Jalan Panjang Madura Lepas dari Keterisolasian Lewat Bakti TNI

Jumat, 21 Agu 2026 11:17 WIB
Reporter :
Ali Masduki
Danrem 084/Bhaskara Jaya, Brigjen TNI Kohir, disambut hangat oleh Halimah saat meninjau program KBSB bertajuk "Bakti TNI AD Untuk Rakyat di Pulau Madura Tahun 2026". (Foto: Dispenad for jatimnow.com)

jatimnow.com - Saban pagi, warga Kelurahan Tunjung, Kecamatan Burneh, Bangkalan, harus ekstra hati-hati. Untuk mengantar anak sekolah atau membawa hasil panen ke pasar, mereka terpaksa melintasi jembatan tua di Jalan Perdana Kusuma yang kondisinya lapuk dan bergoyang tiap kali dilewati kendaraan.

Struktur betonnya yang merapuh dan bergetar setiap kali dilintasi kendaraan menjadi gambaran nyata keterbatasan infrastruktur yang bertahun-tahun membelenggu mobilitas warga.

Baca juga: Profesor ITS Kembangkan Rekayasa Sambungan untuk Bangunan Tahan Gempa

Kondisi serupa bukan hanya milik Kelurahan Tunjung. Di Dusun Ampenang, Desa Rapa Daya, Kabupaten Sampang, hingga ke pelosok Dusun Bekatul di Desa Panyepen, ribuan kepala keluarga bertaruh nasib pada infrastruktur ala kadarnya.

Di Panyepen, urusan air bersih bahkan menjadi perjuangan tersendiri. Jika kemarau tiba, warga terbiasa berjalan kaki hingga tiga kilometer ke desa tetangga demi beberapa jeriken air, atau terpaksa merogoh kocek dalam-dalam untuk membeli air tangki swasta.

Namun, rupa keterisolasian itu kini mulai berganti wajah. Melalui program Karya Bakti Skala Besar (KBSB) bertajuk "Bakti TNI AD Untuk Rakyat di Pulau Madura Tahun 2026", Kodam V/Brawijaya menerjunkan ratusan prajurit untuk melakukan percepatan pembangunan fisik dan sosial di empat kabupaten. Di antaranya Bangkalan, Sampang, Pamekasan, dan Sumenep.

Program yang digulirkan oleh Pangdam V/Brawijaya Mayjen TNI Rudy Saladin di Alun-Alun Kabupaten Bangkalan pada awal Juli 2026 itu membawa misi utama, yakni menyelesaikan persoalan mendasar masyarakat pedesaan.

"Kehadiran TNI di tengah masyarakat Madura bertujuan untuk menjawab kesulitan warga, mengakselerasi pembangunan daerah, serta memperkuat ketahanan wilayah," ujar Rudy Saladin.

Bagi warga desa, jembatan bukan sekadar deretan beton dan besi pipa. Ia adalah urat nadi yang menentukan kelancaran distribusi pangan, efisiensi biaya transportasi, hingga keselamatan anak-anak saat menuntut ilmu.

Melalui KBSB 2026, sebanyak 33 jembatan yang tersebar di wilayah Madura dibangun dan direhabilitasi secara masif. Salah satu titik utama yang berhasil dirampungkan adalah Jembatan Garuda di Desa Rapa Daya, Kecamatan Omben, Sampang, serta perbaikan jembatan penghubung di Jalan Perdana Kusuma, Bangkalan.

Lurah Tunjung, Moh. Soleh, mengungkapkan bahwa perbaikan jembatan di wilayahnya langsung memberikan dampak instan pada dinamika ekonomi lokal. Jalur yang sebelumnya sulit dilalui kendaraan roda empat kini aman melintas, memangkas waktu tempuh para pedagang dan pekerja.

"Jembatan ini sangat dibutuhkan masyarakat dan menjadi akses penting aktivitas sehari-hari. Sekarang jalan sudah bisa dilalui kendaraan dengan aman, anak-anak sekolah melintas dengan nyaman, dan pengangkutan hasil usaha warga tidak lagi terhambat," kata Soleh.

Dampak ekonomi ini diamini Ahmad, petani asal Desa Rapa Daya. Sebelum Jembatan Garuda dicor permanen dan diperkokoh, membawa hasil panen keluar dari desa membutuhkan biaya logistik tinggi dan risiko kerugian akibat komoditas yang rusak di jalan.

"Dulu kalau mau melintas atau mengangkut hasil tani lumayan sulit dan khawatir. Sekarang jembatannya sudah beton dan kokoh. Jalur transportasi jauh lebih cepat dan aman," tutur Ahmad.

Selain persoalan penghubung darat, tantangan geografis utama di Pulau Madura adalah krisis air bersih yang saban tahun memukul sektor pertanian dan domestik. Di Desa Panyepen, Sampang, misalnya. Di wilayah yang tergolong daerah rawan kekeringan kritis itu, TNI AD membangun jaringan sumur bor terpadu lengkap dengan menara tandon air raksasa berlantai tiga dan instalasi rumah pompa.

Pembangunan sarana air bersih ini dirancang dengan konsep double impact atau memberikan manfaat ganda. Selain menyalurkan air bersih langsung ke pemukiman warga melalui jaringan perpipaan, pasokan air ini diintegrasikan ke saluran irigasi persawahan, terutama untuk menjaga produktivitas komoditas tembakau saat kemarau.

Dandim 0828/Sampang Letkol Czi Dika Catur Yanuar Anwar mengungkapkan, tantangan geografis dan medan yang berat tidak menyurutkan komitmen prajurit di lapangan. Pengangkutan material tandon dan pipa sempat harus berputar sejauh tiga kilometer akibat kondisi akses darat yang rusak berat.

"Sumur bor yang kita bangun tidak hanya untuk irigasi di musim kemarau, tetapi ada sambungan yang langsung mengalirkan air bersih ke rumah-rumah warga. Ketersediaan air yang stabil akan menjaga kualitas panen tembakau dan menaikkan taraf hidup petani secara berkelanjutan," terang Dika.

Bagi warga setempat, hadirnya aliran air bersih di dapur rumah mereka mengakhiri ketergantungan puluhan tahun pada air sungai yang keruh.

Baca juga: Anggaran Perbaikan Infrastruktur Jalan di Tulungagung Tahun Ini Capai Rp300 Miliar

"Alhamdulillah, anak cucu saya tidak perlu lagi susah payah mencari air sampai jauh," ucap Ahmad, seorang warga Panyepen saat uji coba kran air bersih pertama kali dilakukan.

\

Apresiasi senada disampaikan Kepala Desa Panyepan, Abdus. Menurutnya, kepastian pasokan air pada musim tanam tembakau menjadi penentu utama kesejahteraan warga desa.

"Saat masa tanam butuh air stabil, debit sumur dangkal warga biasanya merosot tajam. Keterbatasan air selalu berdampak pada penurunan kualitas panen tembakau, padahal tembakau adalah tulang punggung ekonomi keluarga di sini. Bantuan irigasi ini adalah investasi sosial yang sangat berharga," jelas Abdus.

Pembangunan yang dilakukan TNI AD dalam KBSB 2026 tidak berhenti pada fasilitas fisik sekala besar. Lewat pendekatan yang menyeluruh, program ini mendampingi keluarga prasejahtera untuk keluar dari masalah ekonomi dan sosial.

Secara keseluruhan di seluruh Madura, program fisik KBSB 2026 meliputi pembangunan 33 unit jembatan penyeberangan dan penghubung antarwilayah. Kemudian pengeboran 52 titik sumur bor beserta jaringan perpipaan air bersih.

Selanjutnya renovasi 400 unit Rumah Tidak Layak Huni (RTLH) yang dilengkapi fasilitas sanitasi MCK yang memadai, pembangunan dan pemulihan 20 rumah ibadah, hingga rehabilitasi 12 gedung sekolah serta 4 panti asuhan.

Di sisi lain, program nonfisik menyentuh aspek kesehatan masyarakat yang membutuhkan bantuan medis darurat. Tercatat sebanyak 313 warga mendapatkan operasi katarak gratis, 300 anak mengikuti khitanan massal dan operasi bibir sumbing, layanan bakti kesehatan untuk 400 warga, penyaluran 1.000 kantong donor darah, serta pembagian alat bantu mobilitas berupa 124 kursi roda dan 23 kaki palsu.

Marham, seorang warga penerima manfaat kaki palsu di Sampang, menuturkan bantuan fisik tersebut mengembalikan kemandiriannya untuk kembali bekerja dan beraktivitas harian.

"Bantuan ini sangat berarti bagi saya. Bukan hanya sebagai alat bantu mobilitas untuk beraktivitas, tetapi menjadi bentuk perhatian nyata agar kami bisa kembali mandiri," kata Marham.

Baca juga: Ekspansi MRT Lin Timur Barat, Intiland Rancang Hunian Terintegrasi

Untuk mendukung sektor pertanian dan kelestarian lingkungan, disalurkan pula 7 unit mesin irigasi pompa air, penanaman 2.000 pohon trembesi untuk penghijauan daerah aliran sungai, serta aksi bakti lingkungan yang tersebar di 200 titik pedesaan.

Banyak yang menilai, suksesnya Karya Bakti Skala Besar ini jadi bukti kuat betapa solidnya kolaborasi antara TNI, pemerintah daerah, dan warga di lapangan

Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa menuturkan bahwa sinergi lintas sektoral ini menjadi kunci utama percepatan pemerataan pembangunan di daerah yang selama ini sulit dijangkau anggaran reguler.

"Program ini bukan hanya soal fisik bangunan, tetapi merawat kembali budaya gotong royong dan kebersamaan di tengah masyarakat. Pemerataan infrastruktur di Madura akan menjadi fondasi bagi pertumbuhan ekonomi regional yang lebih kuat," tutur Khofifah.

Bupati Sampang H. Slamet Junaidi menambahkan, masuknya program infrastruktur pedesaan seperti sumur bor dan perbaikan rumah warga secara langsung meringankan beban APBD dalam penanganan kawasan permukiman kumuh dan rawan bencana kekeringan.

Sementara itu, Komandan Korem 084/Bhaskara Jaya Brigjen TNI Kohir menyatakan bahwa penentuan lokasi sasaran KBSB telah melewati kaji dampak sosial dan ekonomi.

"Kami memilih wilayah terluar dan tertinggal dengan pertimbangan konkret: mendorong kemandirian desa. Ketika akses jalan terbuka dan fasilitas dasar air serta hunian layak terpenuhi, roda ekonomi lokal akan berputar secara mandiri," pungkas Kohir.

Selesainya jajaran proyek infrastruktur dasar ini menjadi babak baru bagi desa-desa di Pulau Madura. Pembangunan yang berfokus pada fasilitas publik dan kebutuhan dasar warga tak hanya menghubungkan daerah terpencil, tetapi juga mendorong pemerataan ekonomi hingga ke pelosok.

Ikuti perkembangan berita terkini Jawa Timur dan sekitarya di Aplikasi jatimnow.com!
Berita Bangkalan

Berita Terbaru
Tretan JatimNow

Terpopuler