Pilwali Surabaya 2020

Tudingan Armudji (Masih) Tetap Teka-teki

Editor: Redaksi / Reporter: Budi Sugiharto

Salah satu media cetak yang memuat pernyataan Armudji

jatimnow.com - Jejak digital di internet tidak bisa begitu saja dilupakan. Termasuk masa lalu Armudji, politisi senior di PDI Perjuangan yang kini diusung sebagai calon wakil wali kota Surabaya. 

Dari jejak digital yang ada yang dipantau jatimnow.com, Selasa (22/9/2020). Pria yang 20 tahun duduk di DPRD Surabaya, sebelum terpilih di DPRD Jatim ini beberapa kali melontarkan tudingan yang tidak pernah terungkap. Semua tudingan bak seperti sengaja dijadikan bola liar. Armudji tidak pernah menuntaskannya.

Ingatkah Anda jika Armudji pernah pamitan mundur dari pendaftaran bacawawali Surabaya dari partainya. Di depan media, dia mengaku merasa dihalangi pengurus cabang. Sayangnya dia tidak membocorkan identitas sang pengurus.

Saat itu, dia menyampaikan beberapa alasan hingga dirinya memutuskan mundur dari proses Pemilihan Wali Kota (Pilwali) Surabaya digelar. Salah satunya dirinya ingin memberikan kesempatan bagi beberapa pengurus DPC yang ingin maju, tetapi enggan mendaftar.

Selain itu, Armudji juga ingin berkonsentrasi membantu masyarakat yang kesulitan di masa Pandemi Covid-19 khususnya di wilayah Surabaya.

"Kami mengedepankan azas kemanusiaan menghadirkan wajah kader yang menampilkan pelayanan masyarakat dan sebagai kader kami siap menjalankan instruksi serta tunduk patuh terhadap perintah Ketua Umum Ibu Hj Megawati Soekarnoputri," jelas Armudji kepada wartawan menggelar jumpa pers di Kafe Omah Sae, Jalan Musi Surabaya pada Sabtu (4/7/2020).

Armudji yang juga menjadi pengurus DPD PDIP Jatim ini pamit mundur dari Pilwali Surabaya karena khaawatir ada menghalang-halangi. Saat pamitan, Armudji juga 'memamerkan' surat pengundurannya.

"Ada beberapa pengurus DPC yang menghalang-halangi saya untuk berkonsolidasi. Makanya dari itu lebih baik saya yang mundur. Kita beri kesempatan pada mereka untuk maju. Meskipun sampai saat ini siapapun yang direkom belum tahu," ungkapnya saat itu.

"Sekali lagi saya katakan, belum ada satupun pengurus dewan pimpinan daerah maupun dewan pimpinan cabang PDI Perjuangan siapa yang akan mendapatkan rekom. Mumpung rekom ini belum diturunkan kepada siapapun, maka bagi pengurus-pengurus DPC yang ingin mau mempunyai keinginan maju ke sana silahkan. Saya sebagai senior lebih baik mundur dan memberikan kesempatan bagi mereka-mereka yang mempunyai syahwat seperti itu," tambah Armudji.

Dia menyebut ada yang menghalang-halangi dirinya saat konsolidasi. Dia menegaskan bahwa setiap kegiatannya selalu mendapat teguran.

"Saya mengajak seseorang juga tidak diperbolehkan. Ini kan tentunya sesama kader partai seharusnya tidak seperti itu. Kita harus bergotong royong, kita harus saling mensupport karena sesama kader. Karena kita juga belum tahu siapa yang direkom. Makanya sebelum rekom itu ada, saya lebih baik yang mundur dari pada nanti menjadi kendala di belakang hari," paparnya.

"Kalau itu tidak ada. Tekanan dari internal partai tidak ada sama sekali. Cuma kalau ada hal-hal seperti itu kan nggak mengenakkan bagi saya. Karena mereka merasa sebagai pengurus mungkin, mungkin merasa yang paling berhak. Karena di sini saya cuma sebagai kader partai, itu yang menjadi pertimbangan saya," lanjutnya.

Mengapa mengalah?

"Bagi saya jabatan bukanlah segalanya. Nggak perlu kita ngoyoh (nafsu) atau saling menjegal. Kami siap mendukung siapapun yang direkom partai. Itu domainnya DPP. Saya tidak mau berkomentar soal isu ada yang direkom, sampai saat ini rekompun belum ada," tegas Armudji.

Pada saat itu juga Armudji akan menyerahkan surat pengunduran dirinya kepada DPC PDIP Perjuangan Kota Surabaya, ditembuskan ke DPD dan DPP PDIP. Tapi entah mengapa surat itu tidak juga diserahkan ke DPC, padahal lokasi konferensi pers dengan Kantor DPC PDIP Kota Surabaya tidak begitu jauh.

Tak lama kemudian beredar surat mundur yang tedapat tanda tangan Armujdji di atas materai. Namun alasan mundur di surat itu berbeda sesuai pernyataannya seperti yang direkam media.

Siapa pengurus yang dimaksud?

Kemudian, Armudji juga pernah menyebut adanya 'begal' di DPRD Surabaya. Lagi-lagi, ia tidak menyebut nama.

Ketua DPRD Surabaya yang baru, Adi Sutarwijono, tidak menghiraukan tudingan adanya 'begal' di rumah wakil rakyat yang berada di Jalan Yos Sudarso (YS) tersebut.

Sesama kader PDIP itu meminta media menanyakan ke yang bersangkutan.

"Silahkan tanya ke Cak Dji. Mungkin itu hanya bercanda," kata Adi Sutarwijono kepada jatimnow.com pada Kamis (10/3/2019).

Mantan Ketua DPRD Kota Surabaya, Armudji menyebut ada 'begal' di lingkungan gedung dewan. Pernyataan tersebut diduga buntut dari penetapan alat kelengkapan (AKD) yang menuai protes dari dua fraksi.

Pernyataan 'begal' tersebut diutarakan Armudji melalui sebuah grup WhatsApp yang beranggotakan ratusan orang berasal dari lintas profesi.

"Sak iki onok begal di YS," tulis Armudji pada grup WhatsApp.

Saat dikonfirmasi, politisi asal PDIP itu membenarkan bahwa istilah ada 'begal' di YS memang berasal darinya.

"Yang menciptakan istilah itu kan saya. Ada yang kebegal. Tidak kesampaian keinginannya," ujar Armudji pada Rabu (3/10/2019) malam.

Protes rangkap jabatan dalam unsur pimpinan alat kelengkapan dewan (AKD) mewarnai rapat paripurna yang digelar di Gedung DPRD Kota Surabaya, Selasa (1/10).

Yang cukup membuat geger bahwa Armudji sempat menuding anak pejabat Pemkot Surabaya bermain izin. Ingat kan sewaktu Jalan Raya Gubeng di Surabaya ambrol atau ambles, menganga seperti jurang?

Armudji yang menjadi Ketua DPRD Surabaya menuding adanya permainan perizinan proyek di Jalan Raya Gubeng.

Tak tanggung-tanggung, ia menyebut pelakunya anak pejabat pemkot.

Seperti dilansir sejumlah media di Surabaya, Armudji curiga dengan keteledoran Pemkot Surabaya karena terlalu tergesa-gesa mengeluarkan pemberian Izin Mendirikan Bangunan (IMB).

"Ada permainan izin yang diindikasikan dilakukan oleh anak pejabat Pemkot Surabaya. Ini bukan sekedar isu tetapi sudah umum di kalangan Pemkot. Ini murni keteledoran dan bukan faktor alam," kata Armudji seperti dimuat sejumlah media pada Rabu (19/12/201

Jalan Raya Gubeng ambles

Sayangnya isu tudingan yang sangat sensitif itu kemungkinan tak berlanjut. Armudji terkesan merahasiakan.

Reporter jatimnow.com berhasil menghubungi Armudji atau yang biasa disapa Cak Dji melalui sambungan telepon pada pukul 14.13 Wib, Sabtu (26/1/2019).

Berikut wawancara Fahrizal Tito dengan Armudji yang berlangsung singkat:

Anak pejabat itu siapa Cak?

Yo gak eroh, wah ojok mancing-mancing wah, gak ilok iku. wong wes buyar kok sik takon iku ae, mancing-mancing tok ae. Mancing, gak intuk iwak mujahir golek betik. (Ya tidak tahu, jangan mancing-mancing wah, gak boleh itu. Kan sudah selesai, masa tanya tentang itu terus, mancing-mancing tidak dapat Ikan Mujahir malah cari Ikan Betik).

Kan saat itu yang menyebut anak pejabat, hingga saat ini sudah menjadi rahasia umum?

Gak..gak..gak ngomong aku. Ndolek dewe kono. koen iku iso ae mancing-mancing iso ae, haduh.. haduh.. haduh.. wes ndolek berita liyane ae. (Ndak..ndak..ndak. Sudah saya gak ngomong itu, cari sendiri sana. kamu itu mancing-mancing saja, haduh.. haduh.. haduh.. sudah cari berita lain saja)

Sekali lagi, siapa yang dituding tetap misteri hingga kini. Ke 6 terdakwa sudah divonis bebas di Pengadilan Negeri Surabaya.

Tanggal 2 September 2020, PDIP menugaskan anak buah Tri Rismaharini, Eri Cahyadi sebagai calon wali kota Surabaya yang saat itu masih menjadi Aparatur Sipil Negara (ASN).

Jogo PDIP itu head to head dangan pasangan calon wali kota dan calon wakil wali kota Surabaya Irjen Pol (Purn) Machfud Arifin - Mujiaman Sukirno yang diusung delapan partai.

 Beredar surat mundur yang ada tanda tangan Armudji di atas meterai

Loading...

jatimnow.com menyajikan pemberitaan di daerah Jawa Timur dan sekitarnya, menyajikan berita yang dikemas dengan apik tanpa mengabaikan nilai-nilai jurnalisme.

Jalan Jimerto No. 17a Surabaya

Call:  (031) 99248116

Email: jatimnow@gmail.com

Newsletter