jatimnow.com – Dunia pendidikan kembali tercoreng oleh aksi perundungan (bullying). Sebuah video yang memperlihatkan aksi kekerasan fisik terhadap seorang siswi Sekolah Dasar Negeri (SDN) di Kecamatan Tanggul, Kabupaten Jember, viral di media sosial. Ironisnya, penganiayaan ini diduga kuat hanya dipicu oleh persoalan 'cinta monyet'.
Insiden nahas tersebut diketahui terjadi pada Jumat (7/8/2026) sekitar pukul 12.30 WIB, tepat di depan area sekolah saat sedang berlangsung kegiatan ekstrakurikuler Pramuka.
Kanit Reskrim Polsek Tanggul, Aipda Aditya Prahara, mengungkapkan bahwa motif perundungan ini berakar dari rasa cemburu. Permasalahan bermula ketika korban yang masih duduk di bangku kelas V SD, menm-follow dan mengirim pesan ke akun TikTok milik pacar salah satu terduga pelaku.
"Kalau awal masalahnya itu, menurut informasi yang ada itu terkait masalah follow-follow-an TikTok kan gitu. Cemburulah, pacaran anak-anak SD ini," ujarnya.
Mengetahui hal tersebut, terduga pelaku yang merupakan siswi kelas VI dari sekolah yang berbeda, langsung menghubungi korban dan mengajaknya bertemu. Korban yang tidak menaruh curiga kemudian menyanggupi ajakan tersebut.
Mirisnya, kejadian yang berlangsung cepat di lingkungan sekolah ini luput dari pengawasan para guru. Saat insiden terjadi, para tenaga pendidik dilaporkan tengah sibuk mengurus pemindaian data Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) Paruh Waktu.
Baca juga:
Sakit Hati Sering Diejek, Pria di Jember Tega Habisi Teman Sendiri
"Tidak termonitor oleh guru kan gitu. Kan kejadiannya begitu cepat, dikira pada waktu itu anak-anak itu bercanda," terangnya.
Aksi kekerasan ini terungkap setelah salah satu teman pelaku merekam kejadian tersebut menggunakan ponsel milik pelaku. Video itu kemudian disebarkan ke grup WhatsApp pertemanan mereka hingga akhirnya bocor dan viral di tengah masyarakat.
Menindaklanjuti video viral tersebut, jajaran Muspika yang terdiri dari Polsek Tanggul, Koramil, Kepala Desa setempat, perwakilan guru, hingga Kasi dan Kabid Dinas Pendidikan Kabupaten Jember segera turun tangan untuk melakukan mediasi.
Baca juga:
Kasus Dugaan Perundungan Siswa SD di Kediri Diselesaikan Lewat Mediasi
Namun, upaya damai tersebut menemui jalan buntu. Mediasi urung terlaksana karena adanya miskomunikasi. Bahkan, saat rombongan mendatangi rumah korban, pihak keluarga telanjur merasa tersinggung oleh perkataan salah satu oknum guru.
“Jadi sementara waktu upaya mediasi ditangguhkan dulu sambil menunggu situasi mereda. Untuk pelaporan resmi ke Polsek memang belum ada, namun informasi terkininya pihak keluarga korban berencana melaporkan kasus ini langsung ke Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Polres Jember,” pungkas Adit.