jatimnow.com - Ancaman gempa bumi yang terus membayangi Indonesia mendorong kalangan akademisi menghadirkan inovasi di bidang konstruksi. Guru Besar ke-251 Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Prof Data Iranata, mengembangkan model sambungan balok-kolom komposit baja-beton yang dirancang untuk meningkatkan ketahanan bangunan saat terjadi gempa.
Inovasi tersebut berangkat dari fakta bahwa sebagian besar korban gempa bukan disebabkan oleh guncangan, melainkan runtuhnya bangunan akibat struktur yang gagal menahan beban.
Menurut Prof. Data, bangunan yang dirancang sesuai standar sebenarnya mampu mengendalikan tingkat kerusakan ketika gempa terjadi sehingga risiko korban jiwa dapat ditekan.
"Apabila bangunan dirancang sesuai dengan peraturan yang berlaku, tingkat kerusakan akibat gempa sebenarnya dapat diprediksi dan dikendalikan," ujarnya.
Guru Besar Departemen Teknik Sipil Fakultas Teknik Sipil, Perencanaan, dan Kebumian (FTSPK) ITS itu menjelaskan, tujuan utama rekayasa struktur bukan menciptakan bangunan yang tetap utuh tanpa kerusakan.
Sebaliknya, bangunan harus didesain agar kerusakan terjadi pada bagian yang telah diperhitungkan, sementara elemen utama seperti kolom tetap berdiri sehingga penghuni memiliki waktu untuk menyelamatkan diri.
"Penghuni harus memiliki kesempatan untuk evakuasi secara aman sebelum bangunan runtuh atau rusak guna meminimalisir korban jiwa," katanya.
Untuk mencapai tujuan tersebut, alumnus Teknik Sipil ITS itu mengembangkan model sambungan balok-kolom Steel Reinforced Concrete (SRC) menggunakan simulasi berbasis Finite Element Method (FEM).
Baca juga:
Menteri LH Lirik Inovasi ITS untuk Atasi Sampah dan Air Bersih
Material baja dipilih karena memiliki daktilitas lebih tinggi dibandingkan beton sehingga lebih efektif menyerap energi saat terjadi gempa.
Namun, Prof. Data menegaskan bahwa penggunaan baja dalam jumlah besar tidak otomatis membuat struktur lebih kuat. Faktor yang paling menentukan justru terletak pada konfigurasi sambungan yang mampu mendistribusikan tegangan dan mengendalikan pola kerusakan secara efektif.
Dalam penelitiannya, ia menguji tiga konfigurasi sambungan, yakni CS-01, CS-02, dan CS-03. Model CS-01 menggunakan profil baja Wide Flange (WF) yang ditanam dalam beton bertulang dan diperkuat tulangan sengkang.
Pada CS-02, baja WF dipasang tanpa ikatan tulangan sengkang, sedangkan CS-03 menggunakan balok baja utuh sebagai elemen sambungan.
Baca juga:
ITS Lepas 25 Tim Ekspedisi Patriot untuk Perkuat Kawasan Transmigrasi
Hasil simulasi menunjukkan bahwa setiap konfigurasi menghasilkan respons struktur yang berbeda terhadap beban gempa. Dari seluruh model yang diuji, konfigurasi CS-02 memberikan performa seismik paling optimal karena mampu mendistribusikan tegangan dan menyerap energi gempa secara lebih efektif.
Temuan tersebut menunjukkan bahwa efektivitas bangunan tahan gempa tidak hanya bergantung pada jumlah material baja yang digunakan, melainkan pada desain sambungan yang tepat.
Melalui riset tersebut, Prof. Data berharap pengembangan bangunan tahan gempa di Indonesia semakin mengutamakan aspek keselamatan tanpa mengesampingkan efisiensi konstruksi.
Inovasi itu juga diharapkan mendukung pembangunan infrastruktur yang lebih tangguh dan berkelanjutan, sejalan dengan tujuan Sustainable Development Goals (SDGs) ke-9 mengenai industri, inovasi, dan infrastruktur.