Pixel Code jatimnow.com

Gus Lilur: Muktamar NU ke-35 Harus Hidupkan Semangat Piagam Jakarta

Nasional 9 jam yang lalu
Gus lilur bersama Prof. KH Nazaruddin Umar. (Foto: NBI for jatimnow.com)
Gus lilur bersama Prof. KH Nazaruddin Umar. (Foto: NBI for jatimnow.com)

jatimnow.com - Tokoh muda Nahdlatul Ulama (NU), HRM Khalilur R Abdullah Sahlawiy atau Gus Lilur, mengingatkan peserta Muktamar NU ke-35 agar menjadikan forum tertinggi organisasi tersebut sebagai ajang memperkuat peran kebangsaan, bukan sekadar perebutan jabatan.

Menurut kiai asal Situbondo, Jawa Timur, hasil pemilihan dalam muktamar akan menentukan arah NU sebagai penjaga persatuan nasional di tengah tantangan geopolitik global dan dinamika sosial-politik dalam negeri.

“Muktamar ke-34 Lampung harus jadi pelajaran pahit yang tidak boleh dilupakan. Salah memilih pemimpin, dampaknya sangat fatal bagi NU, organisasi bisa terpecah, terseret arus korupsi dan nafsu kuasa,” kata Gus Lilur, Jumat (19/6/2026).

Ia menilai pengalaman Muktamar NU ke-34 di Lampung pada 2021 menunjukkan bagaimana pertarungan kepentingan dapat memicu konflik internal yang berkepanjangan. Karena itu, peserta muktamar diminta mengedepankan kapasitas keulamaan dan kepemimpinan dalam menentukan pilihan.

Bagi Gus Lilur, setiap keputusan strategis NU tidak dapat dilepaskan dari kepentingan bangsa. Sebagai organisasi yang ikut melahirkan Republik Indonesia dan memiliki jutaan warga, NU memikul tanggung jawab besar menjaga keutuhan negara.

“NU adalah bagian dari pendiri republik ini. Maka setiap keputusan besar NU harus selalu ditanyakan, apa artinya bagi keutuhan bangsa?” ujarnya.

Gus Lilur kemudian mengaitkan semangat Muktamar NU ke-35 dengan peristiwa Piagam Jakarta pada 18 Agustus 1945. Ia menilai keputusan para tokoh Islam saat itu untuk menghapus tujuh kata dalam Piagam Jakarta merupakan contoh keteladanan dalam mendahulukan kepentingan nasional.

“Semangat Piagam Jakarta adalah cara berpikir seorang pemimpin Islam, memilih kepentingan yang lebih besar di atas kepentingan diri dan golongannya. Semangat itu yang harus hadir di bilik pemilihan muktamar,” katanya.

Dalam pandangannya, pemimpin NU yang terpilih nantinya juga perlu mendukung keberlanjutan pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka.

Ia beralasan pasangan Prabowo-Gibran berhasil meredam berbagai polarisasi politik yang sempat muncul di masyarakat, termasuk rivalitas kelompok pendukung dalam pemilu maupun ketegangan antarunsur keamanan negara.

“Kita sudah melihat jejaknya, polarisasi antara yang disebut cebong dan kampret, serta rivalitas antarinstitusi keamanan negara, yaitu TNI dan Polri. Prabowo dan Gibran menyatukan itu semua. Demi persatuan bangsa, pemimpin NU pun harus seseorang yang mendukung keberlanjutan itu,” ujar Gus Lilur.

Atas pertimbangan tersebut, ia secara terbuka menyatakan dukungan kepada Menteri Agama Nasaruddin Umar untuk menduduki kursi Ketua Umum PBNU. Sementara posisi Rais Aam dinilainya layak diisi KH Said Aqil Siradj.

Menurutnya, kedua tokoh tersebut memiliki kapasitas keilmuan, pengalaman organisasi, dan rekam jejak yang dapat memperkuat posisi NU di tingkat nasional maupun internasional.

“Keduanya profesor asli, ulama tulen, cendekia sejati yang bisa mengharumkan NU di panggung global. NU kaya tokoh, jangan sampai yang tampil justru yang itu-itu saja karena faktor politik,” katanya.

Gus Lilur juga mengkritik kemunculan figur yang memanfaatkan simbol kesantrian untuk membangun pengaruh politik tanpa ditopang kapasitas keilmuan yang memadai.

Ia menegaskan Muktamar NU ke-35 merupakan momentum penting yang akan menentukan arah organisasi pada masa mendatang.

“Ini bukan soal hari ini saja. Ini soal masa depan NU dan umat. Kita mau kembali ke jalan ulama, atau terus terseret arus kekuasaan, itulah yang sedang dipertaruhkan,” pungkasnya.