Pixel Code jatimnow.com

Fenomena Pagar Tinggi Mal Surabaya, Begini Pandangan Dosen Arsitektur UK Petra

Editor : Tim Jatimnow   Reporter : Ali Masduki
Fenomena pagar tinggi di sejumlah mal Surabaya dinilai berdampak pada estetika dan keterbukaan ruang publik. (Foto: Ilustrasi Gemini AI/jatimnow.com)
Fenomena pagar tinggi di sejumlah mal Surabaya dinilai berdampak pada estetika dan keterbukaan ruang publik. (Foto: Ilustrasi Gemini AI/jatimnow.com)

jatimnow.com - Kemunculan pagar besi berukuran tinggi di area luar sejumlah pusat perbelanjaan di Surabaya memicu perhatian publik. Selain berkaitan dengan aspek keamanan, keberadaan pembatas fisik tersebut dinilai turut memengaruhi kualitas estetika bangunan hingga keterbukaan ruang publik.

Dosen Arsitektur Universitas Kristen Petra (UK Petra), Rully Damayanti, menilai desain pagar seharusnya tidak diperlakukan sebagai elemen terpisah dari bangunan utama. Menurutnya, rancangan pagar idealnya memiliki kesinambungan visual melalui penggunaan material, warna, maupun pola yang selaras dengan arsitektur gedung.

"Dalam arsitektur, biasanya ada pengulangan elemen visual, seperti material, warna, atau pola bentuk dari bangunan utama ke rancangan pagar agar menciptakan kesatuan desain," ujar Rully.

Ia menjelaskan, tanpa keselarasan tersebut, pagar berpotensi mengurangi nilai estetika bangunan karena tampak berdiri sendiri dan tidak menyatu dengan komposisi arsitektur secara keseluruhan.

Dekan Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan UK Petra itu juga menyoroti dampak pagar tinggi terhadap pengalaman masyarakat dalam menikmati ruang kota. Menurutnya, pembatas yang terlalu masif dapat menghalangi pandangan dan memunculkan kesan eksklusif pada bangunan yang sejatinya berfungsi sebagai ruang publik.

Rully mengatakan, pendekatan desain yang mengedepankan pembatasan akses dan keamanan dikenal dalam dunia arsitektur sebagai arsitektur defensif. Konsep tersebut diterapkan untuk mengurangi risiko tindak kriminal, vandalisme, maupun kerusakan fasilitas melalui berbagai elemen desain.

Baca juga:
Mahasiswa UK Petra Kampanyekan Deteksi Dini Kanker Payudara

Penerapannya tidak hanya berupa pagar, tetapi juga dinding, penataan lansekap, pencahayaan, hingga pengaturan akses dan sirkulasi kawasan.

"Implementasinya dapat berupa elemen fisik pada ruang publik, misalnya pagar tinggi dengan bilah horizontal atau ujung tajam yang mengarah ke luar untuk menghambat intrusi," jelasnya.

Ia menambahkan, strategi defensif juga dapat diwujudkan melalui pengaturan elemen ruang di sekitar bangunan. Salah satunya dengan menghadirkan kolam yang mengelilingi bangunan sebagai penghalang fisik. Bahkan, dalam sejarah arsitektur pertahanan, parit berair yang dilengkapi hewan berbahaya pernah digunakan untuk memperkuat sistem perlindungan.

Baca juga:
Petra Theatre Angkat Trauma Pelecehan Pria lewat “The Chain”

Sebagai alternatif, Rully menawarkan pendekatan soft border atau pembatas yang lebih ramah terhadap ruang publik. Konsep tersebut memanfaatkan pagar tanaman, material transparan, atau vegetasi sebagai pembatas sehingga fungsi keamanan tetap terpenuhi tanpa menghilangkan keterbukaan visual.

"Pilihan soft border atau pagar dengan batas ketinggian yang terukur, misalnya sekitar 80 sentimeter, tetap dapat memenuhi fungsi pembatas area tanpa memutus koneksi visual warga. Dengan begitu, fungsi keamanan tetap berjalan tanpa menghilangkan kesan terbuka dari sebuah fasilitas publik," katanya.

Menurut Rully, setiap pengelola kawasan memiliki pertimbangan berbeda dalam menentukan bentuk pembatas. Namun, aspek keamanan sebaiknya tetap diimbangi dengan perhatian terhadap kualitas desain kota, sehingga ruang publik tetap nyaman, terbuka, dan memiliki nilai estetika yang baik.

Jerit Wong Cilik Pasar Tanjung Jember
Opini

Jerit Wong Cilik Pasar Tanjung Jember

Jerit wong cilik di Pasar Tanjung Jember: persoalan tata kelola, revitalisasi pasar, kemacetan, dan nasib pedagang di tengah Program Makan Bergizi Gratis.