Pixel Code jatimnow.com

Drama Ormas Madas-Armuji Berakhir Damai di Meja Rektor Unitomo

Editor : Ali Masduki   Reporter : Ali Masduki
Rektor Unitomo Siti Marwiyah berhasil memediasi konflik antara ormas Madas Sedarah dan Wawali Surabaya Armuji. (Foto: Ali Masduki/jatimnow.com)
Rektor Unitomo Siti Marwiyah berhasil memediasi konflik antara ormas Madas Sedarah dan Wawali Surabaya Armuji. (Foto: Ali Masduki/jatimnow.com)

jatimnow.com - Seteru panas antara organisasi kemasyarakatan (ormas) Madas Sedarah dengan Wakil Wali Kota Surabaya, Armuji, akhirnya menemui titik terang di awal tahun 2026.

Melalui mediasi yang diinisiasi Universitas Dr. Soetomo (Unitomo), kedua belah pihak sepakat mengakhiri ketegangan hukum dan sosial yang sempat memicu riuh di jagat maya.

Rektor Unitomo, Siti Marwiyah, mengambil inisiatif mempertemukan kedua pihak setelah melihat eskalasi konflik yang berisiko memecah harmoni warga. "

Surabaya adalah rumah bagi keberagaman etnis dan budaya yang harus kita rawat bersama. Jika kota ini bergejolak, dampaknya terasa hingga ke tingkat nasional," ujar Siti Marwiyah, Selasa (06/1/2025).

Langkah perdamaian ini ditandai dengan pencabutan laporan polisi di Polda Jawa Timur oleh pihak Madas Sedarah.

Sebelumnya, ormas tersebut melayangkan laporan terkait konten video Armuji yang dianggap menyinggung marwah organisasi.

Keterlibatan Unitomo bukan tanpa alasan. Salah satu tokoh kunci dalam perselisihan ini, Taufik dari Madas Sedarah, merupakan dosen aktif di Fakultas Hukum Unitomo sekaligus kandidat doktor hukum pidana.

Hal ini sempat memicu serangan komentar negatif netizen di akun media sosial kampus yang mempertanyakan netralitas institusi.

Baca juga:
Konflik Armuji–Madas Berakhir, Warga Surabaya Dapat Jaminan Stabilitas

Siti Marwiyah menegaskan bahwa mediasi ini merupakan perwujudan Tridarma Perguruan Tinggi dalam bentuk pengabdian masyarakat.

Menurutnya, institusi pendidikan memiliki kewajiban moral menjadi "benteng" dan penengah saat terjadi gesekan horizontal di tengah warga.

"Saya meminta Mas Taufik untuk membawa Madas ke arah yang lebih humanis dan membekali anggota dengan pemahaman hukum yang kuat. Kita harus menunjukkan bahwa hidup berdampingan wajib berlandaskan aturan, bukan sekadar perintah personal," tambahnya.

Proses rekonsiliasi ini berjalan cukup cepat. Rektor mengaku langsung menghubungi Taufik untuk klarifikasi tak lama setelah video konflik tersebut viral. Momentum kunci terjadi saat Wakil Wali Kota Surabaya menelepon Rektor pada pukul 06.00 WIB untuk mencari jalan keluar.

Baca juga:
Akun Medsos Unitomo Diserbu Warganet, Dosen dan Ormas Jadi Sorotan

Dalam pertemuan tersebut, Armuji secara terbuka menyampaikan permohonan maaf atas kekhilafan yang terjadi.

Gayung bersambut, pihak Ormas Madas Sedarah sepakat menghentikan langkah hukum dan mencabut tuntutan evaluasi kinerja Wawali yang sebelumnya dikirimkan ke DPRD Surabaya.

"Masalah ini sekarang sudah tuntas (clear). Kami bersyukur kedua pihak memilih bersalaman dan mengutamakan ketenangan kota Surabaya di atas ego masing-masing," pungkas Siti Marwiyah.

Dengan kesepakatan damai ini, Unitomo berharap persepsi publik terhadap keterlibatan akademisi dalam organisasi kemasyarakatan dapat dilihat secara objektif sebagai upaya pembinaan hukum dari dalam institusi.