Jejak Masjid 1825 di Situbondo dan Mimpi Global Cicit Kyai Mas Su’ud

Senin, 12 Jan 2026 13:10 WIB
Reporter :
Ali Masduki
Masjid kayu 1825 di Situbondo menjadi bukti sejarah dakwah Kyai Raden Mas Su’ud. (Foto/Dokumentasi Gus Lilur)

jatimnow.com - Sebuah bangunan kayu sederhana berdiri di Desa Kayuputih, Situbondo, Jawa Timur. Hari ini warga mengenalnya sebagai langgar atau musholla.

Namun dua abad silam, tepatnya pada 1825, bangunan itu merupakan masjid utama sebuah pesantren yang didirikan Kyai Raden Mas Su’ud, ulama tauhid dan tokoh penyebaran Islam di wilayah Tapal Kuda.

Masjid itu menjadi salah satu artefak langka Islam abad ke-19 di Situbondo. Di tengah minimnya bangunan ibadah dari periode tersebut yang masih bertahan, konstruksi kayu masjid ini relatif utuh setelah 201 tahun.

Baca juga: Dana Haji Dikorupsi, Gus Lilur Minta KPK Kejar Semua Penerima Aliran Dana

Sejumlah sejarawan mencatat, Islamisasi Situbondo memang menguat pada awal abad ke-19, ditandai dengan berdirinya pesantren-pesantren berbasis trah Madura dan Sumenep yang berafiliasi dengan ulama keraton dan ulama pengembara.

“Masjid ini saksi hidup dakwah Eyang Kyai Raden Mas Su’ud. Pesantrennya memang tinggal cerita, tetapi masjidnya masih berdiri dan itu bukti sejarah,” ujar HRM Khalilur R Abdullah Sahlawiy, cicit Kyai Raden Mas Su’ud.

Kyai Raden Mas Su’ud dikenal sebagai trah keempat Raden Azhar Wongsodirejo atau Bhujuk Sèda Bulangan, bangsawan-ulama Sumenep.

Nisan makamnya yang bercorak Pamekasan–Sumenep hingga kini masih terawat dan diakui para pemerhati sejarah lokal sebagai penanda kuat jejaring ulama Madura di Jawa Timur bagian timur.

Menurut Gus Lilur, sapaan akrab Khalilur, warisan sang leluhur tak berhenti pada bangunan fisik.

“Keturunan Eyang Kyai Mas Su’ud sudah ribuan. Saya memilih tidak hidup di bawah bayang-bayang beliau, tapi membumikan mimpi yang lebih luas,” katanya.

Gus Lilur memperkenalkan gagasan DABATUKA (Demi Allah, Bumi Aku Taklukkan untuk Kemanusiaan) dan BAKIRA (Bandar Kyai Nusantara). Ia mengaku memimpikan pembangunan sejuta masjid di berbagai negara, bahkan ribuan pesantren berskala global.

Baca juga: Gus Lilur Bongkar Drama 5 Tahun 'Perang Dingin' KKP dan ESDM

“Mendirikan satu pesantren di Situbondo itu mulia, tapi membangun masjid dan pesantren untuk umat di banyak negara jauh lebih menantang,” ujarnya.

\

Ia menautkan mimpinya dengan refleksi sejarah ulama besar Nusantara. Gus Lilur menyinggung Kyai Sholeh Darat Semarang, guru pendiri NU dan Muhammadiyah, yang pesantrennya tak berlanjut secara institusional, tetapi ilmunya menjalar luas.

“Jejak pemikiran lebih panjang dari sekadar bangunan,” ucapnya.

Gagasan besar itu, menurut Gus Lilur, ia sandarkan pada kekuatan ekonomi. Ia mengklaim memiliki basis kepemilikan lebih dari seribu tambang berbagai komoditas di Indonesia.

Data Kementerian ESDM sendiri mencatat sektor pertambangan masih menjadi salah satu penopang utama ekonomi nasional, membuka ruang filantropi berbasis sumber daya alam jika dikelola secara berkelanjutan.

Baca juga: Gus Lilur Taruh Rp50 Triliun, Bidik Takhta 'Kaisar Bauksit' di Sumatera

Di tengah cerita rakyat tentang masjid kayu Situbondo yang diyakini sarat kisah spiritual, Gus Lilur memilih jalur rasional.

“Saya berdiri di atas kaki sendiri. Warisan Eyang adalah inspirasi, bukan batas,” tuturnya.

Masjid Kayuputih sebagai Masjid tertua di Situbondo itu kini tak sekadar menjadi tempat ibadah.

Ia menjelma penanda sejarah Islam Situbondo, sekaligus titik berangkat mimpi besar seorang cicit ulama yang ingin membawa dakwah Nusantara melintasi batas negara.

Ikuti perkembangan berita terkini Jawa Timur dan sekitarya di Aplikasi jatimnow.com!
Berita Situbondo

Berita Terbaru
Tretan JatimNow

Terpopuler