jatimnow.com - Pagi hingga siang, Nabil Loverino Misab menjalani kehidupan sebagai mahasiswa kedokteran. Sore harinya, ia berganti peran menjadi pesepak bola yang berlatih bersama Persebaya U-20.
Dua dunia itu kini harus dijalani bersamaan. Nabil tidak ingin buru-buru memilih antara ruang kuliah dan lapangan hijau. Ia justru berusaha menjaga keduanya tetap berjalan.
Nabil merupakan mahasiswa baru S1 Kedokteran Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (Unusa). Di luar kampus, remaja yang akrab disapa Nabil itu merupakan pemain Persebaya U-20 yang biasa beroperasi di sayap kanan dan bisa pula dimainkan sebagai penyerang.
Kecintaannya terhadap sepak bola tumbuh sejak usia sembilan tahun. Awalnya hanya bermain bersama teman-teman, sebelum Nabil bergabung dengan sekolah sepak bola (SSB) di Surabaya dan mengembangkan kemampuannya secara serius.
Jalur itu kemudian membawanya ke Persebaya. Nabil mengaku mulai bergabung dengan klub kebanggaan masyarakat Surabaya tersebut sejak berusia 13 tahun.
“Dari umur 13 sudah masuk Persebaya,” ujar Nabil.
Namun, sepak bola bukan satu-satunya jalan yang disiapkan untuk masa depannya. Di keluarga Nabil, dunia kesehatan justru memiliki tempat yang kuat.
Ayahnya merupakan analis kesehatan. Dua kakaknya berprofesi sebagai dokter. Kakak pertama menjadi dokter spesialis kandungan, sedangkan kakak kedua dokter umum. Kakak ketiganya memilih profesi sebagai guru.
Sebagai anak bungsu dari empat bersaudara sekaligus satu-satunya anak laki-laki, Nabil memahami ada harapan besar keluarga terhadap masa depannya. Ia pun sempat diarahkan mengikuti jejak kedua kakaknya dengan menempuh pendidikan kedokteran.
“Pertamanya saya juga terpaksa. Tapi lama-lama sudah dijelaskan kalau kedokteran itu enak karena jenjangnya panjang, daripada main bola,” tuturnya.
Seiring berjalannya waktu, kedokteran tidak lagi sekadar pilihan keluarga. Nabil mulai melihat profesi dokter sebagai bekal untuk menghadapi masa depan, terutama karena karier sebagai atlet memiliki batas dan penuh ketidakpastian.
Ia menyadari seorang pesepak bola tidak bisa selamanya mengandalkan kemampuan fisik. Cedera, usia, penurunan performa hingga persoalan mendapatkan klub dapat sewaktu-waktu mengubah perjalanan seorang pemain.
Baca juga:
Persebaya Angkat Trofi Piala Presiden 2026 Usai Drama Penalti Lawan Persib
Karena itu, Nabil mulai memikirkan apa yang akan dilakukan setelah karier sepak bolanya berakhir.
“Kalau atlet sampai umur 30, kalau tidak jadi main bola kan pensiun. Mikir jenjangnya, kalau dokter kan panjang,” katanya.

Pilihan untuk menekuni kedokteran bukan berarti Nabil hendak meninggalkan sepak bola. Sebaliknya, ia ingin memanfaatkan masa mudanya untuk menjalani dua hal yang sama-sama penting baginya. Tantangan terbesar ada pada waktu.
Kuliah kedokteran menuntut konsentrasi dan jadwal akademik yang padat. Di sisi lain, statusnya sebagai pemain Persebaya membuat Nabil harus rutin berlatih dan mempersiapkan diri menghadapi pertandingan.
Ia mulai mengatasinya dengan disiplin membagi waktu. Jadwal belajar disiapkan agar tugas kuliah tidak menumpuk ketika agenda sepak bola sedang padat.
Baca juga:
Persebaya Gandeng Mayapada, Bangun Sports Medicine Terintegrasi
“Saya sudah siapkan jadwal belajar. Kalau misalnya tugas, saya sudah bagi waktu,” ujarnya.
Sejauh ini, jadwal latihan yang berlangsung pada sore hari relatif tidak berbenturan dengan aktivitas perkuliahan. Nabil pun masih bersiap menjalani latihan intensif untuk menghadapi pertandingan dalam waktu dekat.
Bagi Nabil, lapangan sepak bola dan ruang kuliah bukan dua pilihan yang harus dipertentangkan. Keduanya justru menjadi bagian dari rencana masa depannya.
Ia ingin terus bermain selama masih mampu menjaga performa sebagai atlet sekaligus memenuhi kewajibannya sebagai mahasiswa. Peluang untuk melanjutkan karier hingga level senior pun masih terbuka.
Namun, Nabil juga tidak menutup mata terhadap ketidakpastian dunia sepak bola. Karena itu, ketika mengejar bola di lapangan, ia sekaligus menyiapkan jalan lain di bangku kuliah.
Dua mimpi itu kini berjalan beriringan: mengejar karier sebagai pesepak bola, sembari menyiapkan diri untuk suatu hari mengenakan jas dokter.
URL : https://jatimnow.com/baca-87386-dua-mimpi-nabil-loverino-menjadi-dokter-dan-pesepak-bola