Pixel Codejatimnow.com

Percepat Penurunan Stunting, BKKBN Gelar Program Edukasi 1000 Bidan di Surabaya

Editor : Zaki Zubaidi  Reporter : Zain Ahmad

jatimnow.com - Seribu bidan se-Surabaya raya mengikuti program edukasi dan intervensi stunting di Dyandra Convention Center Surabaya. Sebagai garda terdepan, bidan mendapat perhatian khusus dari Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN). Kegiatan ini bekerja sama dengan PT. Dexa Medica.

Kepala BKKBN RI, DR. (HC) dr. Hasto Wardoyo, Sp.OG (K) mengatakan pada tahun 2021 angka stunting di Jawa Timur sebesar 23,5 persen dan turun 4,3 persen menjadi 19,2 persen.

"Provinsi dengan jumlah penduduk yang besar tapi angka stunting di bawah 20 persen merupakan prestasi yang luar biasa," kata Hasto Wardoyo pada acara Program Edukasi terhadap 1.000 Bidan dan Intervensi Stunting di Kota Surabaya, Senin (13/2/2023).

Hasto menambahkan di Jawa Timur yang hamil jumlahnya masih lebih dari 500 ribu dalam satu tahun. Angka ini masih di bawah Provinsi Jawa Barat yang masih di angka 850 ribu lebih.

Berbicara tentang stunting artinya berbicara dengan alat reproduksi dan berbicara tentang persiapan kesehatan perempuan sebelum hamil.

Di sinilah pentingnya peran bidan dalam penurunan stunting. Karena peran bidan dalam mendampingi dan memberikan penyuluhan pada ibu hamil, tingkat stunting di Jawa Timur saat ini bisa turun di bawah 20%.

"Ada yang bilang bidan bukan segalanya, tapi tanpa bidan BKKBN bukan apa-apa. Jatim mengalami penurunan yang sangat signifikan, yaitu turun 4,3% menjadi 19,2% pada tahun 2022. Angka ini di bawah 20% dari sebelumnya. WHO mengamanahkan bahwa masimal angka stunting adalah 20%. Sebagai provinsi yang angka stuntingnya besar, tapi bisa turun di bawah 20%, saya rasa ini perkembangan besar," ungkapnya.

Sementara Gubernur Jatim, Khofifah Indar Parawansa mengatakan bahwa kasus stunting adalah tugas besar yang harus dituntaskan.

Baca juga:
Angka Perkawinan Anak di Jatim Turun Signifikan

"Ini tugas diantara kita semua. Harus terbangun sinergi yang sangat bagus antar berbagai pihak. Bidan berada di posisi yang tepat untuk mengemban peran ini," ujarnya.

Yang menjadi penting menurut orang nomor satu di Jatim ini, para Bidan dapat memberi penyuluhan terkait pola asuh yang benar bagi para ibu. Apabila para ibu mengonsumsi nutrisi yang cukup dengan pola hidup sehat, serta anak diasuh dengan penuh kasih sayang serta gizi tercukupi, maka resiko stunting dapat dihindari atau bahkan dihilangkan.

"Bidan ini peranannya sangat signifikan dalam penurunan angka stunting pada anak. Bidan adalah garda terdepan, ujung tombak tenaga kesehatan. Merekalah yang selalu mendampingi para ibu, baik semenjak awal kehamilan sampai sang anak mencapai usia lima tahun," jelasnya.

Khofifah melanjutkan, prevalensi stunting di Jawa Timur butuh percepatan untuk mencapai target 14% di tahun 2024. Diketahui, berdasarkan data Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) tahun 2022, saat ini tingkat stunting Jatim berada di angka 19,2%.

Baca juga:
Berhasil Turunkan Stunting dan Kemiskinan, Wali Kota Eri dan Ketua TP PKK Surabaya Raih Penghargaan Tertinggi BKKBN

Apalagi, dalam Strategi Nasional Percepatan Pencegahan Stunting, sasaran prioritas upaya percepatan pencegahan stunting menyasar kelompok prioritas yang mencakup ibu hamil, ibu menyusui, dan anak berusia 0-23 bulan, atau disebut rumah tangga 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK). Kelompok ini secara rutin bertemu dengan para Bidan untuk memantau kesehatan sang anak.

Karenanya, Gubernur perempuan pertama Jatim itu menekankan efektifnya intervensi para Bidan dalam menurunkan angka stunting, hingga mencapai target Presiden Republik Indonesia yaitu 14 % pada tahun 2024.

"Ditiap kegiatan kami, Pemprov Jatim seringkali mengundang ibu hamil dan anak-anak untuk menerima penyuluhan dan bantuan gizi. Kami juga selalu menekankan pentingnya gizi seimbang bagi anak-anak. Angka 14% ini bukan sekedar target, tapi menentukan masa depan bangsa," tandasnya.