Pixel Code jatimnow.com

BSI Cetak Rekor Baru, Jumlah Nasabah Capai 24,3 Juta

Editor : Tim Jatimnow   Reporter : Ali Masduki
Direktur Utama BSI Anggoro Eko Cahyo (tengah) bersama jajaran usai paparan kinerja perseroan triwulan II/2026 di Kantor Pusat BSI Jakarta (21/8/2026). (Foto: BSI for jatimnow.com)
Direktur Utama BSI Anggoro Eko Cahyo (tengah) bersama jajaran usai paparan kinerja perseroan triwulan II/2026 di Kantor Pusat BSI Jakarta (21/8/2026). (Foto: BSI for jatimnow.com)

jatimnow.com - Transformasi teknologi yang dilakukan PT Bank Syariah Indonesia Tbk (Persero) (BSI) mulai memberikan dampak terhadap pertumbuhan bisnis. Hingga Juni 2026, jumlah nasabah BSI mencapai 24,3 juta, menjadi rekor tertinggi sejak bank syariah itu berdiri.

Pertumbuhan nasabah semakin kencang setelah transformasi teknologi BSI rampung. Sejak Mei 2026, penambahan nasabah tercatat lebih dari 200.000 per bulan.

Lonjakan tersebut menjadi sinyal meningkatnya kepercayaan masyarakat terhadap layanan BSI sekaligus membuka ruang bagi perseroan untuk memperluas bisnis, mulai dari penghimpunan dana murah, pembiayaan, transaksi digital, wealth management, bisnis emas, hingga layanan haji dan umrah.

Direktur Utama BSI Anggoro Eko Cahyo mengatakan investasi teknologi yang dilakukan dalam beberapa tahun terakhir tidak semata-mata untuk memperbesar kapasitas sistem. Perseroan juga mengarahkannya untuk menghadirkan pengalaman transaksi yang lebih cepat, aman, dan andal.

“Teknologi bukan lagi sekadar fungsi pendukung operasional. Bagi BSI, teknologi telah menjadi mesin pertumbuhan bisnis. Semakin baik pengalaman nasabah, semakin tinggi tingkat kepercayaan, semakin besar akuisisi nasabah, dan semakin luas peluang untuk mengembangkan seluruh ekosistem layanan keuangan syariah,” ujar Anggoro saat paparan kinerja perseroan triwulan II/2026 di Kantor Pusat BSI Jakarta, Jumat (21/8/2026).

Penguatan sistem teknologi membuat BSI memiliki kapasitas lebih besar untuk menangani peningkatan volume transaksi sekaligus pertumbuhan pengguna digital.

Salah satu kanal utama yang menopang aktivitas nasabah adalah BYOND by BSI. Sepanjang 2026, aplikasi tersebut telah mencatat sekitar 1 miliar akses login.

Melalui BYOND, berbagai kebutuhan keuangan dapat dilakukan dalam satu platform, termasuk transaksi harian, investasi, pembiayaan, pengelolaan emas, hingga layanan haji.

BSI juga memperluas layanan pembiayaan digital melalui Hasanah KKI Card Digital. Produk tersebut menjadi kartu KKI syariah pertama di Indonesia dan dirancang untuk memudahkan nasabah memperoleh pembiayaan secara virtual tanpa kartu fisik.

Melalui aplikasi BYOND, nasabah dapat mengakses limit pembiayaan mulai Rp4 juta hingga Rp100 juta. Fitur yang tersedia antara lain cicilan 0 persen, sumber dana pembayaran QRIS, pemantauan limit dan tagihan, riwayat transaksi, serta notifikasi transaksi secara real time.

Ekosistem digital BSI juga diperkuat dengan fitur Nabung Rutin Haji, Gadai dari Cicil Emas yang akan lunas, serta pembukaan rekening yang terintegrasi dengan tabungan emas dan tabungan haji.

Perseroan turut menghadirkan BYOND affiliate sebagai mekanisme referral yang memungkinkan nasabah merekomendasikan aplikasi kepada pengguna lain sekaligus memperoleh imbalan.

Baca juga:
Spektakuler, Relawan BUMN Kibarkan Bendera 81 Meter di Aceh Tamiang

Pertumbuhan layanan digital berjalan seiring dengan meluasnya ekosistem bisnis BSI. Hingga Juni 2026, BSI memiliki 7,69 juta nasabah haji, 1,22 juta nasabah emas, 594.600 nasabah cicil emas, dan 209.700 nasabah gadai emas.

Di sisi transaksi, jumlah merchant QRIS yang dilayani BSI telah melampaui 585.000 merchant.

Pertumbuhan basis nasabah dan penguatan teknologi turut berjalan beriringan dengan kinerja keuangan yang positif. Hingga semester I 2026, kinerja BSI membukukan laba bersih Rp4,16 triliun, tumbuh 11 persen secara tahunan.

Dana pihak ketiga (DPK) meningkat 22 persen menjadi Rp393 triliun. Pertumbuhan terutama ditopang dana murah atau CASA yang mencapai Rp238 triliun, terdiri dari tabungan Rp173 triliun dan giro Rp65,5 triliun.

Struktur pendanaan yang semakin efisien turut menekan biaya dana atau Cost of Fund (CoF) menjadi 2,19 persen.

Dari sisi pembiayaan, pertumbuhan terjadi di berbagai segmen. Pembiayaan wholesale mencapai Rp95 triliun, pembiayaan ritel dan UMKM Rp55,83 triliun, sementara pembiayaan konsumer mencapai Rp189,25 triliun.

Baca juga:
Prabowo Apresiasi Bank Emas BSI, Nasabah Bullion Melonjak 700 Persen

Kualitas aset tetap terjaga dengan NPF Gross sebesar 1,80 persen dan NPF Net 0,33 persen.

Pendapatan berbasis komisi atau Fee Based Income juga meningkat 38,15 persen menjadi Rp4,1 triliun. Pertumbuhan tersebut didorong perkembangan ekosistem bisnis, termasuk bisnis emas dan transaksi digital.

Secara keseluruhan, total aset BSI per Juni 2026 mencapai Rp464,5 triliun atau tumbuh 16 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Anggoro menilai pencapaian 24,3 juta nasabah bukanlah tujuan akhir. Basis nasabah yang semakin besar justru menjadi fondasi untuk memperdalam hubungan dengan pengguna melalui lebih banyak produk dan layanan keuangan syariah.

“Dengan fondasi teknologi yang semakin kuat, kapasitas sistem yang semakin andal, dan basis nasabah yang terus bertambah, kami memiliki peluang lebih besar untuk meningkatkan pendalaman hubungan dengan nasabah melalui berbagai solusi keuangan syariah,” kata Anggoro.

Menurut dia, fokus BSI ke depan bukan hanya mengejar pertumbuhan jumlah nasabah, tetapi meningkatkan nilai layanan yang diterima setiap nasabah melalui produk digital yang semakin relevan, mudah, dan terintegrasi.