Saat Tongkat Komando Kapolres Tulungagung Berganti Menjadi Kapur Tulis

Kamis, 13 Nov 2025 15:35 WIB
Reporter :
Bramanta Pamungkas
Foto: Kapolres Tulungagung AKBP Taat Resdi saat menjadi guru tamu di sebuah sekolah. (Polres Tulungagung/jatimnow.com)

jatimnow.com-Pagi itu di lapangan SMK Sore Tulungagung, matahari belum sepenuhnya garang, namun hawa panas mulai merayap di antara barisan ribuan siswa. Riuh rendah suara khas remaja mendadak luruh, berganti senyap yang khidmat saat seorang pria berseragam cokelat dengan tanda pangkat melati dua di pundak melangkah mantap menuju mimbar.

Di banyak tempat, kehadiran sosok Kapolres mungkin akan memicu ketegangan atau sekadar formalitas upacara yang kaku. Namun, pagi itu, Kapolres Tulungagung AKBP Muhammad Taat Resdi tidak datang untuk membacakan instruksi baris-berbaris. Ia datang dengan sebuah misi yang jauh lebih personal: ia ingin menjadi seorang guru.

Sejak menjabat sebagai Kapolres Tulungagung pada Juli 2024, Taat Resdi seolah sedang menjalankan misi "penyamaran" intelektual. Di balik kewibawaan seragamnya, ia sedang berupaya meruntuhkan tembok tebal yang selama puluhan tahun memisahkan korps baju cokelat dengan Generasi Z. Melalui inisiatif "Guru Tamu", ia memilih untuk menanggalkan sejenak protokoler birokrasi dan masuk ke ruang-ruang kelas, mulai dari SMAN 1 Kedungwaru hingga SMK dengan populasi siswa terbesar di Tulungagung.

Baca juga: Kisah Si Kuning, Oase Gizi dan Senyum Dari Polres Tulungagung

Langkah Taat memasuki ruang kelas bukanlah sebuah aksi panggung tanpa isi. Ia adalah representasi dari profil perwira modern yang "berbahaya" secara intelektual. Lahir di Temanggung pada penghujung 1984, jejak akademiknya adalah sebuah anomali yang mengagumkan. Sebagai alumnus SMA Taruna Nusantara dan lulusan terbaik ke-4 Akademi Kepolisian 2005, ia membawa perspektif global ke dalam masalah lokal.Foto: Kapolres Tulungagung AKBP Taat Resdi saat menjadi guru tamu di sebuah sekolah. (Polres Tulungagung/jatimnow.com)

Gelar  Master of Transnational Crime Prevention dari University of Wollongong, Australia, yang diraihnya melalui beasiswa penuh pemerintah Australia, memberinya kacamata yang berbeda dalam melihat kejahatan. Baginya, penegakan hukum bukan sekadar soal menangkap pelaku di ujung kejadian, melainkan tentang memutus rantai penyebab di hulu. Pengalamannya di Bareskrim Polri dalam menangani tindak pidana ekonomi lintas negara kini ia "terjemahkan" menjadi bahasa yang dimengerti oleh remaja di bangku sekolah.

"Saya tidak ingin kalian melihat polisi sebagai sosok yang hanya muncul saat ada masalah atau saat ingin menilang. Saya ingin kalian melihat kami sebagai kakak, sebagai pembimbing yang ingin memastikan masa depan kalian tidak hancur karena satu keputusan salah di masa remaja," ujar Taat, Kamis (13/11/2025) di depan para siswa, suaranya tenang namun penuh penekanan.

Di balik keindahan alam, Tulungagung menyimpan luka tersembunyi yang menjadi alasan kuat mengapa Taat Resdi merasa harus turun tangan langsung. Data yang ia bawa ke ruang kelas bukan sekadar angka, melainkan sebuah alarm tanda bahaya. Hingga pertengahan 2024, tercatat ada 424 remaja di Tulungagung yang terinfeksi HIV. Mayoritas dari mereka berada di rentang usia produktif (15-24 tahun)—usia yang seharusnya diisi dengan prestasi, bukan pengobatan seumur hidup akibat pergaulan bebas.

Baca juga: Kendaraan Listrik Masih Rendah Peminat di Tulungagung, Ini Penyebabnya

Bukan hanya itu, bayang-bayang gesekan antarperguruan silat yang kerap berujung konflik fisik, aksi perundungan (bullying) di asrama atau sekolah, hingga jeratan gelap narkoba, menjadi "kurikulum darurat" yang ia sampaikan.

\

“Di era digital ini, provokasi di media sosial bisa berubah menjadi tawuran berdarah dalam hitungan jam,” tuturnya.Foto: Kapolres Tulungagung AKBP Taat Resdi saat menjadi guru tamu di sebuah sekolah. (Polres Tulungagung/jatimnow.com)

Jika biasanya kunjungan pejabat polisi disambut dengan wajah-wajah tegang, Taat Resdi membawa atmosfer yang berbeda. Ia memiliki kemampuan narasi yang cair. Ia tidak bicara soal pasal-pasal KUHP yang membosankan, melainkan bercerita tentang bagaimana sebuah keputusan kecil—seperti membagikan video provokasi—bisa menghancurkan masa depan seseorang.

Di SMK Sore Tulungagung, suasana mencapai puncaknya saat sesi kuis interaktif. Taat tidak memberikan hadiah berupa uang atau piagam yang sekadar disimpan di laci. Ia memberikan helm SNI. Ini adalah simbol yang sangat kuat: sebuah pesan bahwa kepolisian peduli pada keselamatan nyawa mereka di jalanan setiap hari.

Baca juga: Satlantas Polres Tulungagung Pasang Pintu Pengaman di Pos Polisi

Pendekatan ini terbukti efektif. Jarak birokrasi yang biasanya membentang antara seorang Kapolres dan warga sipil seolah menguap. Para siswa mulai berani mengangkat tangan, bukan untuk meminta izin ke belakang, melainkan untuk berdiskusi tentang cita-cita, bertanya tentang hukum, hingga berbagi keresahan mereka tentang lingkungan pergaulan.Foto: Kapolres Tulungagung AKBP Taat Resdi saat menjadi guru tamu di sebuah sekolah. (Polres Tulungagung/jatimnow.com)

Bagi AKBP Taat Resdi, ruang kelas adalah garis depan pertahanan keamanan yang paling fundamental. Ia percaya bahwa setiap jam yang ia habiskan di balik papan tulis adalah investasi untuk mengurangi jam kerja anggotanya di sel tahanan atau di lokasi kejadian perkara di masa depan.

“Di Tulungagung, kesadaran hukum kini tidak lagi dipaksakan melalui bunyi sirine atau bayang-bayang jeruji besi, melainkan ditanamkan melalui dialog hangat di bawah atap sekolah,” pungkasnya.

Ikuti perkembangan berita terkini Jawa Timur dan sekitarya di Aplikasi jatimnow.com!
Berita Tulungagung

Berita Terbaru
Tretan JatimNow

Terpopuler