jatimnow.com - Dosen Universitas Airlangga (UNAIR) mendorong peternak kambing dan domba di Desa Sukorambi, Kabupaten Jember, meningkatkan produktivitas sekaligus pengelolaan ekonomi keluarga. Pendampingan dilakukan dengan memadukan ilmu peternakan, kesehatan hewan, pengolahan limbah kopi, dan perencanaan keuangan berbasis syariah.
Kegiatan pengabdian kepada masyarakat (pengmas) berlangsung di Dusun Curahdami, kawasan lereng Gunung Argopuro, pada Agustus 2026. Tim UNAIR menyasar kelompok ternak SiKambing Desa dengan pendekatan yang tidak hanya berfokus pada kesehatan dan pemeliharaan ternak, tetapi juga efisiensi biaya serta penguatan ekonomi rumah tangga.
Tim pengmas UNAIR dipimpin Dr. Irham Zaki, S.Ag., M.EI. dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) UNAIR. Ia didampingi Prof. Dr. Sunaryo Hadi Warsito, drh., M.P. dari Fakultas Kedokteran Hewan (FKH) UNAIR serta Prof. Dr. Sri Herianingrum, S.E., M.Si. dari FEB UNAIR.
Menurut Irham, potensi peternakan kambing dan domba di Sukorambi cukup besar. Namun, sebagian pengelolaannya masih dilakukan secara konvensional, mulai dari penyediaan pakan, perawatan kesehatan hewan, hingga pengaturan pendapatan keluarga.
“Melalui pengmas ini kami ingin hadir bukan sekadar memberi materi, tetapi membangun ekosistem yang berkelanjutan bersama semua pemangku kepentingan,” ujar Irham.
Pendampingan melibatkan UPT Pembibitan Ternak dan Hijauan Makanan Ternak (HMT dan HT) Provinsi Jawa Timur serta Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan Kabupaten Jember. Kolaborasi itu mempertemukan unsur akademisi, pemerintah, komunitas peternak, dunia usaha, dan media dalam pendekatan hexa helix.
Dari Keuangan Keluarga hingga Kesehatan Ternak

Materi pelatihan dirancang untuk menjawab persoalan yang dihadapi peternak dalam kehidupan sehari-hari. Salah satunya terkait kemampuan mengelola pendapatan hasil beternak.
Lina Nugraha Rani, S.E., M.SEI., membawakan materi mengenai perencanaan keuangan Islam bagi keluarga. Peserta diajak menyusun anggaran dengan menempatkan kebutuhan pokok, pendidikan, tabungan, dana darurat, transportasi, serta zakat dan infak secara proporsional.
Dengan simulasi pendapatan keluarga Rp2 juta per bulan, peternak diperkenalkan pada prinsip pengelolaan keuangan yang seimbang dan tidak berlebihan. Peserta juga mendapat informasi mengenai akses sejumlah program pemerintah, seperti Program Indonesia Pintar (PIP), Program Makan Bergizi, dan KIP Kuliah.
Dari sisi teknis peternakan, Prof. Sunaryo Hadi Warsito memberikan materi mengenai pemeliharaan kambing dan domba. Pembahasan mencakup manajemen kandang, pemberian pakan, hingga pencegahan dan penanganan penyakit yang umum menyerang ternak rakyat.
Inovasi lain diperkenalkan melalui pemanfaatan kulit kopi sebagai bahan pakan. drh. Sanul Karimah menjelaskan bahwa limbah pengolahan kopi yang selama ini kerap terbuang dapat dimanfaatkan untuk mendukung kebutuhan pakan domba.
Kulit kopi difermentasi bersama tebon jagung, dedak padi, dan EM4 selama 14–21 hari. Hasilnya dapat digunakan sebagai complete feed dengan kandungan protein kasar sekitar 11–12 persen.
“Di sini banyak peternak yang juga bertani kopi. Kulit kopi murah, bahkan bisa diperoleh gratis dari kebun sendiri. Daya simpannya juga lama dan pemanfaatannya dapat membantu mengurangi bau amonia dari kandang,” kata Sanul.
Konsep yang diperkenalkan tidak berhenti pada pakan. Limbah kopi dapat menjadi pakan ternak, sementara kotoran ternak diolah menjadi pupuk organik untuk kembali digunakan di kebun kopi.
Siklus itu membuka peluang penghematan biaya sekaligus menghasilkan produk sampingan yang dapat dikembangkan menjadi sumber pendapatan baru bagi peternak.
Peternak Praktik Langsung

Setelah sesi materi, peserta tidak hanya menerima penjelasan secara teori. Tim UNAIR bersama mitra mengajak peternak mempraktikkan sejumlah teknik yang dapat diterapkan secara mandiri.
Salah satunya pembuatan silase dari rumput yang tersedia di sekitar desa sebagai cadangan pakan. Peternak juga mendapat pelatihan mengolah kotoran ternak menjadi pupuk organik dalam bentuk padat maupun cair.
Pengetahuan mengenai pupuk menjadi relevan karena sebagian besar peternak di Sukorambi juga mengelola lahan pertanian. Produk olahan limbah ternak dapat digunakan sendiri untuk meningkatkan kesuburan lahan maupun dikembangkan sebagai produk bernilai jual.
Peserta juga diajari cara memberikan obat cacing kepada ternak. Teknik sederhana itu diharapkan membantu peternak melakukan perawatan rutin tanpa selalu bergantung pada tenaga medis hewan.
Praktik lapangan dipandu Prof. Sunaryo Hadi Warsito, drh. Sanul Karimah, dan Hanif Kurniawan, A.Md.Vet., di bawah supervisi Dr. Irham Zaki.
Baca juga:
Kisah Apoteker asal Surabaya Lolos S3 Griffith University Australia
Dapat Bantuan Vitamin dan Obat Cacing
Pendampingan turut disertai bantuan untuk mendukung kesehatan ternak kelompok SiKambing Desa. UPT HMT dan HT Jawa Timur menyerahkan 500 bolus vitamin B kompleks dan 100 bolus obat cacing.
Bantuan diserahkan drh. Sanul Karimah kepada kelompok ternak untuk segera dimanfaatkan dalam pemeliharaan kambing dan domba milik warga.
Ketua kelompok ternak SiKambing Desa, Subaedi, mengatakan pelatihan tersebut memberikan pengetahuan baru bagi para anggota. Salah satu yang menarik perhatian peternak adalah pemanfaatan kulit kopi yang tersedia di lingkungan sekitar sebagai bahan pakan.
Menurut dia, pengelolaan keuangan keluarga juga menjadi aspek penting karena hasil beternak tidak cukup hanya diperoleh, tetapi perlu direncanakan agar dapat menopang kebutuhan rumah tangga secara berkelanjutan.
Irham berharap pendampingan tidak berhenti pada satu kegiatan. UNAIR mendorong adanya penguatan kapasitas peternak secara berkelanjutan, terutama dalam formulasi pakan berbasis bahan lokal dan pengelolaan keuangan keluarga.
“Pengabdian ini bukan kegiatan sekali jalan. Kami ingin ada pendampingan berkelanjutan sehingga potensi peternakan lokal di Sukorambi benar-benar bisa naik kelas, baik dari sisi produktivitas ternak maupun kesejahteraan ekonomi keluarga peternak,” ujarnya.
Kolaborasi tersebut sekaligus memperlihatkan peran perguruan tinggi dalam menjembatani pengetahuan akademik dengan kebutuhan masyarakat. Di lereng Argopuro, penguatan peternakan tidak hanya berbicara tentang jumlah dan kesehatan ternak, tetapi juga bagaimana limbah dimanfaatkan, biaya ditekan, dan hasil usaha dikelola untuk memperkuat ekonomi keluarga.
URL : https://jatimnow.com/baca-86775-dosen-unair-dampingi-peternak-jember-olah-limbah-kopi-jadi-pakan