Pola Asuh Observasi Aktif, Rahasia Nala Hafal Anatomi di Usia Dini

Rabu, 04 Mar 2026 15:22 WIB
Reporter :
Ali Masduki
RS Kemenkes Surabaya gelar seminar parenting "Bersama Nala & Parents" untuk perkuat ketahanan mental dan fisik anak menghadapi tantangan era digital. (Foto/jatimnow.com)

jatimnow.com - Arus informasi digital dan paparan gawai yang tak terkendali kini menjadi ancaman nyata bagi ketahanan mental anak-anak Indonesia.

Menanggapi situasi krusial itu, Rumah Sakit Kementerian Kesehatan (RS Kemenkes) Surabaya mengumpulkan ratusan orang tua dalam seminar parenting bertajuk “Bersama Nala & Parents” di Auditorium Heritage, Sabtu (28/2/2026).

Langkah ini diambil sebagai strategi konkret rumah sakit untuk menggeser peran keluarga menjadi garda terdepan dalam menjaga kesehatan psikis dan fisik anak.

Baca juga: RS Kemenkes Surabaya Siapkan Layanan Stroke Terintegrasi 24 Jam

Pihak rumah sakit menilai, tanpa pendampingan yang adaptif, generasi muda akan mudah tergerus tekanan sosial media dan derasnya informasi luar.

Plh Direktur Utama RS Kemenkes Surabaya, dr. Martha Muliana L. Siahaan, menegaskan bahwa kualitas bangsa pada 2045 ditentukan oleh cara orang tua mendidik anaknya hari ini.

Menurutnya, kecerdasan akademik semata tidak lagi cukup untuk memenangkan persaingan di masa depan.

"Kita berupaya memastikan anak-anak masa kini tumbuh secara optimal. Nasib bangsa di tahun 2045 sangat bergantung pada keandalan mereka sejak sekarang," kata dr. Martha.

Ia menambahkan, fondasi utama yang harus dibangun adalah karakter, empati, serta ketahanan mental yang kokoh.

"Generasi saat ini wajib memiliki mental yang tangguh. Dengan akses informasi yang begitu mudah, orang tua harus hadir mendampingi anak saat mereka mulai berinteraksi dengan dunia luar," tuturnya.

Baca juga: Teknologi Nuklir Kini Tersedia di RS Kemenkes Surabaya, Akses Kanker Lebih Cepat

Dalam sesi berbagi, pasangan Ridwan dan Sofitri menceritakan bagaimana mereka mendeteksi minat putrinya, Nala, terhadap dunia medis sejak balita.

\

Melalui pengamatan konsisten, mereka melihat Nala memiliki ketertarikan tinggi pada anatomi manusia dan bahasa asing sejak usia tiga tahun.

"Kami memfasilitasi minatnya dengan menyediakan alat peraga anatomi dan rutin membacakan buku. Kata-kata asing yang ia sukai terus kami latih dalam percakapan sehari-hari," jelas Sofitri.

Hasilnya, Nala kini mampu menghafal detail anatomi tubuh manusia secara komprehensif.

Psikolog Dra. Astrid Regina Sapiie menilai apa yang dilakukan orang tua Nala merupakan bentuk "observasi aktif".

Baca juga: Bukan Gedung Baru, Begini Strategi RS Kemenkes Surabaya Tingkatkan Mutu Layanan

Ia menyebut stimulasi terbaik justru dimulai dari kehadiran nyata orang tua dalam dunia bermain anak, bahkan bisa diawali sejak masa kandungan.

"Inti dari pengasuhan adalah ketersediaan waktu orang tua untuk mengamati. Lewat interaksi langsung, kita bisa memetakan potensi dan kebiasaan anak secara akurat," ungkap Astrid.

Tak hanya mental, aspek fisik juga menjadi sorotan. dr. Nata Kharimantara mengingatkan bahwa gizi seimbang, aktivitas fisik, dan deteksi dini gangguan kesehatan adalah modal dasar agar anak bisa tumbuh produktif.

Melalui edukasi ini, RS Kemenkes Surabaya ingin mempertegas bahwa fungsi fasilitas kesehatan tidak hanya mengobati yang sakit, tetapi juga mencegah kerusakan generasi melalui pola asuh yang tepat di tengah gempuran digitalisasi.

Ikuti perkembangan berita terkini Jawa Timur dan sekitarya di Aplikasi jatimnow.com!
Berita Surabaya

Berita Terbaru
Tretan JatimNow

Terpopuler