jatimnow.com – Mahasiswa Institut Sains dan Teknologi Terpadu Surabaya (Institut STTS) membuktikan taringnya di kancah teknologi nasional.
Dalam ajang Flutter Fusion Competition 2026 yang berlangsung Senin (23/2), dua tim dari kampus ini berhasil menyabet gelar juara melalui inovasi aplikasi yang menjawab kebutuhan sosial masyarakat, mulai dari perawatan lansia hingga digitalisasi pendidikan.
Tim pertama yang digawangi Alexander Erick, Kevin Jonathan Halim, dan Jenny Elizabeth Alim sukses mengamankan posisi Juara 2. Mereka mengusung aplikasi bertajuk "Teman Keluarga".
Platform ini lahir dari keresahan anak muda yang sulit memantau kesehatan orang tua di tengah kesibukan.
Lewat fitur Medication Reminder dan tombol SOS, aplikasi ini memastikan lansia mendapatkan penanganan cepat saat darurat.
"Kami mengintegrasikan Friend with AI dan Family Chat Room agar interaksi keluarga tetap hangat meski terhalang jarak," ujar Erick, perwakilan tim ISTTS.
Tak berhenti di situ, prestasi juga datang dari duet Given Lee dan Adeltrudo Donal. Melalui "Belajar Bareng App", mereka meraih Juara 3.
Baca juga:
Gak Perlu Ngetik Manual, Gemini 3.1 Pro Pangkas 80 Persen Kerja Coding Developer
Aplikasi ini bukan sekadar Learning Management System (LMS) biasa, melainkan sudah dibekali kecerdasan buatan Gemini untuk pembuatan kuis otomatis serta pelacakan GPS real-time guna memantau kehadiran siswa secara akurat.
Kompetisi besutan GDG Surabaya dan Flutter Surabaya ini melibatkan juri kelas dunia, termasuk Joshua de Guzman dari Filipina dan Sidiq Permana (Google Developer Expert).
Penilaian mutlak didasarkan pada seberapa besar dampak sosial dan kematangan teknologi yang digunakan peserta.
Pada posisi puncak, tim "Pemburu Biji" dari UNESA keluar sebagai Juara 1 melalui aplikasi kesehatan NantiFit yang mendukung program Sustainable Development Goals (SDGs).
Baca juga:
Pakar Google Dunia Bedah Masa Depan Coding di FlutterFusion Conference 2026
Disusul oleh tim YesKing dari ITB Widyagama Lumajang di posisi Harapan 1, serta tim dari PENS di posisi Harapan 2.
Keberhasilan mahasiswa Surabaya dalam kompetisi ini menjadi sinyal kuat bahwa ekosistem talenta digital lokal semakin matang.
Pemanfaatan teknologi seperti Computer Vision dan Multi-layer AI yang ditampilkan para peserta menunjukkan bahwa inovasi bukan lagi sekadar teori di ruang kelas, melainkan solusi nyata yang siap masuk ke pasar digital.