jatimnow.com
Mengintip Penyu Lekang Bertelur di Pantai Boom Banyuwangi

Penyu bertelur di Pantai Boom Banyuwangi

jatimnow.com - Seekor penyu jenis lekang mendarat dan bertelur di kawasan pesisir Pantai Boom, Banyuwangi. Momen ini terbilang langka, sebab penyu bertelur di kawasan yang masih alami saja.

Sebanyak 128 telur dikeluarkan dari penyu lekang yang diketahui memiliki panjang tubuh 171 cm dan lebar 65 cm pada Minggu (7/4/2019) malam.

Di waktu bersamaan, beberapa pengunjung Pantai Boom yang tengah menikmati suasana malam di pinggiran pantai turut menyaksikan momen tersebut.

Ketua Banyuwangi Sea Turtle Foundation (BSTF) Wiyatno Haditanodjo mengatakan, jika terdapat penyu mendarat, pertama akan dicari sarang yang aman untuk bertelur. Di saat itu, penyu akan merasa terganggu apabila ada hewan predator atau manusia yang mendekat.

"Baru kalau penyunya itu sudah menggali sarang dan memulai bertelur tidak takut. Tapi kalau masih menggali sarang kita hampiri atau disorot lampu dia akan bergeser lagi atau akan kembali lagi ke laut," paparnya.

Waktu atau durasi proses bertelurnya penyu, kata Wiwit sapaannya, biasanya berkisar antara 30 hingga 45 menit. Sedangkan ketika mencari sarang waktu yang dibutuhkan sekitar 1 sampai 2 jam.

"Biasanya pas menggali sarang dan kebetulan ada sampah plastik yang terpendam otomatis dia akan berpindah. Kalau waktunya bisa sampai 2 jam," ujarnya.

Penyu lekang yang bertelur di kawasan Pantai Boom sekitar pukul 22.00 Wib itu mengeluarkan telur sebanyak 128 butir. Wiwit memperkirakan penyu dengan panjang 171 cm dan lebar 65 cm telah berusia 35 tahun.

Untuk menghindari gangguan predator maupun orang yang tidak bertanggung jawab, telur sebanyak itu dijaga oleh relawan BSTF sebagai mitra Polhut BKSDA Seksi 5 Jawa Timur.

"Pada saat proses bertelur kita jaga ketat, supaya terhindar dari gangguan predator dan orang yang tidak bertanggung jawab. Yang menjaga para relawan kami dan masyarakat yang sudah jadi mitranya Polhut BKSDA," sebut Wiwit.

Sebagaimana habitat aslinya, penyu membuat satu pola pengamanan saat mengeluarkan telur. Telur-telur tersebut dipendam di dalam pasir pantai, dengan tujuan agar selamat dan terhindar dari gangguan predator.

"Setelah selesai bertelur, penyu akan memukulkan badannya untuk memadatkan lokasi sarangnya. Selain itu, penyu akan memadatkan titik lainnya untuk membuat tiruan sarang mengelabuhi hewan predator," jelasnya.

Momen langka tersebut membuat warga yang datang mengaku senang dapat melihat secara langsung penyu bertelur yang berjarak sekitar 3 km dari pusat kota Banyuwangi. Bahkan beberapa warga berfoto dengan penyu setelah proses bertelur selesai dilakukan.

"Jarang-jarang bisa melihat penyu bertelur seperti ini. Apalagi di pantai yang ada di pusat kota. Ini juga bisa menjadi bahan edukasi bagi anak-anak saya agar bisa melihat proses bertelurnya penyu dan ikut menjaga habitat penyu dari ancaman kepunahan," ujar Niklas Andreas salah satu warga yang datang bersama dua anaknya.

Berdasarkan maping petugas BSTF, terdapat tujuh jenis penyu di dunia, enam diantaranya berada di perairan Indonesia. Dari jumlah itu, 4 penyu diantaranya ditemukan bertelur di Perairan Banyuwangi, yaitu penyu lekang, penyu sisik, penyu hijau, dan penyu belimbing.

Loading...

Selain alam yang mendukung, secara geografis, kata Wiwit, Banyuwangi memiliki laut yang menghubungkan perairan utara dan selatan Pulau Jawa. Biasanya, penyu akan mulai bertelur, dimulai dari bulan Maret hingga Juni.

Telur-telur penyu tersebut, selanjutnya dievakuasi ke lokasi konservasi dan penangkaran di kawasan Pantai Boom. Sepanjang tahun 2019 ini petugas telah mengamankan 8 sarang penyu, dengan jumlah total mencapai 809 butir telur.

"Dalam jangka waktu 46 hari, telur penyu diperkirakan akan menetas. Selanjutnya oleh petugas, anak penyu alias tukik dilepasliarkan ke Selat Bali," paparnya.

Berita Terkait