jatimnow.com-Pemkab Trenggalek kolaborasi dengan Jamaah Mbocah Widoro (JMW) menggelar balap gethek diajang Likaliku di Dam Widoro, Kecamatan Gandusari. Kegiatan ini juga dalam rangkaian Festival Sungai Trenggalek.
Masyarakat antusias melihat balap gethek di Dam Widoro. Lomba tradisional ini merupakan kegiatan perdana. Selain itu, dalam Kegiatan Likaliku juga terdapat metri kali, menebar benih ikan, penanaman 100 bibit tanaman durian dan alpukat.
"Lomba balap gethek ini bagian dari Festival Sungai Trenggalek. Total ada 16 tim yang berlomba," ujar Pelaksana tugas (Plt) Kepala Disparbud Trenggalek, Edi Santoso.
Baca juga: 9 Pemuda Asal Trenggalek Kuliah D2 Gratis di Korea Selatan
Tujuan lomba balap gethek untuk melestarikan budaya dan menghidupkan sejarah. Mengingat budaya nenek moyang, tidak jauh dari kegiatan pantai dan sungai.
"Dulu gethek menjadi transportasi yang digunakan nenek moyang pada zaman dahulu. Lomba ini sebagai pengingat untuk mengenang dan melestarikan budaya," jelasnya.
Kegiatan ini untuk memastikan dan mendukung program Pemkab Trenggalek dalam pelestarian alam. Pemerintah yakin melestarikan ekologi akan berdampak positif bagi ekonomi masyarakat.
"Jika melestarikan ekologi, kami yakin akan memberikan manfaat bagi ekonomi," paparnya.
Baca juga: Terdakwa Penganiaya Guru di Trenggalek Divonis 6 Bulan Penjara
Balap gethek merupakan kegiatan perdana di Trenggalek. Edi berharap kegiatan ini bisa menjadi event tahunan Trenggalek.
"Apabila antuasias dan respon masyarakat positif, kami akan jadikan balap gethek sebagai event tahunan," ungkapnya.
Salah satu peserta balap gethek, Miftakhul Huda (29) menambahkan, balap gethek tidak sekedar mendayung. Namun perlu tenaga esktra, karena harus melawan arah angin.
"Jarak jalur lomba balap gethek sekitar 200 meter. Kami sudah latihan selama dua minggu untuk mengikuti balap gethek ini," imbuhnya.
Baca juga: Dampak Gempa Pacitan, 9 Bangunan di Trenggalek Dilaporkan Alami Kerusakan
Para peserta lomba balap gethek sangat antusias. Terbukti, setiap peserta rela patungan untuk membuat perahu rakitan.
"Untuk membuat gethek, kami patungan. Setiap rumah rata-rata Rp 10 ribu, secara sukarela," pungkasnya.