroedji Diusulkan Gelar Pahlawan Nasional
Dari sejumlah literasi diketahui Kapten Kasihin merupakan Komandan Kompi III Yon 22/Sriti di Kabupaten Nganjuk. Sebagai seorang kapten, Kasihin sering kali ikut terjun langsung ke medan tempur. Ia berhadapan langsung dengan tentara Belanda.
Baca juga: Sebelum Dibongkar, Tim Akan Telusuri Keluarga 2 Makam Diduga Pejuang di Jember
Puncak pertempuran Kapten Kasihin terjadi pada 1949. Saat itu, Kasihin berperang melawan Belanda untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Meskipun sempat bersembunyi untuk menyelamatkan diri, namun Belanda tetap memburunya. Tentara musuh pun lantas membunuhnya di lokasi. Saat ini lokasi pertempuran dan gugurnya Kapten Kasihin di Nganjuk didirikan sebuah prasasti untuk mengenang perjuangannya.
Kapten Kasihin awalnya dimakamkan di Ngajuk. Pada 1969, Pemkab Tulungagung memindahkannya ke Taman Makam Pahlawan (TMP) Rejoagung. Makamnya berada pada urutan ke-158. Hingga saat ini, pihak keluarga secara rutin masih melakukan tabur bunga di makam tersebut. Hal ini dilakukan untuk selalu mengenang jasa perjuangan Kapten Kasihin.
Baca juga: Petugas Eks Kecamatan Tanggul Jember: Belum Pernah Lihat Makam Pejuang di Sana
"Kami biasanya semua keluarga besar rutin tabur bunga. Terutama saat mau puasa sama mau Lebaran, sesuai dengan amanah kakek nenek kami yaitu ayah ibunya almarhum ini agar selalu menziarahi makam kapten kasihin," pungkasnya.