Tanah Gerak Gembes Dinyatakan Berbahaya, Warga Harus Direlokasi

Editor: Erwin Yohanes / Reporter: Mita Kusuma

ilustrasi rambu rawan longsor/net

jatimnow.com - Tim Pusat Vulkanologi Mitigasi dan Bencana Geologi (PVMBG) memastikan, jika tanah yang ada di kawasan Dusun Gembes, Kecamatan Slahung, Ponorogo, berbahaya.

Hal ini berarti, 11 rumah yang ada di tanah tersebut, rawan tertimpa longsor yang sewaktu-waktu dapat terjadi.

Mereka pun merekomendasikan agar warga di tempat tersebut, direlokasi ke tempat yang lain.

"Longsorannya kami lihat sudah membentuk tapal kuda. Artinya kalau sudah seperti itu kondisinya sudah kritis,’’ jelas Sumaryono, ketua tim survei PVMBG Bandung, dihubungi jatimnow.com.

Apalagi, menurut informasi yang dia terima dari warga setempat, ketika turun hujan air yang mengalir selalu bercampur dengan lumpur. Hal itu menunjukkan, bahwa bidang gelincir tanah juga sudah mulai mengalami erosi.

"Harus segera direlokasi, terutama warga yang tinggal di lereng Gunung Gembes tepatnya arah timur laut. Jumlahnya kalau nggak salah ada 11 rumah, 4 rumah di lingkungan Salam dan 7 rumah di lingkungan Duren,’’ paparnya.

Sumaryono mengaku berat untuk menyampaikan keputusan tersebut. Namun, dia sudah meyakini hasil analisa sementara yang dia peroleh tak akan beda jauh dengan yang dilaporkan ke kantornya nanti.

Bahkan dia juga menyebut tidak perlu menunggu hasil kajian lebih lanjut untuk merekomendasikan 11 rumah itu agar dipindahkan.  "Karena memang kondisinya sudah sangat kritis menurut kami," ungkapnya.

Ia menjelaskan, pantauan global pergerakan tanah hingga saat ini sudah mencapai setengah meter sampai satu meter lebih.

Itu terlihat di beberapa titik dan sangat bervariasi. Sedangkan kemiringan lerengnya mencapai sekitar 30 derajat.

Dia juga menyebut pergerakan tanah yang terjadi selama ini tidak linier. Jika perkembangannya linier, menurut dia akan lebih berbahaya lagi.

"Tapi kewenangan mengenai relokasi itu sepenuhnya ada di pemerintah daerah. Saya harap secepatnya,’’ ujarnya.

Sebab, jika hujan terus turun dengan intensitas tinggi kemungkinan besar akan terjadi longsor yang menimpa 11 rumah tersebut.

Sedangkan untuk rumah atau keluarga lain, bisa kembali menempati rumahnya masing-masing.

Kendati dia juga menyampaikan pesan agar warga tetap waspada terutama saat hujan turun. "Nanti BPBD yang akan menyampaikan hasil survei ini kepada warga,’’ jelasnya.

Selain di Gembes, tim PVMBG juga meninjau lokasi tanah retak di Dusun Genuk, Senepo. Berbeda dengan Gembes, menurut Sumaryono tanah retak di Genuk relatif lebih aman.

Dia menerangkan bahwa hasil analisa sementara menujukkan lapisan tanah pada lereng gunung setempat lebih tipis. Selain itu struktur di bawahnya juga bebatuan.

Sehingga jika terjadi longsor, kemungkinan hanya lapisan tanah bagian atas. "Menurut kami tidak begitu berbahaya, tapi tetap harus hati-hati,’’ ungkapnya.

Sumaryono menambahkan pada lereng gunung di Genuk juga terdapat aliran sungai dari mata air. Jika longsor, kemungkinan besar materialnya akan mengikuti alur aliran sungai tersebut.

"Sehingga tidak akan berdampak pada permukiman penduduk yang jaraknya sekitar seratusan meter. Jika ada yang harus direlokasi, hanya satu rumah yang berada paling dekat dengan retakan pada lereng gunung tersebut," katanya.

Untuk wilayah Genuk, lanjut Sumaryono, kondisi bahaya longsor bisa diamati dari kondisi tegakan pohon pinus.

Jika nanti pohon pinus yang berada di lereng gunung itu berubah miring semua artinya bakal terjadi longsor.

Sedangkan untuk rumah yang mengalami retakan di dusun setempat, menurut dia itu tidak berbahaya karena hanya dampak dari jaraknya yang dekat dengan aliran sungai.

"Memang seharusnya untuk rumah di wilayah seperti itu dibuat semi permanen atau pindah. Tapi itu tergantung warga nanti bagaimana," paparnya.

Reporter: Mita Kusuma

Editor: Erwin Yohanes

jatimnow.com menyajikan pemberitaan di daerah Jawa Timur dan sekitarnya, menyajikan berita yang dikemas dengan apik tanpa mengabaikan nilai-nilai jurnalisme.

Jalan Jimerto No. 17a Surabaya

Call:  (031) 99248116

Email: jatimnow@gmail.com

Newsletter