Pixel Code jatimnow.com

Gus Lilur Bela Gus Kikin soal Lukman Edy di Struktur PBNU

Editor : Ali Masduki   Reporter : Ali Masduki
Tokoh warga NU sekaligus Kiai Kampung, HRM Khalilur R Ab. S atau Gus Lilur. (Foto/Dokumentasi pribadi)
Tokoh warga NU sekaligus Kiai Kampung, HRM Khalilur R Ab. S atau Gus Lilur. (Foto/Dokumentasi pribadi)

jatimnow.com - Penyusunan kepengurusan baru Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) periode 2026-2031 mulai diwarnai dinamika internal. Isu mengenai kembalinya pengaruh Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) ke lingkungan PBNU mencuat setelah Rapat Formatur Pertama pembentukan kepengurusan.

Tokoh warga NU sekaligus Kiai Kampung, HRM Khalilur R Ab. S atau Gus Lilur, menilai munculnya narasi PKB Come Back tidak lepas dari kekecewaan sejumlah pihak terhadap hasil pembahasan formatur.

Ia meminta dinamika tersebut tidak berkembang menjadi tuduhan yang justru memperkeruh proses penyusunan kepengurusan.

Menurut Gus Lilur, keputusan Ketua Umum PBNU terpilih KH Abdul Hakim Mahfudz atau Gus Kikin dalam menentukan struktur organisasi seharusnya dilihat dari kapasitas calon dan kebutuhan organisasi, bukan semata-mata dari latar belakang politik seseorang.

Ia menyebut dua prinsip yang semestinya menjadi pijakan utama, yakni profesionalisme serta keterwakilan wilayah.

Salah satu keputusan yang menjadi sorotan dalam rapat formatur adalah pengusulan Lukman Edy untuk menduduki posisi Sekretaris Jenderal PBNU.

Lukman Edy bukan nama baru dalam dunia organisasi maupun pemerintahan. Ia pernah menjabat Menteri Pembangunan Daerah Tertinggal (PDT) dan Sekretaris Jenderal PKB.

Gus Lilur menilai pengalaman tersebut menjadi modal penting untuk mengelola organisasi sebesar PBNU, terutama dari sisi manajerial dan administrasi.

Ia juga menyebut Lukman Edy memiliki pengalaman sebagai operator lapangan yang turut mengawal proses kemenangan Gus Kikin. Karena itu, menurut dia, pilihan terhadap figur yang sudah dikenal dan teruji merupakan hal yang wajar dalam membangun efektivitas kerja organisasi.

"Kalau Gus Kikin memilih orang yang sudah teruji dan memahami cara kerja organisasi, menurut saya sangat rasional. Itu bagian dari kebutuhan membangun kenyamanan dan efektivitas kerja," kata Gus Lilur.

Gus Lilur juga menyinggung kabar kekecewaan Saifullah Yusuf atau Gus Ipul terhadap pengusulan Lukman Edy. Menurut dia, dinamika mengenai posisi Sekjen semestinya tidak ditarik menjadi pertarungan politik yang berpotensi memunculkan rumor baru di internal NU.

Menurut Gus Lilur, persoalan pergantian Sekjen juga berkaitan dengan aspirasi dari tingkat akar rumput. Ia meyakini mayoritas PCNU dan PWNU menginginkan adanya penyegaran dalam jajaran kepengurusan PBNU.

Baca juga:
Dua PR Besar Gus Kikin Usai Muktamar, Rekonsiliasi dan Ekonomi NU

Keinginan itu, kata dia, menunjukkan adanya ekspektasi agar organisasi memiliki tata kelola yang lebih dinamis dan transparan.

Karena itu, proses penyusunan kepengurusan periode 2026-2031 dinilai perlu memberi ruang kepada kader dengan kapasitas yang sesuai kebutuhan organisasi, tanpa terjebak pada kepentingan kelompok tertentu.

Selain kompetensi calon pengurus, Gus Lilur menekankan pentingnya keseimbangan keterwakilan wilayah dalam struktur PBNU.

Ia mengingatkan PBNU merupakan organisasi berskala nasional sehingga komposisi kepengurusannya idealnya mencerminkan keberagaman kader NU dari berbagai daerah di Indonesia.

Gus Lilur menyoroti posisi Rais Aam dan Ketua Umum PBNU yang kini sama-sama dipercayakan kepada tokoh yang berdomisili di Jawa Timur. Kondisi itu, menurut dia, perlu menjadi pertimbangan ketika menentukan posisi strategis lainnya.

Jika sejumlah jabatan penting kembali terkonsentrasi pada satu wilayah, prinsip pemerataan representasi daerah dikhawatirkan tidak tercermin dalam kepengurusan nasional.

Baca juga:
Gus Yusuf Ucapkan Selamat kepada Kiai Mif dan Gus Kikin: Saatnya Kembali Guyub Membesarkan NU

"PBNU itu wajah Indonesia, bukan hanya wajah PWNU Jawa Timur. Karena itu, keterwakilan kader dari berbagai daerah harus menjadi pertimbangan," ujarnya.

Ia berharap kepengurusan PBNU mendatang dapat menghadirkan komposisi yang lebih proporsional, termasuk dengan memberikan ruang kepada kader potensial dari luar Pulau Jawa.

Gus Lilur bersama jamaah NU di tingkat akar rumput pun menyatakan dukungannya terhadap langkah Gus Kikin dalam menyusun kepengurusan baru.

Ia meminta Gus Kikin tetap melanjutkan proses tersebut meski menghadapi tekanan dan perbedaan kepentingan di internal organisasi.

"Terus maju Gus Kikin, semoga para muassis (pendiri NU) senantiasa membersamai panjenengan," tegasnya.