Kuliner Indonesia Kaya 2026, Menguak Rahasia Dapur Sultan dan Jalur Rempah

Jumat, 06 Mar 2026 00:45 WIB
Reporter :
Ali Masduki
Rimo-rimo menjadi bintang utama. Ini adalah teknik memasak menggunakan bambu, sebuah pengetahuan warisan leluhur untuk bertahan hidup di hutan tanpa peralatan dapur modern. (Foto: Indonesia Kaya/jatimnow.com)

jatimnow.com - Indonesia kembali menceritakan jati dirinya melalui meja makan. Inisiatif budaya Indonesia Kaya meluncurkan musim terbaru webseries Kuliner Indonesia Kaya 2026, sebuah dokumentasi audio visual yang mengeksplorasi kedalaman sejarah di balik sajian khas Ternate, Palembang, dan Banten.

Sejak bergulir pada 2017, program ini konsisten menempatkan makanan bukan sekadar pengganjal perut, melainkan arsip hidup perjalanan budaya bangsa.

Tahun ini, penonton diajak melintasi jalur perdagangan dan titik-titik akulturasi yang membentuk identitas lokal di tiga kota bersejarah tersebut.

Baca juga: Chateraise Surabaya Resmi Buka, Bawa Sensasi Dessert Nomor 1 Jepang

“Kami menggali cerita yang tertanam dalam setiap suapan. Kekuatan kuliner Nusantara ada pada nilai sejarah dan filosofi hidup masyarakatnya,” kata Renitasari Adrian, Program Director Indonesia Kaya, seperti dilansir dari siaran pers yang diterima jatimnow.com, Kamis (05/3/2026).

Ia berharap generasi muda mampu melihat hidangan tradisional sebagai warisan yang harus terus diapresiasi.

Perjalanan bermula di Ternate, titik utama Jalur Rempah. Di sini, tradisi Rimo-rimo menjadi bintang utama. Ini adalah teknik memasak menggunakan bambu, sebuah pengetahuan warisan leluhur untuk bertahan hidup di hutan tanpa peralatan dapur modern.

Kris Syamsudin, pendiri Cengkeh Afo dan Gamalama Spices, menjelaskan bahwa Rimo-rimo merupakan manifestasi hubungan harmonis manusia dengan alam.

Selain itu, hadir pula Gohu Ikan, sashimi ala Maluku Utara yang menyajikan tuna atau cakalang mentah dengan siraman lemon cui dan kemangi, tanpa melalui proses api.

Baca juga: Transformasi Layanan Kuliner Lokal, Se’Indonesia Buka Drive-Thru di Surabaya

Bergeser ke Palembang, narasi kuliner mengalir bersama Sungai Musi. Episode ini membedah Pindang Ikan yang kaya rempah serta dua kudapan legendaris: Kue Delapan Jam dan Kue Maksuba.

\

Kue Delapan Jam menjadi simbol kesabaran karena proses pengukusannya yang memakan waktu sepertiga hari.

Sementara itu, Kue Maksuba yang berlapis-lapis sering menjadi hantaran bakti pengantin baru kepada orang tua, sebuah simbol kecermatan dan kematangan karakter perempuan Palembang.

Petualangan rasa berakhir di Banten, menyisir jejak Kesultanan melalui Sate Bandeng dan Rabeg. Sate Bandeng lahir dari kreativitas juru masak keraton yang mencabut duri ikan demi memudahkan Sultan Maulana Hasanuddin menjamu tamu.

Baca juga: The Journey of 7 Iftar, Sensasi Bukber Keliling Dunia di Surabaya Barat

Sedangkan Rabeg, olahan daging kambing beraroma Timur Tengah, diyakini sebagai hasil adaptasi sang Sultan setelah terkesan dengan kuliner di Kota Rabig, tepi Laut Merah, saat menunaikan ibadah haji.

Melalui kemasan visual yang padat dan modern di kanal YouTube IndonesiaKaya, dokumentasi ini menjadi jembatan bagi masyarakat urban untuk kembali mengenali akar budayanya sendiri.

Bagi Indonesia Kaya, di balik setiap resep, selalu ada sejarah panjang yang membentuk karakter sebuah bangsa.

Ikuti perkembangan berita terkini Jawa Timur dan sekitarya di Aplikasi jatimnow.com!

Berita Terbaru
Tretan JatimNow

Terpopuler