Erupsi Gunung Merapi Berkaitan Gempa Sleman?

Editor: REPUBLIKA.co.id / Reporter: REPUBLIKA.co.id

Gunung Merapi (foto: Antara)

jatimnow.com - Gunung Merapi di perbatasan Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) diketahui mengeluarkan satu kali awan panas letusan dengan tinggi kolom satu kilometer pada Minggu (17/11/2019).

Kepala Bidang Mitigasi Gempa Bumi dan Tsunami Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Daryono mengungkapkan peristiwa tersebut terjadi setelah gempa dengan magnitudo 2,7 mengguncang Sleman, DIY, pada sehari sebelumnya, Sabtu (16/11) pukul 02.54 Wib. Menurut dia, pusat gempa tersebut berada di sekitar Gunung Merapi.

"Episenter terletak pada koordinat 7,63 LS (lintang selatan) dan 110,47 BT (bujur timur), tepatnya di darat pada jarak 10 km arah selatan dari puncak Merapi pada kedalaman 6 km. Jadi, episenter gempa ini sangat dekat dengan puncak Merapi," ujar Daryono.

Adakah kaitan antara erupsi Merapi pada pagi hari ini dengan gempa tersebut? Dia menjelaskan, erupsi Merapi pada 14 Oktober 2019 lalu juga didahului serangkaian aktivitas gempa tektonik yang berpusat di sekitar Merapi.

"Aktivitas peningkatan vulkanisme memang sensitif dengan guncangan gempa tektonik," kata dia.

Secara tektovolkanik, lanjut dia, aktivitas gunung berapi dapat meningkatkan aktivitas vulkanisme. Namun, ada syaratnya. Gunung api tersebut mesti dalam kondisi sedang "aktif."

"Kondisi magma sedang cair dan kaya akan produksi gas. Dalam kondisi seperti ini, erupsi gunung api mudah dipicu gempa tektonik," ucap Daryono.

Dia mencatat, pada 2001 dan 2006 lalu, erupsi Gunung Merapi juga didahului aktivitas gempa tektonik. Sebagai perbandingan, di Jepang erupsi Gunung Unzen dan Gunung Pinatubo pada 1990 juga dipicu gempa tektonik.

Gempa tektonik dapat meningkatkan stress-strain yang lantas berpotensi memicu perubahan tekanan gas di kantong magma suatu gunung berapi. Alhasil, dia mengatakan, akumulasi gas pun terjadi. Hal ini lantas memicu terjadinya erupsi.

Terkait kasus erupsi Gunung Merapi pada hari ini, dia menegaskan perlu adanya kajian empiris untuk lebih dapat memastikan.

"Namun demikian, perlu ada kajian empiris untuk membuktikan kaitan ini," simpul dia.

 

Lihat Artikel Asli

DisclaimerBerita ini merupakan kerja sama jatimnow.com dengan Republika.co.id. Hal yang terkait dengan tulisan, foto, grafis, video, dan keseluruhan isi berita menjadi tanggung jawab Republika.co.id


jatimnow.com menyajikan pemberitaan di daerah Jawa Timur dan sekitarnya, menyajikan berita yang dikemas dengan apik tanpa mengabaikan nilai-nilai jurnalisme.

Jalan Jimerto No. 17a Surabaya

Call:  (031) 99248116

Email: jatimnow@gmail.com

Newsletter