Pixel Code jatimnow.com

Gus Ipang Sebut Kiai Imjaz Tokoh Transformatif Pesantren

Editor : Tim Jatimnow   Reporter : Ali Masduki
Gus Ipang menilai Kiai Imjaz sebagai tokoh transformatif yang mendorong pesantren beradaptasi dengan teknologi, profesionalisme, dan tantangan global. (Foto/jatimnow.com)
Gus Ipang menilai Kiai Imjaz sebagai tokoh transformatif yang mendorong pesantren beradaptasi dengan teknologi, profesionalisme, dan tantangan global. (Foto/jatimnow.com)

jatimnow.com - Wakil Pengasuh Pesantren Trensains Jombang sekaligus Komisaris Telkomsel, Gus Ipang Wahid, menilai KH Imam Jazuli atau Kiai Imjaz sebagai salah satu figur yang menunjukkan arah baru transformasi pesantren di Indonesia.

Menurut dia, perjalanan Kiai Imjaz membangun Pesantren Bina Insan Mulia (BIMA) memperlihatkan bahwa pesantren dapat mempertahankan akar tradisi keislaman sekaligus beradaptasi dengan perkembangan teknologi, ilmu pengetahuan, dan persaingan global.

Gus Ipang mengatakan transformasi tidak selalu berawal dari lembaga dengan sumber daya besar. Perubahan, menurut dia, justru bisa muncul dari keberanian membangun institusi dari bawah dan mengembangkan gagasan melalui kerja nyata.

"Saya selalu terpukau oleh orang yang memulai sesuatu dari angka nol. Bukan dari satu, apalagi dari fasilitas warisan. Membangun pesantren dari bawah, di tengah persaingan zaman digital, adalah pekerjaan yang sangat berat," ujar Gus Ipang dalam keterangan pers, Senin (17/8/2026).

Ia menilai perkembangan BIMA menjadi contoh bagaimana visi pendidikan pesantren yang adaptif dapat dibangun secara bertahap. Dalam sekitar 13 tahun, pesantren itu disebut telah memiliki lebih dari 5.000 santri dengan kawasan mencapai sekitar 92 hektare.

Dari sisi pendidikan tinggi, sekitar 70 persen alumni BIMA disebut memperoleh beasiswa untuk melanjutkan studi di perguruan tinggi ternama dunia. Sementara sekitar 30 persen lainnya diterima di perguruan tinggi negeri (PTN).

Bagi Gus Ipang, capaian itu tidak hanya mencerminkan pertumbuhan sebuah lembaga pendidikan. BIMA dinilai tengah mengembangkan model pesantren yang memadukan tradisi keislaman dengan penguasaan sains, teknologi, wawasan internasional, dan kemandirian ekonomi.

Gus Ipang menilai keberanian keluar dari pola pendidikan konvensional menjadi salah satu karakter Kiai Imjaz. Pesantren, kata dia, tetap perlu menjaga tradisi keilmuan dan spiritualitas, tetapi tidak boleh berhenti melakukan pembaruan.

Pembaruan itu dapat menyentuh kurikulum, metode pembelajaran, visi kelembagaan hingga orientasi lulusan.

"Santri hari ini tidak cukup hanya memiliki kemampuan keagamaan. Mereka juga harus menguasai teknologi, memahami komunikasi global, memiliki wawasan internasional, serta mampu mandiri secara ekonomi," katanya.

Menurut Gus Ipang, nilai keikhlasan yang menjadi fondasi pesantren tidak bertentangan dengan profesionalisme dalam pengelolaan lembaga.

"Keikhlasan tidak pernah berseteru dengan profesionalisme. Keduanya adalah sepasang sayap. Tanpa keikhlasan, gerakan kehilangan roh. Tanpa profesionalisme, niat baik bisa berhenti sebagai impian," ujarnya.

Transformasi yang dilakukan Kiai Imjaz, lanjut Gus Ipang, tidak berhenti di lingkungan BIMA. Sejak 2024, Kiai Imjaz disebut menggelar workshop gratis bagi para pengasuh pesantren.

Program peningkatan kapasitas itu terus berkembang dan hingga 2026 disebut telah diikuti hampir 5.000 pengasuh pesantren.

Gus Ipang menilai pendekatan tersebut berpotensi menciptakan efek berantai. Para pengasuh yang mengikuti pelatihan dapat membawa pengetahuan dan gagasan baru untuk diterapkan di pesantren masing-masing.

"Kalau satu pengasuh pulang membawa gagasan baru ke pesantrennya, maka perubahan itu tidak berhenti di ruang workshop. Ia bergerak ke daerah masing-masing," kata dia.

Baca juga:
Kampung Literasi Gang Aufa Ramaikan Muktamar ke-35 NU di Jombang

Ia menyebut kegiatan tersebut dibiayai secara mandiri oleh Kiai Imjaz tanpa sponsor maupun mitra eksternal. Kiai Imjaz juga disebut terlibat langsung dalam penyusunan materi dan pelaksanaan pelatihan.

"Ini bukan lagi sekadar program kerja. Ini potret gerakan baru pendidikan pesantren berbasis kultural di Indonesia," ujar Gus Ipang.

Gus Ipang juga mengaitkan karakter kepemimpinan Kiai Imjaz dengan kebutuhan Nahdlatul Ulama (NU) dan pesantren di masa mendatang.

Menurut dia, organisasi sebesar NU membutuhkan figur yang memiliki pijakan kuat pada tradisi sekaligus mampu membaca perubahan secara strategis.

"NU adalah kapal yang sangat besar. Untuk menggerakkannya, dibutuhkan keberanian sekaligus inovasi," katanya.

Pemimpin pesantren dan organisasi keumatan, lanjut Gus Ipang, tidak cukup hanya menguasai persoalan internal. Mereka perlu mampu mendorong perubahan di bidang pendidikan, sumber daya manusia, teknologi, ekonomi hingga membangun jejaring global.

Karakter itu, menurut dia, terlihat dalam perjalanan Kiai Imjaz yang mempertahankan fondasi tradisi pesantren tanpa menjadikannya sebagai penghalang inovasi.

Sebaliknya, tradisi diposisikan sebagai modal untuk membangun sistem pendidikan yang sesuai dengan kebutuhan generasi baru.

Baca juga:
Gus Yahya Ungkap Alasan Mbah Wahab Batal ke Saudi dan Cikal Bakal NU

Model pendidikan yang dikembangkan BIMA juga dinilai dapat mengubah cara santri memandang masa depan. Santri tidak hanya dipersiapkan sebagai penjaga warisan keilmuan, tetapi juga sebagai aktor dalam perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, ekonomi, dan masyarakat global.

Gus Ipang berpandangan, perpaduan spiritualitas dan kompetensi profesional dapat membuat santri lebih percaya diri memasuki berbagai bidang yang sebelumnya dianggap berada di luar lingkungan pesantren.

"Pesantren tidak seharusnya menjadi tempat untuk menghindari perubahan. Pesantren justru harus menjadi tempat lahirnya manusia yang mampu menghadapi dan mengarahkan perubahan," ujarnya.

Ia melihat pendekatan itu sebagai bagian dari narasi baru pendidikan Islam di Indonesia: pesantren yang tetap berakar pada tradisi, tetapi mampu menyiapkan generasi untuk menghadapi masa depan.

Gus Ipang menilai perjalanan Kiai Imjaz pada akhirnya bukan hanya tentang pertumbuhan BIMA. Pengalaman membangun lembaga dari bawah kemudian diperluas melalui jejaring dan peningkatan kapasitas pengasuh pesantren di berbagai daerah.

Karena itu, ia menilai sebutan "Tokoh Transformatif Pesantren" layak disematkan kepada Kiai Imjaz, bukan hanya karena skala lembaga yang dibangunnya, tetapi juga karena upaya membagikan pengalaman tersebut kepada pesantren lain.

"Masa depan tidak ditunggu, melainkan diciptakan. Kiai Imjaz menunjukkan bahwa keberanian keluar dari zona nyaman, ketika dipadukan dengan kerja yang konsisten dan profesionalisme, dapat melahirkan perubahan yang nyata," kata Gus Ipang.

Bagi pesantren di Indonesia, tantangan ke depan bukan sekadar menjaga keberadaan lembaga, melainkan memastikan pondok pesantren mampu menjadi pusat pengembangan sumber daya manusia unggul sekaligus salah satu episentrum peradaban Islam modern.