jatimnow.com - Kisah Sunan Sendang Duwur atau Raden Noer Rahmat erat kaitannya dengan penyebaran Islam di pesisir pantai utara, Lamongan, Jawa Timur.
Salah satu warisannya yakni Masjid Tiban yang konon menjadi saksi sejarah dari perjalanan Raden Noer Rahmat menyebarkan ajaran Islam.
Menurut keturunan ke-13 Raden Noer Rohmad, Irfan Masyuri, masjid ini asalnya kayu karena termakan usia direnovasi beberapa kali namun masih mempertahankan bentuk aslinya.
Baca juga: Sumur Giling Sunan Sendang Duwur Lamongan 5 Abad Tak Pernah Surut
Menurut Irfan, masjid ini adalah saksi bisu karomah yang dimiliki Sunan Sendang Duwur. Yang konon, dulu berdirinya masjid ini atas perintah Sunan Drajat, lantaran Raden Noer telah memiliki jamaah yang cukup banyak diwilayah Desa Sendang Duwur.
Masjid tersebut juga dipindah dari Jepara, Jawa Tengah, menuju Lamongan Jawa Timur oleh Sunan Sendang Duwur atau Raden Noer Rohmad seorang diri. Warga meyakini masjid itu adalah bagian dari keajaiban dan ilmu kewalian yang dimiliki Sunan Sendang Duwur kala itu.
"Warga sini (Sendang Duwur) menganggap masjid ini sebagai masjid tiban karena letaknya yang berada di puncak bukit. Ceritanya, bermula saat Raden Noer Rohmad diperintah Sunan Drajat untuk mendirikan masjid," ungkap Irfan Masyuri, Senin (17/3/2025).
Singkat cerita, Raden Noer Rohmad diberi petunjuk untuk membeli salah satu masjid di Mantingan, Jepara, Jawa Tengah. Namun, sesampainya di sana Raden Noer Rohmad menghadap tokoh yakni, Ratu Kalinyamat atau terkenal disebut Mbok Rondo Mantingan.
"Pertemuan keduanya terjadi, Raden Noer menjelaskan maksud tujuannya tapi oleh Mbok Rondo Mantingan tidak menghendaki permintaan Raden Noer," terang Irfan.
Baca juga: Peringatan Nuzulul Quran di Masjid Agung Lamongan: Muhasabah Diri
Meski begitu, Mbok Rondo Mantingan memberikan persyaratan kepada Raden Noer Rohmad sesuai wasiat sang suami.
"Ya maaf masjid di sini tidak akan saya jual. Tapi suamiku pernah berwasiat, ada orang yang mampu membawa masjid ini sendiri tanpa bantuan siapa pun maka masjid ini akan saya berikan," jelas Irfan menirukan percakapan Ratu Kalinyamat dengan Raden Noer Rohmad.
Sempat dihinggapi rasa bingung dengan persyaratan yang diberikan Mbok Rondo Kalinyamat, Raden Noer akhirnya bermunajat kepada Allah SWT untuk meminta petunjuk.
"Akhirnya diberi petunjuk untuk membaca bismillah 3 kali sambil menginjak (nggedrok) tanah, dan atas izin Allah SWT masjid itu terangkat dan dibawalah ke Sendang Suwur atau Dusun Amintunon," terangnya.
Baca juga: Berkah Ramadan, Omzet Penjualan Kaligrafi di Tulungagung Naik 200 Persen
Kala itu, warga dibuat heran dalam waktu satu malam masjid sudah berada di atas puncak bukit Dusun Amintunon.
"Dulu warga menamainya dengan masjid tiban," paparnya.
Masjid ini termasuk masjid tertua di Jawa Timur. Tidak banyak perubahan atap atau kubah masjid dipertahankan hanya saja bagian dinding dibangun ulang karena material kayu mulai lapuk dimakan usia.