jatimnow.com-Jika dihitung dari kelahirannya pada tanggal 31 Januari 1926 maka Nahdlatul Ulama (NU) telah mencapai seratus tahun. NU lahir di Surabaya. Pendirinya adalah para ulama besar, di antaranya Hadratussyekh KH. Hasyim Asy’ari sebagai Rois Akbar/Rois Aam pertama , KH. Abdul Wahab Hasbulloh dari Tambak Beras sebagai penggagas Komite Hijaz dan KH. Bisri Syansuri dari Denanyar Jombang Jombang yang ahli fiqih dan tokoh sentral pendidikan pesantren.
Usia satu abad adalah perjalanan yang penuh perjuangan bagi sebuah organisasi besar berhaluan Islam ahlus sunah wal jamaah yang sangat moderat, menghargai local wisdom dan rahmatan lil alamiin. Tema harlah NU ke 100 tahun “Mengawal Indonesia Merdeka, Menuju Peradaban Mulia”, merefleksikan bahwa kita benar-benar menjadi bangsa yang merdeka dan mampu bersaing dalam peradaban dunia dengan norma kaidah akhlakul karimah.
Dalam peringatan satu abad NU menuju abad kedua ini, PWNU Jawa Timur mengelar “Mujahadah Kubro” pada hari Minggu, 8 Pebruari 2026 di Stadion Gajayana Malang. Acara ini dihadiri Presiden Prabowo Subianto, Pengurus PBNU, PWNU dan Gubernur Jawa Timur. Ratusan ribu umat Nahdliyin yang tumplek blek penuh khidmat berdoa untuk keselamatan bangsa dan kemerdekaan Indonesia yang hakiki. Momentum mujahadah kubro ini diikuti secara khusyu’ oleh para nahdliyin yang tergabung dalam Muslimat, Fatayat, GP Ansor, IPNU-IPPNU, PMII, ISNU, Ishari (Ikatan Seni Hadrah Indonesia), Sarbumusi (Serikat Buruh Muslimin Indonesia), Jam’iyatul Qurro wal Huffadh, Pergunu (Persatuan Guru NU), Lazisnu (lembaga Zakat, Infaq, Shodaqoh NU), Jama’ah Thoriqoh Mu’thabaroh an Nahdliyah, Pencak Silat Pagar Nusa, SNNU (Serikat Nelayan Nahdlatul Ulama), Lembaga Wakaf dan Pertanahan NU (LWPNU), Lazisnu yang dalam progran NU Care - Lazisnu selalu memberi kontribusi kepada kelompok rentan bencana, menggalang santunan kepada kaum mustadafin (fakir miskin).
Organ NU sangat lengkap dan kompleks. Hal ini membuktikan bahwa NU tidak dibangun dalam narasi kosong yang tanpa tujuan, akan tetapi NU berkontribusi nyata dalam aksi pelayanan keumatan. NU punya kearifan lokal (local wisdom) yang memiliki akar nasionalisme dan budaya sebagai filter radikalisme dan arus globalisasi yang seringkali bersifat destruktif (Turmudi: 2024). NU juga hadir membawa misi “peradaban” untuk tatanan dunia yang berkeadilan, dan entitas hidup yang bertransformasi simultan dalam konteks global. Konsep NU dalam peradaban bukan hanya kumpulan ritual, melainkan instrumen menata kehidupan berbangsa dan bernegara.
Perjalanan NU dalam kontribusi kemasyarakatan, keberagamaan, berbangsa dan berpolitik sangat panjang. Sejak awal berdirinya tahun 1926 sebagai Jam’iyyah Diniyah (organisasi keagamaan), NU pernah menjadi partai politik dari tahun 1950-1984. Hal ini membuat NU sering terlibat dalam orkestrasi politik praktis yang kerap terjerumus dalam konflik kepentingan (conflict interest) berkepanjangan. Sehingga banyak kyai dan tokoh yang terpanggil agar NU kembali menjadi organisasi keagamaan tanpa berpolitik praktis. Akhirnya tahun 1984 dalam muktamar ke 22 di Situbondo tercetus Khittah NU, bahwa NU tidak lagi menjadi partai politik akan tetapi menjadi organisasi atau jam’iyah yang konsen dalam sosial keagamaan (Haidar: 1998).
Menyongsong abad kedua usia Nahdlatul Ulama, sebagai organisasi keagamaan Islam terbesar tidak sekadar mengibarkan slogan tawasut (moderat) secara amaliah ibadah dan penjaga tradisi, akan tetapi dituntut untuk adaptif menjadi penggerak peradaban dunia dengan kemandirian ekonomi dan keunggulan intelektual. Setidaknya terdapat empat pilar strategis yang harus diperjuangkan ;
Pertama, adalah transformasi Ekonomi dari konsumen menjadi produsen. Dalam seratus tahun usia NU, basis massa Nahdliyin dipersepsikan sebagai statistik pasar atau objek konsumen daripada pelaku ekonomi aktif (economic actors) d ilapangan ekonomi global. Sudah saatnya merubah mindset untuk merealisasikan bahawa NU mampu men-digitalisasi ekonomi keumatan seperti digitalisasi UMKM untuk mengajak jutaan petani dan pedagang kecil masuk ekosistem ekonomi digital agar mampu bersaing dengan korporasi besar. NU membimbing “jamaah” untuk berinvestasi pada teknologi dan energi terbarukan, membangun platform e-commerce, memiliki sistem payment getway yang terintegrasi dan memproduksi data. Bukan hanya sebagi user aplikasi asing.
Kedua, Modernisasi Pendidikan Pesantren. Pesantren sebagai fondasi utama NU diharapkan tidak “jumud” sebagai transmisi ilmu agama saja, melainkan bertransformasi dalam peningkatan ketrampilan (skill) santri, menjadi inkubator pendidikan modern yang relevan dengan dunia kerja dengan memanfaatkan kehadiran ruang digital untuk memperkuat intelektualitas (Qomar: 2025). Pemerintah dalam hal ini menjamin pendidikan Pesantren dengan mengesahkan Undang-Undang (UU) Nomor 18 Tahun 2019 tentang Pesantren, yang mengatur penyelenggaraan fungsi pendidikan, dakwah, dan pemberdayaan masyarakat di pesantren. UU ini bertujuan mengakui dan memberikan rekognisi, afirmasi, serta fasilitasi kepada pesantren sebagai bagian dari sistem pendidikan nasional, dengan tetap mempertahankan kekhasan tradisi pesantren. UU ini sebagai langkah modernisasi pendidikan dalam mendorong pesantren tertib secara managerial dengan sistem pendataan melalui EMIS (Education Management Information System), sehingga potret pesantren tidak berkonotasi “traditional ekslusif” tapi menjadi “modern akuntabel” tanpa mengubah kearifan lokal pesantren.
Baca juga:
Gandeng NU Jatim, Anlene Bagikan Susu Habbatussauda Sambut Ramadan 2026
Ketiga, Transformasi Digital. Sensus penduduk yang dilakukan Badan Pusat Statistik (BPS) pada tahun 2020 (sensus dilakukan 10 tahun sekali, landasan UU Nomor 16 Tahun 1997 tentang statistik) generasi pre-boomer (lahir sebelum 1945) sebanyak 1,87 persen, generasi baby boomer (lahir 1946-1964) 11,56 persen, generasi X (lahir 1965-1980) dengan populasi 21,88 persen, Generasi Mileneal (lahir 1981-1996) sejumlah 25,87 persen, generasi Z (lahir 1997-20120 mencapai 27,94 persen setara 75.49 jiwa dari total jumlah penduduk Indonesia berjumlah 270,2 juta jiwa. Sementara generasi post-Z/generasi Alpha lahir setelah 2013 mencapai 10,88 persen. Bonus demografi yang luar biasa ini, dimana fenomena jumlah penduduk usia produktif (umur 15-64 tahun) lebih dominan dibandingkan penduduk usia non produktif. Konsekuensinya generasi muda NU tidak boleh gagap tehnologi (gaptek), transformasi digital bukan lagi pilihan akan tetapi sudah menjadi keharusan bagi generasi muda NU, dengan berpacu melakukan digitalisasi data, dakwah virtual dan menguasai algoritma media sosial secara holistik. Transformasi digital merupakan perubahan fundamental bagaimana sebuah organisasi dengan bijak memfungsikan tehnologi mutakhir.
Keempat, Kontribusi peradaban dunia. Sebagaimana Tema harlah ke 100 tahun “mengawal Indonesia merdeka, menuju peradaban mulia”, sudah seharusnya NU memainkan peran kunci dalam diplomasi peradaban internasional untuk perdamaian dunia (sebagaimana NU punya konsep fiqih peradaban). NU menjadi ujung tombak (avant garde) yang mejadikan agama sebagi solusi dalam konflik global. NU sebagai wadah organisasi keagamaan seyogyanya terus mensyiarkan Islam nusantara untuk dunia, mempromosikan model Islam yang moderat, toleran dan mampu berdampingan secara damai dengan semua bangsa berlandaskan rahmatan lil alamiin (rahmat bagi semesta alam).
Pada akhirnya, Nahdlatul Ulama diharapkan mampu menjawab ekspektasi global dengan kontribusi nyata dikancah internasional, NU tidak boleh lagi hanya berfokus merawat tradisi (al muhafadzatu ‘ala qodimis sholih), tetapi harus aktif secara agresif menciptakan inovasi dan ekspansi peran global menjadi lokomotif peradaban dunia (wal akhdu bil jadidil ashlah). Selamat harlah ke 100 tahun dan selamat datang abad kedua Nahdlatul Ulama.
Baca juga:
Lawan Isolasi Sosial Digital, Pelajar NU Jabon Kembalikan Gen-Z ke Ruang Nyata
Adib Makarim, MH
Wakil Ketua PW IKA PMII Jawa Timur, Alumni Santri Ponpes Al-Kamal Kunir - Blitar
URL : https://jatimnow.com/baca-82262-merajut-ekspektasi-nu-songsong-abad-kedua