Pixel Code jatimnow.com

11 Provinsi Adu Ketepatan Rasa dan Tekstur dalam Kompetisi Talam Ubi IKABOGA

Editor : Tim Jatimnow   Reporter : Ali Masduki
Rosebrand Duplicate Dish Talam Ubi Competition dalam rangkaian Rapat Kerja Nasional (Rakeras) IX di KRISTA InterFOOD 2026. (Foto: Ali Masduki/jatimnow.com)
Rosebrand Duplicate Dish Talam Ubi Competition dalam rangkaian Rapat Kerja Nasional (Rakeras) IX di KRISTA InterFOOD 2026. (Foto: Ali Masduki/jatimnow.com)

jatimnow.com - Upaya menjaga eksistensi jajanan tradisional Indonesia tidak cukup hanya dengan mempertahankan resep warisan. Konsistensi rasa, tekstur, aroma, hingga kualitas penyajian juga harus dijaga.

Semangat itu dibawa Ikatan Ahli Boga (IKABOGA) Indonesia melalui Rosebrand Duplicate Dish Talam Ubi Competition dalam rangkaian Rapat Kerja Nasional (Rakeras) IX di KRISTA InterFOOD 2026, NICE PIK 2, Tangerang, Banten, Jumat (6/11/2026).

Kompetisi tersebut mempertemukan perwakilan Dewan Pimpinan Daerah (DPD) IKABOGA dari 11 provinsi. Mereka ditantang menghasilkan kue talam ubi yang semirip mungkin dengan hidangan acuan, mulai dari cita rasa, tekstur, warna, aroma, hingga tampilan akhir.

Bukan sekadar adu keterampilan memasak, perlombaan ini menguji ketelitian peserta dalam menjaga standar kualitas makanan. Sebab, sajian yang terlihat menarik belum tentu memiliki rasa dan tekstur sesuai dengan karakter aslinya.

Bagi pelaku industri boga, kemampuan menjaga konsistensi menjadi salah satu ukuran profesionalisme. Terlebih, jajanan pasar memiliki karakter khas yang perlu dipertahankan agar tidak kehilangan identitas di tengah perkembangan tren kuliner.

Ketua Umum IKABOGA Indonesia, Retno Multriarti, mengatakan Rakeras IX dirancang sebagai ruang pengembangan kompetensi sekaligus memperluas jaringan para praktisi boga dari berbagai daerah.

Selain kompetisi memasak, kegiatan yang berlangsung selama empat hari itu menghadirkan pameran kuliner, business matching dengan vendor lokal dan internasional, serta uji kompetensi dan sertifikasi profesi.

Retno juga mengingatkan pentingnya sertifikasi profesi yang terakreditasi negara bagi tenaga kerja di sektor kuliner.

Menurutnya, pengakuan kompetensi diperlukan agar kemampuan para praktisi boga sesuai dengan standar industri.

Upaya tersebut sekaligus diharapkan dapat meningkatkan daya saing sumber daya manusia di tengah pertumbuhan industri makanan dan minuman yang semakin kompetitif.

Baca juga:
Teh Artisan Nusantara Naik Kelas, ARTI dan Krista Exhibitions Luncurkan KITA Championship

Rakeras IX juga dimanfaatkan sebagai ajang mempertemukan anggota IKABOGA dengan berbagai pelaku usaha. Mulai dari pemasok bahan baku, penyedia peralatan memasak, hingga calon mitra bisnis mendapat ruang untuk membangun kerja sama.

Nuansa budaya Nusantara turut mewarnai kompetisi. Para peserta tampil mengenakan pakaian adat dari daerah masing-masing, menghadirkan keberagaman budaya yang berpadu dengan kekayaan kuliner tradisional Indonesia.

Sekretaris Jenderal IKABOGA Indonesia sekaligus pemilik Rumah Racik, Neni, S.E., M.M., menilai inovasi menjadi kunci agar makanan tradisional tetap diminati masyarakat modern.

Menurutnya, instruktur dan pelaku usaha boga perlu mampu mengemas jajanan warisan leluhur menjadi sajian yang lebih menarik dan memiliki nilai ekonomi lebih tinggi, tanpa menghilangkan karakter aslinya.

"Kreativitas menjadi salah satu kriteria utama. Makanan yang dihasilkan harus menarik, enak, dan memiliki nilai," ujar Neni.

Baca juga:
Apkrindo Jatim Buka Akses Supplier dan Teknologi di KRISTAInterFOOD 2026

Ia juga mengingatkan pentingnya pemilihan bahan baku dalam menghasilkan jajanan pasar berkualitas. Tepung beras dan tepung ketan, misalnya, memiliki peran penting dalam membentuk karakter serta menjaga keautentikan cita rasa makanan tradisional.

Penyelenggaraan kegiatan ini mendapat dukungan dari sejumlah pihak, di antaranya Krista Exhibitions, lembaga sertifikasi profesi, Rosebrand, Rumah Racik, Kampas Catering, Kawan Teleni, dan Racik Kak Catering.

Melalui kompetisi talam ubi dan rangkaian kegiatan Rakeras IX, IKABOGA ingin mendorong kuliner tradisional terus berkembang tanpa kehilangan akar budayanya.

Dengan menjaga kualitas sekaligus membuka ruang inovasi, jajanan pasar diharapkan tetap memiliki tempat di tengah persaingan industri kuliner modern.