Pixel Code jatimnow.com

Jejak Ilmu di Ujung Canting Batik Tulis Olive Kota Batu yang Menyeberangi Dunia

Editor : Redaksi   Reporter : Yanuar Dedy
Iwan, pemilik Batik Tulis Olive, sedang mengoreksi hasil canting batik Pita di salah satu sudut ruang kerja Batik Tulis Olive di Kota Batu. Iwan selalu memastikan batik karya mereka memiliki kualitas yang baik. (Foto-foto: Yanuar Dedy/jatimnow.com)
Iwan, pemilik Batik Tulis Olive, sedang mengoreksi hasil canting batik Pita di salah satu sudut ruang kerja Batik Tulis Olive di Kota Batu. Iwan selalu memastikan batik karya mereka memiliki kualitas yang baik. (Foto-foto: Yanuar Dedy/jatimnow.com)

jatimnow.com - Batik Tulis Olive di Kota Batu tak hanya membawa warisan budaya Nusantara menyeberangi batas negara. Bersama setiap lembar wastra yang sampai ke Australia, Korea Selatan, Rusia, hingga Swedia, ada jejak ilmu yang dibawa dari Pekalongan, Solo, dan Pamekasan, lalu ditularkan dari satu tangan ke tangan lainnya. Kemudian, ilmu itu hidup dan menghidupi warga.

Sekitar 300 meter dari jalan utama Oro-Oro Ombo, Kota Batu, riuh kota wisata perlahan hilang. Tersembunyi di ujung gang kecil di Kelurahan Temas, tangan-tangan kreatif sedang bekerja menciptakan karya.

Untuk menemukan mereka, pengunjung harus menyusuri jalur turunan berkelok menuju sebuah pintu kecil dengan akses masuk yang lebih rendah.

Sebuah titian dari papan tripleks yang ditopang dua batang bambu menjadi jalan menuju ruang kerja itu. Tak panjang, tetapi cukup untuk membawa siapa pun melewati batas antara hiruk-pikuk jalan dan ruang tempat batik dikerjakan dengan penuh ketelitian.

Begitu melewatinya, aktivitas para pekerja langsung terlihat. Ismanu (47), bersama sejumlah pekerja laki-laki sibuk mewarnai kain. Bejana besar di bawah tujuh jemuran tali tampar berwarna biru tengah disiapkan untuk proses lorot.

Sementara itu, Muslimah (40), Mistiah (50), Fitri (46), dan Pita Shona (30), larut dalam pekerjaan mereka, membatik dengan canting di teras bangunan besar tempat menyimpan mesin bordir, tepat di samping pohon mangga yang tengah berbuah lebat.

Canting ditiup, lalu bergerak perlahan. Malam panas ditorehkan sedikit demi sedikit mengikuti pola di atas kain yang digambar dengan pensil. Tidak ada gerakan yang tergesa. Setiap tarikan tangan seolah memiliki perhitungannya sendiri.

Di antara Fitri dan Pita, Iwan Achmad Irawan (60), berdiri memperhatikan hasil pekerjaan mereka. Sesekali matanya mengikuti gerakan canting, memastikan setiap proses berjalan sebagaimana mestinya.

Dari ruang sederhana yang cukup luas inilah karya-karya Batik Tulis Olive lahir. Dari tangan Iwan yang mengorkestrasi sekitar 16 pasang tangan kreatif di sana.

Iwan tidak lahir dengan bakat. Namun, eksistensi Batik Tulis Olive yang akrab dengan motif-motif flora khas Kota Batu cukup menjadi bukti kegigihannya selama ini.

Sebelumnya, ia mendatangi sejumlah sentra batik untuk memperdalam pengetahuannya. Pekalongan dan Solo menjadi sasaran pertama. Pamekasan juga menjadi salah satu tempat yang kemudian memberinya pengalaman penting dalam perjalanan membatik.

Ia belajar dari orang-orang yang telah lebih dulu hidup bersama tradisi batik. Bagi Iwan, perjalanan itu bukan sekadar mencari teknik membuat kain. Ia sedang mengumpulkan bekal yang kelak dibawanya pulang ke Batu.

Semua berawal dari pertemanannya dengan kolektor wastra asal Amerika Serikat pada akhir 1990-an. Hati Iwan bergejolak. Sebagai orang Indonesia, ia merasa malu karena justru tidak mengenal budaya Nusantara tersebut. Mulailah ia belajar.

“Dia orang Amerika asli, memang kolektor dan pemerhati wastra, pemerhati batik, songket, tenun, punya galeri di Amerika. Saya berpikir, orang Amerika saja, orang luar begitu perhatian dengan wastra Indonesia, terutama batik. Saya orang Indonesia, dari Jawa, kok malah belum tahu. Dari situ saya mulai belajar batik,” ujar Iwan sembari mengoreksi goresan tangan Pita, yang saat itu tengah mengerjakan batik dengan motif anggrek, Rabu, 19 Agustus 2026.

Lalu, saat sang kolektor tidak menemukan batik yang cocok, Iwan pun nekat menawarkan diri. Batik pertamanya memiliki motif daun-daunan, bergaya jadul dengan warna yang tidak mencolok. Dan pria itu suka.

“Saya menawarkan, daripada dia ke beberapa perajin batik, enggak ada yang cocok dari segi desain atau warna. Saya tahu tastenya. Akhirnya saya buatkan. Awal itu seri daun-daunan, daun singkong, daun pakis, pokoknya yang unik-unik,” ceritanya.

Iwan melanjutkan, dari Pamekasan ia kemudian membawa Muslimah dan Mistiah untuk bekerja bersamanya, membangun Olive, yang diambil dari nama anaknya, Oliver.

Keduanya bukan hanya membantu proses produksi. Mereka juga menjadi penghubung antara pengetahuan yang telah lama hidup di Pamekasan dengan orang-orang yang baru mulai mengenalnya di Batu.

“Saya bawa beberapa pembatik dari Pamekasan untuk mengajarkan warga yang di sini. Karena memang dulu enggak ada yang ngerti batik di sini,” jelas Iwan.

Muslimah dan Mistiah adalah pembatik asli Pamekasan yang masih bertahan hingga saat ini, sejak Iwan resmi membuka usahanya pada 2000. Mereka sukses mencetak puluhan pembatik dari Batu yang kini karyanya tidak hanya disukai pasar domestik, tetapi sampai ke tangan pecintanya di Australia, Korea Selatan, Rusia, hingga Swedia.

“Saya dari tahun 2000 di sini, dibawa bos (Iwan) dari Pamekasan. Jadi saya tahu, awal itu bos door to door menjual batiknya. Dititipkan ke toko-toko juga. Saya memang dari SD sudah belajar batik, lalu di sini ikut ngajari orang-orang,” kata Muslimah.

Tak sekadar hidup di Batu, jejak ilmu itu juga menghidupi warga sekitar. Pita dan Fitri adalah bagian dari mereka yang kemudian belajar.

Bukan melalui buku. Dari Muslimah dan Mistiah, mereka mengenal cara memegang canting, mengatur aliran malam, mengikuti pola, hingga memahami tahapan panjang yang harus dilalui sebuah kain sebelum menjadi batik.

Fitri (kanan) dan Pita (tengah) sedang fokus membatik di ruang kerja Batik Tulis Olive. Mistiah (kiri), pembatik asal Pamekasan adalah guru bagi mereka.Fitri (kanan) dan Pita (tengah) sedang fokus membatik di ruang kerja Batik Tulis Olive. Mistiah (kiri), pembatik asal Pamekasan adalah guru bagi mereka.

“Iya, saya belajar dari Mbak Muslimah dan Bu Mistiah. Dulu awalnya bagian tutup malam, terus membatik,” aku Pita, yang hanya membutuhkan waktu tiga bulan untuk menguasai masing-masing tahapan membatik itu.

Tidak berhenti sebagai pengetahuan, ilmu ini berubah menjadi keterampilan bagi orang lain. Kemudian berubah menjadi penghidupan. Pita merasakan berkah dari pekerjaan ini.

“Ya alhamdulillah bisa bantu keluarga,” ucap Pita bersyukur. Ia baru saja menikah dan melahirkan. Hasilnya bisa membantu suami yang bekerja sebagai pengantar ayam di sebuah peternakan.

Sebelas tahun perjalanan Pita bersama Batik Tulis Olive menunjukkan betapa usaha ini mampu memberdayakannya. Pita mengakui, Iwan tak hanya memberikan gaji bulanan dari batik yang ia hasilkan. Makan ditanggung, lembur diganjar dengan upah tambahan.

Fitri lebih lama lagi. Secara ekonomi, ia merasa membatik lebih menjanjikan daripada pekerjaan lamanya di sebuah toko kelontong.

Baca juga:
Jawab Isu Kelangkaan Gas LPG 3 Kg di Jember, Pertamina Ancam Agen Nakal

“Secara ekonomi ya alhamdulillah, dibandingkan pekerjaan saya dulu ini lebih enak. Dari segi waktu juga saya enggak keteteran lagi, masih bisa urus keluarga. Dulu jaga toko, harus berangkat pagi, anak belum sarapan,” ucap Fitri, yang bersyukur tidak lagi kehilangan perannya sebagai ibu meski harus bekerja membantu keluarga.

Fitri pun tidak ragu memuji Muslimah dan Mistiah yang membuatnya menemukan dan mencintai pekerjaan ini.

Muslimah dan Mistiah pun merasakan dampak ekonomi yang sama. Penghasilan yang didapatkan di Batu cukup untuk dikirimkan kepada keluarga mereka di kampung halaman.

“Alhamdulillah bisa kirim uang untuk saudara di Pamekasan,” kata Mistiah. Bersama Muslimah, ia tinggal di sana. Iwan menyediakan mes gratis untuk mereka.

Perjalanan Panjang Batik Tulis Olive

Cerita Muslimah soal cara Iwan mengenalkan karyanya adalah bagian kecil dari perjalanan panjang Batik Tulis Olive. Pada awal merintis, proses pembuatannya pun tak kalah melelahkan.

Salah satunya adalah lorot, proses menghilangkan malam dari kain setelah tahapan pewarnaan. Ismanu bercerita, dulu proses tersebut mengandalkan kayu bakar yang sulit didapat. Proses pun berlangsung hingga seharian penuh. Asap pembakaran memenuhi ruang kerja. Mata para pembatik terasa perih.

“Dulu awal pakai kayu bakar itu susah. Terus kalau hujan, semakin susah. Nangis-nangis kita ketika pakai kayu bakar itu, karena asapnya luar biasa, hitam semua,” kenang Ismanu.

Ismanu bersama pekerja lain sedang mewarnai kain di salah satu sudut ruang kerja Batik Tulis Olive. Dia merupakan salah satu pekerja yang masih bertahan sejak awal Iwan membangun usaha ini. Menguasai seluruh tahapan batik, dia tak segan menularkan ilmunya kepada para pekerja muda.Ismanu bersama pekerja lain sedang mewarnai kain di salah satu sudut ruang kerja Batik Tulis Olive. Dia merupakan salah satu pekerja yang masih bertahan sejak awal Iwan membangun usaha ini. Menguasai seluruh tahapan batik, dia tak segan menularkan ilmunya kepada para pekerja muda.

Perjuangan mereka belum selesai meski telah beralih ke era minyak tanah. Kompor jos yang mereka gunakan sering kali menguras tenaga.

“Setelah kayu bakar kita pakai minyak tanah, pakai kompor jos kayak orang buat nasi goreng itu. Sudah agak baikan, cuma ya tetap lama. Soalnya ketika tekanannya itu berkurang, kita harus pompa lagi. Pompa lagi gitu,” keluh Ismanu sembari terkekeh.

Transisi energi dari minyak tanah ke gas kemudian menjadi napas baru bagi para pekerja. Proses membatik menjadi lebih cepat. Menurut Ismanu, proses lorot yang awalnya menghabiskan waktu seharian penuh bisa dipangkas menjadi hanya setengah hari untuk 50 potong kain berukuran 2 meter yang masing-masing dibanderol dengan harga Rp150 ribu hingga Rp4 juta.

“Beralih ke gas itu kita lebih enteng. Dulu awal pakai yang biru, sekarang kita pakai pink (Bright Gas) ini. Lebih cepat, air itu sudah panas cukup tiga sampai empat jam,” lanjut Ismanu.

Selain waktu, proses yang cepat juga mampu memangkas biaya produksi. Kain-kain yang dihasilkan pun lebih banyak sehingga mempertebal omzet Batik Tulis Olive.

“Kalau kita semakin cepat prosesnya, perputaran uangnya pasti cepat juga. Kalau lama ya biaya operasionalnya kan juga semakin banyak yang dikeluarkan nanti,” terang Ismanu.

Baca juga:
Pertamina Jatim Gercep Tangani Keluhan BBM, Wagub Jamin Layanan Cepat

Seiring transisi energi itu, usaha Batik Tulis Olive terus berkembang pesat. Mereka memiliki 60 karyawan yang menghasilkan ratusan potong kain setiap bulannya.

Sampai akhirnya badai pandemi COVID-19 menghantam usahanya. Pesanan menurun drastis, banyak karyawan terpaksa dirumahkan.

Saat krisis inilah Iwan bertemu dengan Pertamina. Dua kali suntikan modal dengan total Rp250 juta cukup membuatnya perlahan kembali bangkit tanpa pusing memikirkan bunga yang mencekik.

Pendamping UMKM, CSR, dan SMEPP Pertamina Patra Niaga Jatimbalinus, Prina Widia, mengatakan dukungan kepada Iwan tak sebatas bantuan modal. Mereka juga melakukan pembinaan serta memberikan kesempatan mengikuti pameran.

“Awalnya memang hanya peminjaman modal, tapi kita tetap memberikan pembinaan. Salah satunya pemasaran secara online yang membuat Pak Iwan perlahan bangkit,” kata Prina, yang bangga dengan perjalanan Iwan dan Batik Tulis Olive.

Saat ini, Batik Tulis Olive sudah menyandang sertifikat halal melalui sertifikasi yang juga difasilitasi oleh Pertamina.

“Selain pembinaan dan akses pameran, kita juga fasilitasi sertifikasi. Jadi ketika ikut pendampingan, kita lakukan penilaian. Ada tesnya, kebetulan Pak Iwan lolos terus, jadi kita bisa fasilitasi sertifikat,” jelas Prina.

Tidak sulit bagi Prina dan tim sertifikasi untuk melabeli Batik Tulis Olive dengan status halal, mengingat karya Iwan banyak menggunakan pewarna alami.

Menurut Prina, Iwan sering bereksperimen menggunakan tumbuhan yang ada di sekitar, seperti daun dan kayu nangka, daun mangga, daun kelengkeng, daun jati, serta mahoni, di samping pewarna sintetis yang juga sudah dikontrol sejak awal.

“Awalnya ya karena itu (pewarna alami), yang bikin Pertamina tertarik untuk melakukan pendampingan. Sampai sekarang alhamdulillah Batik Tulis Olive sudah mulai bangkit lagi. Dari pameran-pameran yang kita fasilitasi mulai dapat buyer, awalnya lokal, kita tarik nasional, sekarang alhamdulillah pasar internasionalnya semakin luas,” aku Prina. Terbaru, Batik Tulis Olive tampil dalam pameran di Maroko dan Spanyol.

Sekarang, meski utang modal Iwan sudah lunas, pendampingan Pertamina tidak berhenti. Akses pameran tetap diberikan untuk terus memasarkan karya Iwan lebih luas lagi.

“Sekarang sudah ada produk turunannya, baju, outer. Kemarin Pak Purbaya (Menteri Keuangan RI), Pak Jokowi (mantan Presiden RI) juga pakai batik dari Pak Iwan. Sekarang lagi bikin celana. Dan akan terus kita dorong, ayo Pak bikin apa lagi, bikin apa lagi, begitu,” terangnya. Prina pun memastikan komitmen Pertamina untuk terus mendukung pertumbuhan Batik Tulis Olive, termasuk UMKM lainnya.

Mungkin begitulah sebuah tradisi bertahan. Bukan hanya karena kainnya terus dibuat, tetapi karena ilmunya terus berpindah, dari satu tangan ke tangan lainnya.

Dan di Batik Tulis Olive, jejak itu kini tak hanya tertinggal di atas kain, tetapi juga tumbuh dalam kehidupan orang-orang yang menjaganya.