Pixel Code jatimnow.com

Jawab Krisis Energi, Profesor ITS Racik Pembangkit Surya dan Angin

Editor : Tim Jatimnow   Reporter : Ali Masduki
Tampilan PV-Wind Turbin berbasis kendali cerdas karya Profesor Imam Abadi. (Foto: Humas ITS for jatim.com)
Tampilan PV-Wind Turbin berbasis kendali cerdas karya Profesor Imam Abadi. (Foto: Humas ITS for jatim.com)

jatimnow.com - Upaya mengurangi ketergantungan terhadap energi fosil terus didorong Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS). Guru Besar Departemen Teknik Fisika ITS Profesor Imam Abadi mengembangkan pembangkit listrik hybrid yang menggabungkan tenaga surya dan angin.

Teknologi bernama PV-Wind Turbin itu dirancang untuk menjaga pasokan listrik tetap tersedia dengan memanfaatkan dua sumber energi baru terbarukan (EBT) yang karakteristiknya saling melengkapi.

Inovasi tersebut dikembangkan di tengah tantangan ketahanan energi sekaligus persoalan akses listrik di sejumlah wilayah terpencil Indonesia.

“Indonesia kaya akan ladang angin dan sinar matahari yang konsisten sepanjang tahun. Kombinasi kedua potensi alami inilah yang kami pilih sebagai penyokong utama sistem energi terbarukan ini,” ujar Imam, Senin (10/8/2026).

Sistem hybrid itu bekerja dengan mengoptimalkan panel surya pada siang hari. Ketika malam tiba, turbin angin mengambil peran untuk tetap menghasilkan listrik.

Dengan menggabungkan dua sumber energi, sistem tersebut diharapkan mampu mengurangi ketergantungan pada satu sumber pembangkit sekaligus menjaga kontinuitas pasokan daya.

Salah satu komponen yang menjadi perhatian dalam inovasi tersebut adalah turbin angin vertikal berbentuk spiral atau helix savonius.

Turbin dipilih karena mampu beroperasi pada kecepatan angin yang relatif rendah. Kondisi itu dinilai sesuai dengan karakteristik angin di banyak wilayah Indonesia yang tidak selalu memiliki embusan kencang.

Imam menjelaskan, turbin tersebut memiliki cut-in speed rendah sehingga dapat mulai berputar ketika kecepatan angin mencapai sekitar 2,5 meter per detik.

“Kelebihan turbin jenis ini adalah sistem cut-in speed-nya yang rendah. Hanya dengan kecepatan angin 2,5 meter per sekon, generator sudah bisa berputar dan stabil menghasilkan tegangan listrik harian,” jelas pria kelahiran Lamongan, 1976, tersebut.

Tak hanya mengandalkan turbin angin, ITS juga membekali sistem dengan solar tracker. Teknologi itu memungkinkan panel surya bergerak otomatis mengikuti posisi matahari.

Pergerakan panel membuat permukaan panel tetap berada pada posisi optimal untuk menangkap radiasi matahari sepanjang hari.

Baca juga:
Atasi Tantangan Geografis, Guru Besar ITS Merancang Teknologi Otonom

Keunggulan lain terletak pada sistem kendali cerdas yang mampu beradaptasi ketika kondisi cuaca berubah.

Saat matahari tertutup awan, sistem tidak sekadar mengandalkan sensor cahaya. Teknologi tersebut dapat beralih menggunakan perhitungan astronomi untuk memperkirakan posisi matahari.

“Ketika langit mendadak mendung atau tertutup awan tebal, alat ini akan langsung mengalihkan mode deteksinya menggunakan jalur perhitungan astronomi,” kata Imam.

Menurut dia, kendali cerdas tersebut membuat panel tetap dapat bergerak menuju posisi matahari meskipun sensor mengalami keterbatasan akibat perubahan cuaca.

“Ketika kondisi mendung, kendali cerdas akan secara otomatis mengalihkan sistem ke soft sensor berbasis perhitungan astronomi agar panel surya tetap bergerak pada posisi ideal,” tambah dosen Laboratorium Pengukuran, Keandalan, Risiko, dan Keselamatan Departemen Teknik Fisika ITS itu.

Hasil pengujian lapangan menunjukkan teknologi tersebut mampu meningkatkan efisiensi listrik hingga 25,12 persen dibandingkan panel surya konvensional.

Baca juga:
Inovasi Cerobong Surya ITS Tawarkan Solusi Murah Transisi Energi Bersih

Capaian itu menjadi salah satu indikator bahwa penggabungan teknologi solar tracker, kendali cerdas, dan turbin angin berpotensi meningkatkan pemanfaatan energi terbarukan secara lebih optimal.

Pengembangan PV-Wind Turbin sekaligus memperkuat kontribusi ITS terhadap target Sustainable Development Goals (SDGs), terutama tujuan ke-7 tentang energi bersih dan terjangkau serta tujuan ke-12 mengenai konsumsi dan produksi yang bertanggung jawab.

Imam tidak ingin inovasi tersebut berhenti di laboratorium atau sebatas menjadi prototipe penelitian.

Ia membayangkan teknologi itu dikembangkan menjadi stasiun pengisian daya mandiri berbasis energi terbarukan yang dapat dimanfaatkan masyarakat secara gratis.

Fasilitas tersebut nantinya bisa digunakan untuk mengisi daya kendaraan listrik maupun mendukung kebutuhan operasional peralatan pertanian.

“Bagi seorang peneliti, kebahagiaan tertinggi adalah ketika melihat hasil karya teknologi yang dikembangkan dapat dirasakan manfaatnya seluas-luasnya oleh masyarakat,” pungkasnya.