jatimnow.com - Besok, 17 Agustus 2026, bangsa ini kembali mengibarkan Merah Putih. Di halaman kantor, sekolah, kampus, kampung, hingga gang-gang kecil, bendera itu akan berkibar. Lagu-lagu perjuangan akan dinyanyikan.
Upacara akan digelar. Kita akan kembali mengenang para pendiri republik yang telah memperjuangkan kemerdekaan dengan pengorbanan yang tidak kecil.
Tetapi, di tengah seluruh perayaan itu, ada satu pertanyaan yang perlu kita ajukan, yaitu: Setelah 81 tahun Indonesia merdeka, sudahkah kita benar-benar memerdekakan anak-anak muda kita?
Pertanyaan ini penting. Sebab kemerdekaan bukan hanya perkara bebas dari penjajahan. Kemerdekaan juga berarti memberikan kesempatan kepada setiap warga negara untuk mengembangkan potensi dirinya dan menentukan masa depannya. Dan salah satu pintu terpenting menuju kemerdekaan itu adalah pendidikan.
Kita sering mengatakan bahwa anak muda adalah masa depan bangsa. Kalimat itu benar. Tetapi jangan berhenti sebagai slogan. Kalau anak muda adalah masa depan Indonesia, maka masa depan itu harus dipersiapkan. Tidak cukup hanya meminta mereka berprestasi. Tidak cukup pula mengatakan agar mereka bekerja keras. Kita harus memastikan mereka memiliki kesempatan untuk belajar.
Di sinilah persoalannya. Tidak semua anak muda lahir dalam keluarga dengan kemampuan ekonomi yang sama. Ada yang sejak kecil memiliki akses terhadap buku, teknologi, lingkungan belajar dan pendidikan yang baik. Ada pula yang harus berjuang lebih keras hanya untuk mempertahankan cita-citanya.
Padahal, boleh jadi, di antara mereka terdapat calon guru yang kelak mendidik ribuan anak. Ada calon birokrat yang kelak membuat kebijakan publik. Ada calon pengusaha yang membuka lapangan pekerjaan. Ada calon ilmuwan, teknolog, profesional, pemimpin sosial, bahkan pemimpin bangsa. Kita tidak pernah tahu.
Karena itu, jangan sampai kemampuan ekonomi hari ini menjadi alasan untuk mematikan potensi Indonesia di masa depan. Pendidikan tinggi tidak boleh hanya menjadi menara yang tinggi, tetapi pintunya sulit dibuka oleh mereka yang berada di bawah.
Dalam konteks itulah saya melihat ada sebuah ikhtiar luar biasa yang dilakukan Universitas Dr. Soetomo (UNITOMO) menjelang peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia sebagai sesuatu yang lebih dari sekedar program penerimaan mahasiswa baru.
UNITOMO memberikan kemudahan bagi anak-anak muda yang ingin melanjutkan pendidikan tinggi. Formulir pendaftaran diberikan secara gratis. Tersedia pula skema pembiayaan pendidikan hanya Rp750.000 per bulan untuk kelas reguler dan professional semua jurusan, dan hanya Rp900.000 per bulan untuk Fakultas Ilmu Kesehatan.
Bagi calon mahasiswa yang telah mendaftar KIP-K tetapi belum memperoleh pengumuman kelulusan, tersedia pula kesempatan mengikuti jalur reguler dengan skema tersebut. Jika kemudian dinyatakan lulus KIP K, pembayaran yang telah dilakukan dikembalikan sesuai ketentuan yang berlaku.
Baca juga:
10 Lomba Agustusan Anti Mainstream, Dijamin Seru Abis!
Tentu, angka-angka itu penting. Tetapi sesungguhnya bukan angka itulah pesan terbesarnya. Pesan terbesarnya adalah kepedulian. Sebuah perguruan tinggi sedang mengatakan kepada anak-anak muda: “jangan berhenti bermimpi hanya karena keadaan ekonomi.” Ini bukan sekedar diskon biaya kuliah. Tetapi ini adalah upaya membuka pintu.
Di sinilah perguruan tinggi semestinya menempatkan dirinya dalam kehidupan kebangsaan. Universitas bukan hanya sekedar tempat seseorang memperoleh gelar akademik. Tetapi ruang strategis untuk menyiapkan manusia Indonesia. Apalagi kita sedang menuju 2045, Indonesia Emas.
Indonesia Emas harus dibangun oleh manusia-manusia yang hidup di dalamnya. Karena itu, ketika kita berbicara tentang bonus demografi, transformasi digital, kecerdasan buatan, ekonomi kreatif, hilirisasi, industri masa depan dan daya saing global, maka sejatinya kita sedang berbicara tentang: kualitas manusia.
Maka pendidikan tinggi harus berani menjawab tantangan zaman: bukan hanya mencetak sarjana yang mencari pekerjaan, tetapi menyiapkan manusia yang mampu menciptakan nilai, memecahkan persoalan dan memberi manfaat.
Ada satu hal yang sering terlupakan dalam perayaan kemerdekaan. Kita terlalu sering memandang kemerdekaan sebagai warisan. Padahal kemerdekaan juga merupakan tanggung jawab. Para pejuang telah mewariskan negara ini kepada kita. Tugas generasi sekarang adalah memastikan warisan itu tidak berhenti pada seremoni.
Baca juga:
Peringati Malam 17an, Tiga Pilar Lamongan Gelar Salat Hajat hingga Doa Bersama
Jika dulu para pahlawan memerdekakan Indonesia dari penjajahan, maka generasi kita memiliki pekerjaan sejarah yang berbeda: memerdekakan manusia Indonesia dari kebodohan, keterbelakangan, kemiskinan kesempatan dan keterbatasan akses terhadap pengetahuan. Dan anak-anak muda adalah titik strategisnya.
Saya kira inilah cara yang lebih substantif dalam memaknai kemerdekaan. UNITOMO, melalui ikhtiar ini, sedang mencoba memberikan salah satu jawabannya. Kemerdekaan tidak boleh hanya membuat kita bangga menjadi bangsa Indonesia.
Tetapi harus membuat kita bertanggung jawab atas masa depan Indonesia. Dan salah satu bentuk tanggung jawab itu adalah memastikan anak-anak muda mendapatkan kesempatan untuk menggembleng dirinya.
Sebab sesungguhnya, memerdekakan anak muda melalui pendidikan adalah salah satu cara paling nyata untuk mengisi kemerdekaan. Dan barangkali, itulah makna kemerdekaan yang perlu kita bawa dari 17 Agustus 2026 menuju Indonesia Emas 2045: Bukan sekadar mewariskan Indonesia kepada generasi berikutnya, tetapi menyiapkan generasi berikutnya agar mampu mewarisi, menjaga, dan membawa Indonesia menjadi bangsa yang lebih maju, adil dan bermartabat.
Oleh: Ulul Albab
Akademisi & Mantan Rektor Unitomo (2007-2012)
URL : https://jatimnow.com/baca-86777-memerdekakan-anak-muda-dengan-pendidikan