Pixel Code jatimnow.com

Anwar Sadad: Isilah Ruang Publik dengan Pemikiran-pemikiran Jernih

Editor : Zaki Zubaidi Reporter : Ni'am Kurniawan
Foto : Tangkapan Layar Stadium General IAI ITABAH
Foto : Tangkapan Layar Stadium General IAI ITABAH

Lamongan - Wakil Ketua DPRD Jawa Timur Anwar Sadad menegaskan perguruan tinggi merupakan bagian penting dalam konstruksi kehidupan berbangsa dan bernegara. Menurutnya, urgensi itu dapat dinilai baik dalam tinjauan sosiologi maupun agama.

"Perguruan tinggi adalah lembaga yang memproduksi pikiran-pikiran, gagasan-gagasan, teori-teori, atau ide-ide yang akan jadi bahan baku bagi suatu kebijakan yang bermutu,” jelas Sadad dalam acara studium general yang digelar Institut Agama Islam Tarbiyatut Tholabah, Lamongan, Kamis (10/2/2022).

Bertajuk 'Membengun Kolaborasi untuk Meneguhkan Moderasi Beragama di Perguruan Tinggi' dalam tinjauan agama, referensi menjadi penting dalam ajaran agama menegaskan kehidupan di dunia ini, dibangun dengan empat pilar.

Pertama, kontribusi pemikiran dari ulama atau cendikiawan. Kedua, kebijakan yang adil dari umara (pemimpin). Ketiga, kontribusi kaum elit secara ekonomi, kaum filantropis, dalam aksi sosial untuk kepentingan publik.

"Yang keempat adalah keridhoan dan doa orang-orang fakir miskin,” jelas Ketua Partai Gerindra Jatim itu.

Empat pilar itu, lanjut Sadad, bisa menjadi dasar untuk merancang dan membangun kolaborasi. Ia menilai semua itu memiliki manfaat dan ketergantungan. Lebih-lebih kolaborasi kampus dan pemerintah itu penting untuk membuat suatu kebijakan.

Hal ini bukan tanpa alasan, di masa-masa awal kemerdekaan para politisi yang mewarnai dan berjasa dalam proses berdirinya negara Indonesia merupakan kaum intelektual. Nuansa intelektualisme begitu kental karena founding fathers di antaranya adalah guru dan dosen.

Selain itu, keluarga Ponpes Sidogiri itu tak menampik bahwa panggung politik dewasa tak memberi ruang yang cukup besar kepada kaum intelektual. Imbasnya, perdebatan di ruang publik justru diriuhkan oleh gimmick dan politicking.

Baca juga:
Anwar Sadad Sebut RUU P2SK Bisa Jadi Kuburan Massal Koperasi

Menurutnya, kondisi itu amat kontras dengan suasana di awal-awal kemerdekaan Indonesia yang berisi pemikiran-pemikiran jernih.

"Ini salah siapa? Tidak ada yang bisa disalahkan. Tugas partai politik memang harus merekrut dan melakukan pendidikan politik kepada masyarakat agar panggung politik kita diisi kembali dengan perdebatan-perdebatan intelektual seperti tergambar dalam perdebatan BPUPKI menjelang kemerdekaan, sangat dalam, sangat bernas, oleh tokok-tokoh yang berintegritas,” lanjutnya.

Moderasi Beragama

Pria yang akrab disapa 'Gus Sadad' itu menegaskan bahwa kode genetika masyarakat Islam Indonesia adalah islam wasathiyah (moderat), selalu berada di antara dua ekstrem.

Baca juga:
Pengajian Istigasah Kubro 1 Abad NU, Parikan Anwar Sadad Bikin Ger

"Kalalu kita lihat sejarah teologi keagamaan ada Jabariyah dan Qadariyah, ada Khawarij dan Syiah, sementara al-Asy’ariyah ada di tengah-tengah atau sikap moderat atau dikenal dengan ummatan wasatha,” ungkap pria yang masuk bursa Cagub Jatim itu.

Sadad mengatakan cara pandang moderat inilah yang membuat Islam Indonesia dapat beradaptasi dengan zaman.

Apalagi, setelah berakhirnya politik identitas, isu utama adalah bagaimana kita bisa hidup berdampingan dengan multi-etnis dan multi-kultaral. Kesediaan untuk berkolaborasi tersebut telah dimiliki oleh watak dasar umat Islam Indonesia.

"Namun bergaul dengan dunia internasional yang multi kultural itu harus ditunjang dengan kompetensi, tanpa kompetensi maka kita akan digilas oleh peradaban pemikiran," pungkasnya.