jatimnow.com - Menjalankan ibadah puasa Ramadan bagi penyintas penyakit kronis memerlukan kehati-hatian ekstra.
Guna menjawab kekhawatiran masyarakat, Rumah Sakit (RS) Universitas Airlangga (UNAIR) membedah strategi aman berpuasa bagi penderita gangguan ginjal dan lambung dalam seminar edukasi "Ramadhan Bermakna" di Surabaya, pekan lalu.
Spesialis Penyakit Dalam RS UNAIR, dr Mutiara Rizki Haryati SpPD K-GH, menjelaskan bahwa izin berpuasa bagi penderita gangguan ginjal sangat bergantung pada stadium penyakitnya. Menurutnya, kondisi setiap pasien unik dan tidak bisa dipukul rata.
Bagi pasien gangguan ginjal stadium 1 dan 2, ibadah puasa umumnya masih diperbolehkan mengingat fungsi pembuangan limbah tubuh yang cenderung masih optimal.
Akan tetapi, situasi medis menjadi jauh lebih kompleks saat memasuki stadium lanjut. Misalnya pada stadium 3a, pasien masih memungkinkan berpuasa asalkan berada di bawah pengawasan ketat, sementara bagi mereka di stadium 3b ke atas, sangat disarankan untuk tidak berpuasa demi menjaga stabilitas kesehatan.
Pengetatan ini semakin penting bagi pasien stadium 4 dan 5 yang belum menjalani dialisis, sebab memaksakan puasa berisiko mempercepat kebutuhan cuci darah.
Bagi penyintas yang telah menjalani transplantasi ginjal, para ahli menyarankan untuk menunggu setidaknya satu tahun pasca-operasi sebelum kembali menjalankan ibadah puasa secara aman
Baca juga:
Pasien RS Unair Kembali Dirawat Dalam Gedung, Usai Dievakuasi di Tenda Darurat
"Konsultasi dokter adalah wajib. Bagi yang berpuasa, pastikan tubuh tetap terhidrasi dan hindari makanan tinggi fosfat serta kalium," tegas dr Mutiara.
Di sisi lain, dr Andi Ratna Maharani SpPD menyinggung penyakit maag atau dispepsia yang kerap kambuh saat Ramadan. Ia menyebut pola makan buruk, seperti gemar mengonsumsi makanan pedas, asam, berlemak, serta konsumsi kafein berlebih sebagai pemicu utama.
Gaya hidup juga memegang peran krusial. Kebiasaan merokok, stres, hingga perilaku langsung berbaring setelah makan sahur atau buka menjadi faktor risiko yang sering diabaikan.
Baca juga:
Viral RS Unair Tutup Layanan Pasien Covid-19, Begini Faktanya
RS UNAIR mengingatkan penderita maag untuk tidak memaksakan diri jika tubuh mulai menunjukkan sinyal bahaya. dr Andi merinci beberapa kondisi yang mengharuskan pasien segera membatalkan puasa guna menghindari komplikasi serius.
Di antaranya, nyeri ulu hati yang berat dan mendadak, muntah terus-menerus, sakit kepala hebat disertai keringat dingin atau pingsan, dan muntah darah atau Buang Air Besar (BAB) berwarna hitam.
"Menghilangkan kebiasaan buruk bukan hanya memperlancar ibadah puasa, tapi juga mempercepat penyembuhan maag itu sendiri," pungkas dr Andi.
URL : https://jatimnow.com/baca-82477-panduan-puasa-ramadan-bagi-pasien-ginjal-dan-lambung