Keren! 86 Pebatik Banyuwangi Diakui Dunia Setelah Lulus Sertifikasi

Editor: Arif Ardianto / Reporter:

Pebatik Banyuwangi saat mengikuti sertifikasi kompetensi

jatimnow.com –  Sebanyak 86 pebatik lokal di Bumi Blambangan berhasil lulus sertifikasi kompetensi profesi batik. Hal ini merupakan upaya Pemerintah Kabupaten Banyuwangi untuk meningkatkan kualitas pembatik dan produk yang dihasilkannya.

Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas mengatakan, adanya sertifikasi kompetensi berarti para pembatik lokal mendapatkan pengakuan atas keahlian mereka baik di tingkat nasional maupun internasional.

Sertifikasi ini dikeluarkan langsung oleh Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) RI yang bekerjasama dengan Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP) Batik dan Pemkab Banyuwangi.

"Dengan mengikuti uji kompetensi ini pembatik didorong meningkatkan kualitas karya batiknya. Mereka bukan hanya bisa bersaing dengan sesama pebatik tulis di tanah air, tetapi karyanya juga layak untuk ekspor," jelas Anas, Senin (26/3/2018).

Bupati Anas menambahkan, pihaknya akan terus mendorong perkembangan batik yang berkembang di daerah. Salah satunya dengan mengikutsertakan dalam Banyuwangi Batik Festival yang telah digelar dalam 5 tahun terakhir ini.

"Batik festival ini kami gelar untuk memicu kreativitas para pembatik. Setelah lima tahun digelar, UMKM batik akhirnya tumbuh berkembang di Banyuwangi. Sertifikasi ini melengkapi upaya kami untuk terus meningkatkan kualitas pembatik," imbuh Anas.

Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan, Ketut Kencana mengatakan, pihaknya sudah bekerjasama dengan Bekraf RI dan LSP Batik untuk mengadakan uji kompetensi profesi batik.

Penilaiannya juga mengacu kepada standar kompetensi kerja nasional Indonesia (SKKNI) profesi batik tahun 2013.

"Uji kompetensi yang digelar awal Maret lalu ini diikuti 100 pebatik lokal. Hasilnya 86 pebatik kita telah memenuhi penilaian kriteria dan berhasil memperoleh sertifikat kompetensi profesi," kata Ketut.

Secara terpisah, Manajer LSP Batik, Roda Syamwil mengatakan, uji kompetensi ini seluruh pembatik mengikuti sejumlah tahapan penilaian, mulai dari pengetahuan, keterampilan, dan sikap kerja yang di lakukan dengan wawancara dan praktek langsung.

Penilaian dilakukan oleh 10 asesor yang telah berpengalaman dan juga merupakan praktisi batik dari berbagai daerah di Indonesia.

“Kami benar-benar teliti dalam mengeluarkan rekomendasi kompeten atau belum kompeten karena sertifikat ini adalah pengakuan yang dikeluarkan oleh pemerintah,” kata Rodia yang juga Kepala Program Studi Pendidikan Vokasi Universitas Negeri Semarang.

Rodia mengaku mendapatkan pengalaman yang mengesankan saat proses penilaian di Banyuwangi. Menurutnya, hampir semua pembatik memiliki pengetahuan yang luar biasa terhadap jenis-jenis motif batik daerah.

"Disini sangat potensial, karena para pembatik sangat paham dengan karakteristik batik daerah. Setiap saya tanya motif tertentu asal Banyuwangi, mereka menjawabnya dengan cepat dan tepat. Mulai Gajah Uling, Kopi Pecah, Kangkung Setingkes, bahkan juga tahu filosofinya masing-masing,” kata dia.

Hal ini tentu sangat menggembirakan, karena praktek di daerah lain sering ditemukan pebatik yang sangat terampil tapi kurang memahami filosofi motif batik yang mereka kerjakan. “Di Banyuwangi beda, mereka paham filosofinya,” pungkasnya.

 

Reporter: Hafiluddin Ahmad

Editor: Arif Ardianto

 


jatimnow.com menyajikan pemberitaan di daerah Jawa Timur dan sekitarnya, menyajikan berita yang dikemas dengan apik tanpa mengabaikan nilai-nilai jurnalisme.

Jalan Jimerto No. 17a Surabaya

Call:  (031) 99248116

Email: jatimnow@gmail.com

Newsletter