Pixel Code jatimnow.com

Petambak Udang Kini Bisa Deteksi Penyakit Tambak Pakai AI SMARTAMBAK

Editor : Yanuar D   Reporter : Ali Masduki
Aplikasi SMARTAMBAK berbasis AI resmi diluncurkan untuk memetakan dan mendeteksi penyakit udang langsung lewat ponsel petambak. (Foto/jatimnow.com)
Aplikasi SMARTAMBAK berbasis AI resmi diluncurkan untuk memetakan dan mendeteksi penyakit udang langsung lewat ponsel petambak. (Foto/jatimnow.com)

jatimnow.com - Ancaman gagal panen akibat serangan wabah penyakit udang di berbagai sentra pesisir kini memiliki penangkal baru berbasis teknologi digital.

Para peneliti Universitas Padjadjaran (Unpad) bersama The University of New South Wales (UNSW) Australia resmi meluncurkan SMARTAMBAK, aplikasi pendeteksi penyakit udang berbasis kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) di Bandung, Selasa (20/10/2026).

Program riset kolaboratif binaan Kemitraan Australia–Indonesia (KONEKSI) menggandeng Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), PT Adhi Inti Nusantara Segar (AIN-SEA), serta Genics Pty Ltd.

Sistem digital dirancang memangkas kerugian ekonomi para petambak rakyat akibat penyakit mematikan seperti white spot syndrome virus (WSSV), myonecrosis (IMNV), hingga black spot.

First Secretary Kedutaan Besar Australia di Indonesia Reiko Take mengungkapkan, inovasi teknologi menyasar langsung kalangan pembudi daya kecil yang selama ini kesulitan mengakses fasilitas laboratorium pengujian.

"Petambak kecil kerap terbentur keterbatasan alat uji ketika udang mulai terserang hama. Platform digital membuka akses penanganan cepat agar tambak rakyat tetap produktif dan berkelanjutan," ujar Reiko.

Peneliti Unpad Hamzah Ritchi menjelaskan, tim riset telah memvalidasi 3.299 citra sampel visual udang ke dalam sistem komputasi cerdas.

Baca juga:
Anbantara, Roket Karya Mahasiswa PENS yang Jadi Best Rocket

"Sistem AI menganalisis gejala fisik udang lewat foto, memetakan sebaran titik wabah, sekaligus menyediakan pedoman perawatan harian di menu Tambakpedia," papar Hamzah.

Pengembangan teknologi proteksi tambak sejalan dengan proyeksi KKP yang menargetkan produksi komoditas ekspor perikanan mencapai 52 ribu ton per tahun bernilai sekitar Rp4 triliun.

Staf Ahli Menteri Kelautan dan Perikanan Hendra Yusran Siry menilai, standardisasi data lapangan dari aplikasi ponsel berpeluang disambungkan langsung ke basis data terpadu KKP.

Baca juga:
UMKM Surabaya Dibekali AI dan Canva untuk Perluas Pasar

Direktur Kelautan dan Perikanan Kementerian PPN/Bappenas Mohamad Rahmat Mulianda menambahkan, monitoring digital krusial bagi tambak semi-intensif agar risiko pencemaran limbah dan kematian massal benih bisa dicegah sejak dini.

Manfaat deteksi cepat dirasakan langsung oleh petambak muda asal Cirebon, Sakiro, yang mengaku para pembudi daya lokal kerap terlambat menyadari gejala penyakit tambak.

"Petambak tradisional rata-rata hanya mengandalkan mata telanjang tanpa alat medis. Lewat aplikasi, kita tinggal unggah foto udang untuk tahu dugaan penyakit dan langkah darurat penanganannya," jelas Sakiro.