Sate Gebug Kota Malang yang Melegenda

Pengunjung menikmati Sate Gebug

jatimnow.com - Sate Gebug yang berada di bangunan cagar budaya di Jalan Basuki Rahmad Nomor 113 A, Klojen, Kota Malang menjadi jujukan warga untuk berburu kuliner.

Tempat makan yang berdiri sejak tahun 1920, hingga kini masih eksis di tengah himpitan tempat-tempat kuliner lainnya. Pengelola Sate Gebug, Achmad Kabir (24) merupakan generasi keempat dari usaha turun temurun keluarganya.

Kabir menceritakan awal mula perjuangan buyutnya yang bernama Yahmun merintis usaha kuliner Sate Gebug sejak tahun 1920 di masa pemerintahan Hindia Belanda.

"Dari awal jualan Sate Gebug memang di sini, bangunannya ya tidak pernah berubah, sama dengan awal tahun 1920. Hanya penambahan sedikit di depan," kata Kabir, Minggu (27/1/2019).

Yahmun membuat usaha Sate Gebug bersama istri yang bernama Karbo Ati. Keduanya kala itu membeli sebuah bangunan bekas pabrik es milik perusahaan asal Belanda di Kota Malang, yang difungsikan sebagai tempat jualan Sate Gebug.

"Kakek Yahmun aslinya Malang, tapi kalau Mbah Karbo Ati aslinya Pasuruan, sempat tinggal di Solo juga. Dari situ Mbah terinspirasi ide membuat sate mirip Sate Buntel di Solo, tapi kalau ini pakai daging sapi bukan kambing dengan bumbu dan cita rasa Malang pastinya. Dari dulu ya jualannya di sini," jelasnya.

Menurutnya, perpaduan antara resep Solo dengan Malang membuat bumbu-bumbu Sate Gebug mempunyai ciri khas yang unik dan khas. Resep itu yang terus menerus diwariskan ke generasi-generasi berikutnya.

Mulai dari sang istri Mbah Karbo Ati, generasi ketiga Tjipto Sugiono dan istrinya Rusni Yati Badare, hingga Achmad Kabir yang merupakan anak dari keduanya sekaligus generasi keempat penerus usaha warisan keluarga ini.

"Dari dulu memang resep masakannya tidak berubah, diwariskan sejak kakek nenek buyut ke bapak dan ibu, terus ke saya hingga saat ini," ungkapnya.

Kabir menjelaskan dirinya dapat meracik resep dan bumbu Sate Gebug yang khas berkat didikan ayahnya Tjipto Sugiono.

"Awalnya sama bapak itu, anak-anaknya diajak ke pasar. Kebetulan saudara saya lima dan saya nomor dua. Jadi dilatih dulu, merasakan aroma bawang, jahe, laos. Intinya mendidik untuk insting citra rasa masakan dululah," ujarnya.

Setelah terbiasa dengan aroma-aroma bumbu masakan tersebut, ayahnya mulai mengajarkan untuk meracik resep Sate Gebug sendiri sejak dirinya kelas 5 sekolah dasar.

"Jadi kalau rasanya tidak enak sama bapak langsung dibuang, karena kalau makanan menakar dan mengolah resepnya kurang atau salah tidak bisa diperbaiki. Jadi melatih insting meracik bumbu terlebih dahulu," katanya.

Nama Sate Gebug sendiri, menurut cerita ayah dan kakeknya karena proses daging sapi yang 'digebug' alias dipukul terlebih dahulu supaya empuk. Meski daging sapi dikenal alot, di tangan keluarganya daging tersebut lembut usai dilakukan proses pembakaran.

"Bahannya dari daging lulur atau daging di sekitar tulang belakang sapi. Dari sana 'digebug' terlebih dahulu kemudian dibuntel lalu dibakar. Tak lupa bumbunya juga dicampurkan, tapi untuk bumbu dan cara menggebug-nya rahasia," jelas Kabir yang mengaku membutuhkan 20 hingga 40 kilogram daging sapi.

Selain satenya yang khas, ada menu-menu kuliner lainnya yang masih berkaitan dengan daging sapi. Mulai dari soto, rawon, dan sup kuah. Bagi yang ingin mencicipi kuliner legendaris Malang ini, siapkan kocek mulai dari Rp 15 ribu hingga Rp 30 ribu.

"Kalau Sate Gebug yang tanpa lemak harganya Rp 30 ribu per porsi, kalau dengan lemak Rp 25 ribu. Untuk rawon, soto, dan sup dengan nasi Rp 15 ribu. Kalau rawon, sop, dan sotonya dipisah tanpa nasi seharga Rp 25 ribu," kata Kabir yang juga mahasiswa salah satu PTN di Kota Malang ini.

Loading...

Salah satu pembeli Sate Gebug, Sofyan Adi Candra (25) mengatakan kuliner ini memiliki rasa yang khas. Oleh karena itu, dirinya menyempatkan diri dari Surabaya ke Kota Malang untuk mencoba kuliner Sate Gebug.

"Sate Gebug ini wajib dicoba apalagi kalau di Malang, kuliner ini legendaris. Rasanya enak dan khas, saya dapat rekomendasi teman akhirnya coba ke sini. Pokoknya kalau ke Malang wajib ke sini," kata Candra.

 

Berita Terkait