jatimnow.com - Di tengah hiruk pikuk dinamika global, semangat nasionalisme dan keadilan sosial kembali digaungkan.
Eks Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Pecinta Buku menggelar Focus Group Discussion (FGD) bertajuk "Pemberdayaan SDM dan SDA Indonesia Sesuai Prinsip-Prinsip Pancasila dalam Rangka Mewujudkan Keadilan Sosial" pada Minggu, 18 Januari 2026, di Science Techno Park Universitas Tribhuwana Tunggadewi (UNITRI), Malang.
Acara ini menjadi wadah bagi para pakar, akademisi, dan aktivis untuk berdiskusi mendalam mengenai solusi atas tantangan bangsa, dengan fokus pada pemberdayaan sumber daya manusia (SDM) dan sumber daya alam (SDA) yang selaras dengan nilai-nilai Pancasila.
Berbagai materi krusial dibahas, mulai dari Syair Nasionalis Marhaenis hingga Hukum Rasional Perubahan, menekankan pentingnya transformasi struktural untuk mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.
Prof. Ir. Wani Hadi Utomo, PhD, salah satu tokoh yang hadir dalam FGD tersebut, menegaskan bahwa pemberdayaan SDM dan SDA harus benar-benar berlandaskan pada prinsip Pancasila yang autentik.
"Saat ini, kita menyaksikan imperialisme institusional yang menyusup melalui kebijakan ekonomi yang lebih menguntungkan korporasi asing daripada kesejahteraan rakyat," ujarnya.
Ia juga menambahkan bahwa revolusi sebagai tuntunan sejarah menuntut perubahan kelakuan administratif yang radikal, di mana aufklärung menjadi jalan untuk membongkar rezim kebudayaan yang menindas.
Baca juga:
Kolaborasi UKM Untag Surabaya Semarakkan Expo 2025, Kreativitas dan Nasionalisme
Senada dengan hal tersebut, Drs. Djoko Soekmono mengkritisi praktik monarki presidensial yang dinilai sering kali menyimpang dari hukum rasional perubahan yang seharusnya mendorong kesejahteraan sosial.
"Sebagai bangsa, kita harus kembali pada syair nasionalis marhaenis dan kesadaran kolektif, di mana revolusi bukanlah kekerasan, melainkan tuntunan sejarah untuk memastikan SDM Indonesia tidak lagi menjadi korban sistem yang mengabaikan aufklarung sebagai jalan sejarah bangsa," tegasnya.
Sementara itu, Ketua DPC GMNI Surabaya Raya, Ni Kadek Ayu Wardani, juga turut menyampaikan pandangannya. Ia menegaskan bahwa GMNI sebagai gerakan mahasiswa nasionalis harus kritis terhadap kondisi saat ini di mana pemberdayaan SDM dan SDA sering kali diabaikan demi kepentingan elit.
Baca juga:
Ketua ICMI Jatim: Generasi Z Jangan Buta Sejarah G30S PKI!
"Pancasila menuntut perubahan sosial konkret dan pembongkaran rezim kebudayaan yang mempertahankan ketidakadilan," ungkapnya.
FGD ini diharapkan dapat menjadi katalisator bagi gerakan intelektual yang lebih luas, mendorong pemerintah dan masyarakat untuk menerapkan prinsip-prinsip Pancasila secara konkret dalam kebijakan pembangunan.
Lebih dari sekadar refleksi ideologis, acara ini merupakan panggilan aksi untuk membangun Indonesia yang lebih adil dan berdaulat.
URL : https://jatimnow.com/baca-81845-pancasila-harga-mati-eks-gmni-serukan-perubahan-struktural