Pixel Codejatimnow.com

Partisipasi Pemilih Pemilu 2024 di Trenggalek Capai 81,94 Persen

Editor : Zaki Zubaidi  Reporter : Bramanta Pamungkas
Warga di Trenggalek saat mengggunakan hak pilihnya. (Foto: Bramanta Pamungkas/jatimnow.com)
Warga di Trenggalek saat mengggunakan hak pilihnya. (Foto: Bramanta Pamungkas/jatimnow.com)

jatimnow.com - Partisipasi masyarakat dalam Pemilu 2024 di Kabupaten Trenggalek mengalami peningkatan dibandingkan dengan sebelumnya. Terdapat tiga kecamatan di Kabupaten Trenggalek yang masuk dalam data pemilih terbanyak pada Pemilu 2024.

Komisioner KPU Trenggalek, Nurani mengatakan, berdasarkan data partisipasi pemilih pada Pemilu 2024 ada kenaikan jika dibandingkan dengan Pemilu 2019. Pada Pemilu 2024 partisipasi pemilih mencapai 81,94 persen. Sedangkan pada Pemilu 2019 partisipasi pemilih diangka 80,38 persen.

"Ada kenaikan, meski angka partisipasi pemilih pada Pemilu 2024 tidak signifikan. Kenaikan hanya berkisar 1,56 persen saja,” ujarnya, Rabu (28/02/2024).

Nurani menjelaskan, ada tiga kecamatan di Kabupaten Trenggalek yang masuk dalam kategori partisipasi pemilih terbanyak pada Pemilu 2024. Yakni Kecamatan Munjungan, Bendungan dan Gandusari.

“Angka partisipasi pemilih di Kecamatan Munjungan mencapai 84,60 persen, Kecamatan Gandusari mencapai 84,58 persen dan Kecamatan Bendungan mencapai 84 persen,” paparnya.

Baca juga:
14 Narapidana di Trenggalek Tak Bisa Nyoblos Pemilu 2024, Ini Sebabnya

Selain itu, ada wilayah yang masuk dalam kategori partisipasi pemilih terendah di Kabupaten Trenggalek. Wilayah tersebut berada di Kecamatan Dongko. Adapun angkanya tidak sampai menyentuh 80 persen.

"Ini yang paling rendah partisipasi pemilih pada Pemilu 2024 berada di Kecamatan Dongko. Adapun angka partisipasinya hanya 78 persen,” ungkapnya.

Baca juga:
KPU Trenggalek Terima Kiriman Logistik Pemilu 5000 Bilik Suara

Sedangkan untuk 18,06 persen masyarakat di Trenggalek tidak menyalurkan haknya pada Pemilu 2024. Menurutnya, ada beberapa faktor yang menyebabkan masyarakat tidak berpartisipasi pada Pemilu 2024, mulai dari pekerjaan hingga kepentingan ideologis.

“Jadi ada beberapa alasan masyarakat yang tidak mau menyoblos. Seperti lebih pilih pekerjaan, permasalahan teknis administrasi pemilih dan kendala ideologis. Dimana kendala ideologis ini adalah orang yang menganggap ada atau tidaknya Pemilu tidak akan merubah nasib seseroang,” pungkasnya.