Pixel Code jatimnow.com

Mas Dhito Tegaskan Peserta PBK di Kediri Harus Siap Masuk Dunia Industri

Editor : Yanuar D  
Bupati Kediri Hanindhito Himawan Pramana meninjau pelaksanaan Pelatihan Berbasis Kompetensi (PBK) 2026 di Balai Latihan Kerja (BLK) Plemahan. (Foto: Pemkab Kediri/jatimnow.com)
Bupati Kediri Hanindhito Himawan Pramana meninjau pelaksanaan Pelatihan Berbasis Kompetensi (PBK) 2026 di Balai Latihan Kerja (BLK) Plemahan. (Foto: Pemkab Kediri/jatimnow.com)

jatimnow.com - Bupati Kediri Hanindhito Himawan Pramana meninjau pelaksanaan Pelatihan Berbasis Kompetensi (PBK) 2026 di Balai Latihan Kerja (BLK) Plemahan, Jumat (17/7/2026). Memasuki hari kelima pelaksanaan, Mas Dhito mengingatkan bahwa tujuan utama pelatihan bukan sekadar meluluskan peserta, melainkan membekali mereka agar mampu bersaing di dunia kerja.

Saat berkeliling meninjau sejumlah kelas, seperti tata rias (MUA), barista, barber, hingga pelatihan teknik lainnya, Mas Dhito menegaskan keberhasilan program baru bisa dinilai setelah peserta menyelesaikan pelatihan dan menerapkan ilmu yang diperoleh.

“Maka sebenarnya pelatihan itu paling pentingnya pasca pelatihannya. Mereka melanjutkan atau tidak, mereka menggunakan ilmunya atau tidak, itu di situ kata kuncinya,” ujar Mas Dhito.

PBK 2026 membuka berbagai kelas yang disesuaikan dengan kebutuhan dunia industri, antara lain barber, barista, operator tata kelola perkantoran (OTKP), pengelasan, tata rias, hingga teknik sepeda motor (TSM). Khusus kelas TSM, pelatihan tersebut merupakan hasil usulan masyarakat melalui Musrenbang.

Selain pelatihan vokasi, Disnaker Kabupaten Kediri juga membuka kelas bahasa Jepang sebagai bekal bagi peserta yang ingin mengikuti seleksi program magang ke Jepang melalui skema International Manpower (IM).

Menurut Mas Dhito, kebutuhan tenaga kerja di Jepang masih cukup tinggi sehingga peluang tersebut perlu dimanfaatkan oleh generasi muda Kabupaten Kediri.

“Jadi, itu program di mana Jepang membutuhkan tenaga kerja dari kita, maka kita persiapkan anak-anak di Kabupaten Kediri untuk mendapatkan pelajaran bahasa Jepang, barista, barber, las, terus semua,” katanya.

Meski demikian, Mas Dhito menilai hasil pelatihan belum bisa dievaluasi karena sebagian besar kelas masih berlangsung. Durasi pelatihan pun bervariasi, mulai 15 hari hingga 30 hari.

Kepala Disnaker Kabupaten Kediri Ibnu Imad menjelaskan, PBK 2026 terdiri atas pelatihan berdurasi 120 jam pelajaran (JP) dan 240 JP. Seluruh peserta nantinya memperoleh sertifikat kompetensi dari Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP). Khusus peserta pelatihan 240 JP, mereka juga mendapat kesempatan mengikuti pemagangan di perusahaan mitra.

Baca juga:
Kasus Kekerasan Anak Terus Meningkat, Pemkab Kediri Dorong Korban Berani Melapor

“Dua-duanya itu semua sertifikat kompetensi BNSP. Tapi bedanya, yang 240 JP ada program pemagangan,” jelasnya.

Menurut Ibnu, pelatihan tidak hanya berfokus pada peningkatan keterampilan teknis, tetapi juga membangun kemampuan nonteknis yang dibutuhkan dunia kerja, seperti komunikasi, teknik menghadapi wawancara, hingga pembentukan karakter.

“Di beberapa kelas justru yang diperkuat adalah soft skill. Bagaimana mereka menghadapi wawancara kerja, berkomunikasi, hingga membangun attitude saat bekerja,” ujarnya.

Ia menambahkan, program magang diharapkan menjadi pintu masuk peserta ke dunia kerja. Selama magang, peserta dapat menunjukkan kemampuan teknis maupun sikap kerja sehingga memiliki peluang direkrut perusahaan.

“Saat magang mereka bisa menunjukkan kemampuan, termasuk soft skill dan attitude. Harapannya setelah selesai bisa diterima bekerja. Tetapi diterima atau tidak tentu bergantung pada kemampuan masing-masing. Tugas kami adalah menyiapkan SDM yang siap kerja,” terangnya.

Baca juga:
Sastra Saraswati Sewana Yatra di Candi Tegowangi, Mas Dhito: Perkuat Toleransi

Salah seorang peserta kelas barista, Mira, warga Kecamatan Banyakan, mengaku mengikuti pelatihan karena ingin menambah pengalaman sekaligus membuka peluang bekerja di bidang food and beverage (FnB).

“Yang pasti buat nambah pengalaman baru. Aku juga tertarik di bidang kopi, terutama barista. Harapannya nanti bisa kerja di bidang yang sama, di FnB,” ungkapnya.

PBK 2026 menyasar masyarakat usia produktif dengan mayoritas peserta berusia di bawah 30 tahun. Pemerintah Kabupaten Kediri juga membuka peluang peningkatan kompetensi dan sertifikasi lanjutan bagi alumni yang ingin terus mengembangkan keahlian sesuai bidangnya.

Dengan program tersebut, Pemkab Kediri berharap semakin banyak tenaga kerja lokal yang memiliki kompetensi, tersertifikasi, dan mampu bersaing di pasar kerja nasional maupun internasional, sekaligus mendukung upaya menekan angka pengangguran di Kabupaten Kediri.