Sungai Lereng Raung Alirkan Lumpur hingga Berdampak ke Selat Bali

Editor: Arif Ardianto / Reporter:

Polisi Songgon bersama warga tinjau penyebab banjir lumpur.

jatimnow.com - Aliran sungai yang berasal dari lereng Gunung Raung yang mengalirkan lumpur bercampur tanah, ternyata berdampak hingga ke daerah hulu yang berada di wilayah Kecamatan Blimbingsari.

Dulunya, aliran air yang berada di Sungai Badeng, Kecamatan Songgon, jernih. Namun, sudah 7 bulan lebih ini berubah warna menjadi cokelat kemerahan. Aliran air itu terus mengalir ke Sungai Bati, Kecamatan Singojuruh yang bermuara di Selat Bali.

Kepala Bidang Kedaruratan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Banyuwangi, Eka Muharram Suryadi menjelaskan, material tersebut berasal dari longsoran di Bukit Pendil kawasan Gunung Raung.

Material itu masuk ke daerah aliran sungai (DAS) Badeng dan anak-anak sungai hingga ke daerah hulu.

Dari pantauan peta satelit, diketahui bahwa di daerah hulu telah terjadi longsor yang diakibatkan pergeseran tanah dengan kemiringan 45 derajat.

Diperkirakan, pergerakan tanah tersebut juga merusak tanah seluas 100 meter persegi di kawasan hutan lindung, dengan pohon-pohon besar berdiameter lebih dari 1 meter turut ambrol. 

Titik lokasi longsor tersebut terjadi di bukit perbatasan Situbondo-Banyuwangi atau di radius 3 kilometer wisata air terjun Telunjuk Raung di Desa Sumberarum, Kecamatan Songgon, dan masuk kawasan Banyuwangi 

"Awal September 2017, dianggap ada longsoran kecil seperti yang biasa terjadi di Sungai Badeng. Januari warga mulai berpikir, kok tidak berhenti. Lalu warga memastikan bahwa yang terseret adalah material lumpur dari longsoran yang berasal dari gerakan tanah di Gunung Pendil," kata Eka di Banyuwangi, Jumat (13/4/2018).

Akibatnya, sekitar 100 petani sayur selada di daerah Songgon tidak lagi dapat menanam sayuran. Padahal, selama ini kualitas selada di sana merupakan yang terbaik dan dikirimkan ke pasar-pasar lokal, Bali, Jember dan Surabaya.

Selain itu, sedikitnya ada 2 obyek wisata sungai seperti rafting dan tubing di Sungai Badeng kini mengalami penurunan kunjungan wisatawan.

Hal itu diperparah dengan kondisi sungai yang mengalami pendangkalan dan berdampak negatif pada saluran irigasi pertanian yang bersumber dari DAS Badeng. 

Eka menjelaskan, penanganan fenomena pergeseran tanah ini perlu hadirnya tenaga ahli untuk melakukan kajian penyebabnya, kandungan air, hingga cara penanganan yang tepat. 

Untuk itu, pihaknya melibatkan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Bandung dalam melakukan kajian.

"Kalau kita belum punya tenaga ahli analis seperti itu. Ini peristiwa geologi, bukan vulkanologi, Bidang Geologi PVMBG yang akan melakukan kajian," paparnya. 

Berdasarkan pantauan di lapangan, meski berwarna keruh, air sungai Bati masih digunakan warga Dusun Cantuk Lor, Desa Cantuk, Kecamatan Singojuruh, untuk kegiatan mandi, cuci, kakus (MCK). 

Ketua Rt/Rw 3/1 Desa Cantuk, Ashadi (58) mengatakan, ketika tidak banjir lumpur, sebagian warga melakukan pengerukan sedimen sungai, walaupun pendangkalan sungai terus terjadi. 

Dulu di waktu normal, kedalaman sungai seukuran pinggang orang dewasa. Namun kini, di titik-titik tertentu hanya se-mata kaki.

"Sawah yang dialiri air keruh ini juga berubah. Dulu seperempat hektare menghasilkan 10 karung padi waktu panen, sekarang cuma 3 karung saja. Nggak tahu disebabkan air keruh ini atau ada sebab lain," pungkas Ashadi.

 

Reporter: Hafiluddin Ahmad

Editor: Arif Ardianto

jatimnow.com menyajikan pemberitaan di daerah Jawa Timur dan sekitarnya, menyajikan berita yang dikemas dengan apik tanpa mengabaikan nilai-nilai jurnalisme.

Jalan Jimerto No. 17a Surabaya

Call:  (031) 99248116

Email: jatimnow@gmail.com

Newsletter