Pixel Code jatimnow.com

World Breastfeeding Week, Mom Uung Jangkau 170 Ibu dan Keluarga

Editor : Tim Jatimnow   Reporter : Ali Masduki
Founder Mom Uung sekaligus Certified Breastfeeding Counselor Uung Victoria Finky, saat memberikan edukasi kepada ibu menyusui. (Foto: Mom Uung for jatimnow.com)
Founder Mom Uung sekaligus Certified Breastfeeding Counselor Uung Victoria Finky, saat memberikan edukasi kepada ibu menyusui. (Foto: Mom Uung for jatimnow.com)

jatimnow.com - Perjalanan menyusui tidak selalu berjalan mulus bagi setiap ibu. Persoalan yang dihadapi bisa berbeda, mulai dari minimnya informasi, kendala laktasi, kekhawatiran terhadap tumbuh kembang bayi, hingga kebutuhan akan dukungan pasangan dan keluarga.

Kondisi itu mendorong Mom Uung memperkuat gerakan #NoMotherLeftBehind dalam momentum World Breastfeeding Week 2026 pada 1–7 Agustus. Program tersebut ditujukan agar ibu rumah tangga maupun ibu bekerja memperoleh akses edukasi, konsultasi, serta pendampingan yang sesuai dengan kebutuhan mereka.

Founder Mom Uung sekaligus Certified Breastfeeding Counselor Uung Victoria Finky mengatakan, dukungan terhadap ibu menyusui tidak bisa hanya diukur dari keberhasilan produksi ASI.

“Kalau ngomongin menyusui, sebenarnya jangan cuma lihat ASI-nya keluar atau enggak. Di lapangan, ceritanya jauh lebih kompleks. Ada Mommy yang bingung, capek, butuh informasi, butuh didengar, bahkan ada yang sebenarnya sudah tahu ilmunya tapi masih bingung bagaimana menerapkannya,” ujar Uung.

Melalui #NoMotherLeftBehind, Mom Uung menggabungkan sejumlah bentuk pendampingan, mulai dari edukasi, konsultasi dengan konselor, kegiatan komunitas, aktivitas bersama pasangan, kunjungan rumah, hingga pendampingan di rumah sakit.

Uung menegaskan, setiap ibu memiliki kondisi dan kebutuhan yang berbeda. Karena itu, bentuk dukungan tidak bisa diseragamkan.

“Kalau butuh ilmu, kita edukasi. Kalau butuh konsultasi, ada konselor. Kalau butuh didengar, kita hadir. Bahkan ketika Mommy kesulitan datang, kita yang datang menghampiri,” katanya.

Temukan Persoalan Ibu dan Anak di Lapangan

Rangkaian kegiatan selama sepekan digelar di sejumlah wilayah Indonesia. Mom Uung menghadirkan Visit Posyandu, Couple Babywearing Workout, edukasi bersama tenaga kesehatan, konsultasi personal, home visit, intimate sharing session, hingga kunjungan ke rumah sakit.

Pendekatan langsung membuat sejumlah persoalan ibu dan anak dapat ditemukan lebih awal. Salah satunya terlihat dalam kegiatan di Posyandu Kapasari, Surabaya.

Dokter spesialis anak Dr. Ian Suryadi Suteja, M.Med.Sc., Sp.A menemukan anak berusia 11 bulan dengan berat badan 6,78 kilogram yang sehari-hari hanya mengonsumsi nasi putih tanpa lauk pendamping yang memadai. Ia juga menemukan anak berusia satu tahun dengan berat sekitar 6 kilogram.

“Yang saya temukan tadi cukup membuka mata. Ada anak 11 bulan beratnya baru 6,78 kilogram. Setelah kita tanya makannya apa, ternyata sehari-hari cuma nasi putih, lauknya enggak ada,” ujarnya.

Menurut Ian, kondisi tersebut menunjukkan pentingnya pendampingan kepada orang tua sejak dini. Edukasi tidak seharusnya baru diberikan ketika masalah pertumbuhan dan kesehatan anak sudah muncul.

“Anak perlu Asih, Asah, dan Asuh. Ada kasih sayang, stimulasi untuk tumbuh kembang, dan kebutuhan dasar seperti ASI, makanan bergizi, kesehatan, serta perawatan,” katanya.

Meski demikian, Ian mengingatkan orang tua agar tidak merasa terlambat ketika menemukan masalah pada tumbuh kembang anak.

“Kalau ditanya masih bisa diperbaiki atau enggak, masih bisa. Yang penting kita tahu masalahnya apa dan mulai diperbaiki dari sekarang,” tuturnya.

Temuan berbeda muncul dalam program home visit di Surabaya dan sekitarnya. Dokter spesialis anak dr. Natasya Ayu Andamari, Sp.A mengatakan, kekhawatiran orang tua tidak selalu menggambarkan persoalan yang sebenarnya terjadi.

Salah satu keluarga khawatir karena bayi mengalami head lag, belum mampu tengkurap, dan kenaikan berat badan yang dinilai lambat. Setelah diperiksa, persoalan lebih mengarah pada kurangnya stimulasi.

“Setelah kita evaluasi, ternyata lebih mengarah ke kurang stimulasi. Jadi kita langsung praktikkan stimulasi bersama orang tuanya,” kata Natasya.

Baca juga:
Cerita Uung Victoria Finky Arungi Laut 14 Jam demi Ibu Menyusui

Pendampingan selama sekitar 1,5 hingga 2 jam menunjukkan perkembangan positif. Head lag tidak lagi terlihat dan bayi mulai mampu tengkurap.

Pada keluarga lainnya, orang tua menduga bayi sering menyusu dan rewel karena produksi ASI ibu tidak mencukupi. Pemeriksaan langsung justru menunjukkan kondisi sebaliknya: aliran ASI terlalu deras atau oversupply.

“Masalahnya bukan ASI kurang, tetapi bagaimana mengatur transfer ASI dari ibu ke bayi supaya direct breastfeeding-nya lebih nyaman,” ujar Natasya.

Menurut dia, home visit memungkinkan tenaga kesehatan melihat kondisi ibu dan bayi secara langsung sehingga persoalan dapat diidentifikasi dengan lebih tepat.

Ayah dan Keluarga Ikut Berperan

Gerakan #NoMotherLeftBehind juga menempatkan pasangan, keluarga, tenaga kesehatan, komunitas, dan lingkungan sebagai bagian dari sistem pendukung ibu menyusui.

Sebanyak 25 pasangan suami istri mengikuti Couple Babywearing Workout dengan menggendong bayi mereka. Mom Uung juga menggelar Papa ASI Edu Stage dan Papa ASI Love Letter untuk mendorong keterlibatan ayah dalam perjalanan menyusui.

“Menurutku, Ayah bukan cuma support system, tapi bagian dari sistem itu sendiri. Perjalanan menyusui bukan tanggung jawab Mommy seorang,” kata Uung.

Di Posyandu Kapasari, sebanyak 45 ibu hamil dan ibu menyusui mengikuti edukasi mengenai 1.000 Hari Pertama Kehidupan, nutrisi, kesehatan anak, ASI, dan manajemen laktasi.

Baca juga:
Gerakan Mom Uung Sentuh Ibu Menyusui di Pulau Kangean

Di Malang, Mom Uung berkolaborasi dengan Bidan Afita Deliana untuk memberikan konsultasi kepada 10 pasangan ibu menyusui dan suami. Pendampingan mencakup praktik pijat oksitosin, penggunaan pompa ASI, hingga home visit.

Sementara di Surabaya, Gresik, dan Sidoarjo, home visit melibatkan konselor menyusui, bidan partner, Uung Victoria Finky, serta dokter spesialis anak.

Dukungan emosional diberikan melalui Intimate Sharing Session yang diikuti 40 peserta dalam format pasangan suami istri. Mom Uung juga menggelar konsultasi serentak di berbagai kota, termasuk wilayah di luar Pulau Jawa.

Rangkaian kegiatan ditutup dengan RS Kemenkes Visit yang diikuti 15 peserta untuk mendapatkan edukasi dan pendampingan bagi ibu yang baru melahirkan maupun ibu menyusui.

Jangkau Lebih dari 170 Ibu dan Keluarga

Selama World Breastfeeding Week 2026, rangkaian program #NoMotherLeftBehind menjangkau lebih dari 170 ibu, ayah, dan keluarga. Program tersebut melibatkan tenaga kesehatan serta ahli di bidang ibu dan anak, sekaligus memperluas edukasi melalui kanal digital.

Bagi Mom Uung, capaian tersebut bukan semata soal jumlah peserta. Setiap orang yang terlibat merepresentasikan keluarga yang memperoleh informasi, ruang konsultasi, dukungan emosional, atau pendampingan sesuai kebutuhannya.

Uung menilai dukungan kepada ibu menyusui harus berlanjut setelah momentum World Breastfeeding Week berakhir. Karena itu, #NoMotherLeftBehind diarahkan sebagai komitmen berkelanjutan melalui edukasi, konsultasi laktasi, komunitas, keterlibatan tenaga kesehatan, serta pendampingan langsung.

“Setiap Mommy punya kebutuhan yang berbeda, support yang diberikan juga harus hadir dengan cara yang sesuai,” tuturnya.

Bagi Mom Uung, menyusui merupakan perjalanan yang tidak sama bagi setiap ibu. Namun, akses terhadap informasi, kesempatan, dan dukungan yang layak seharusnya menjadi hak yang dapat diperoleh setiap ibu, di mana pun berada.